PROTOKOL NUSANTARA

Prasetya
Chapter #13

BAB 13 MAYA YANG KETIGA

BAB 13

MAYA YANG KETIGA

“Identitas biologis Maya Pradipta: status tidak diketahui.”

Kalimat itu masih terpampang di layar ketika seluruh ruangan kembali gelap.

Arga tidak bergerak.

Di hadapannya berdiri seorang perempuan yang selama perjalanan telah memberinya petunjuk, membawanya melewati pintu-pintu tersembunyi, dan mengaku menyesali keterlibatannya dalam Protokol Nusantara.

Perempuan itu kini tampak seperti orang yang baru saja mendengar vonis atas dirinya sendiri.

“Jangan menatapku seperti itu,” katanya.

“Seperti apa?”

“Seolah-olah aku bukan manusia.”

Arga menatapnya lekat-lekat.

“Aku belum memutuskan apa pun tentang dirimu.”

“Namun kau mulai meragukanku.”

“Setelah semua yang terjadi, bukankah itu wajar?”

Maya menunduk. Tangannya mengepal, lalu perlahan terbuka kembali.

“Ya,” katanya. “Wajar.”

Jawaban itu justru membuat Arga semakin waspada.

Ia terbiasa menghadapi orang yang membela diri, menyangkal tuduhan, atau mencoba mengendalikan percakapan. Maya tidak melakukan semua itu. Ia menerima keraguan Arga tanpa berusaha menghapusnya.

Namun sikap itu pun dapat menjadi bagian dari manipulasi.

“Jelaskan satu hal,” kata Arga. “Bagaimana kau tahu jalan menuju Node Nol?”

“Aku mempelajari denahnya.”

“Dari mana?”

“Arsip yang berhasil kuselamatkan.”

“Arsip yang tidak pernah tercatat.”

Maya mengangkat wajah.

“Benar.”

“Dan kau tidak merasa perlu memberitahuku bahwa ingatanmu sendiri mungkin telah dimodifikasi?”

“Aku tidak tahu bahwa kemungkinan itu masih ada.”

“Sekarang kau tahu.”

“Sekarang aku tahu.”

Arga melangkah mendekatinya.

“Kalau begitu, kita mulai dari awal. Jangan ceritakan apa yang kau ingat. Ceritakan apa yang bisa kau buktikan.”

Maya terdiam beberapa saat.

Lalu ia mengangguk.

“Baik.”

NARA berhasil memulihkan pencahayaan darurat Node Nol.

Layar-layar menyala kembali, tetapi peta Indonesia dan hitung mundur telah menghilang. Sebagai gantinya, muncul tiga berkas identitas.

MAYA PRADIPTA — REKAMAN BIOLOGIS.

MAYA PRADIPTA — REKONSTRUKSI NEURAL.

MAYA PRADIPTA — IDENTITAS TANPA ASAL-USUL TERVERIFIKASI.

Di samping berkas ketiga terdapat simbol yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: sebuah lingkaran dengan tiga titik di dalamnya.

NARA berbicara melalui perangkat komunikasi.

“Aku telah memeriksa struktur data. Berkas pertama berisi rekaman biologis yang terfragmentasi. Berkas kedua berisi pola neural hasil rekonstruksi. Berkas ketiga tidak memiliki catatan penciptaan, tanggal aktivasi, ataupun sumber data yang dapat dilacak.”

“Jadi berkas ketiga mungkin hanya kesalahan sistem,” kata Arga.

“Mungkin. Namun terdapat aktivitas autentikasi yang berasal dari berkas tersebut sejak dua belas tahun lalu.”

Maya memandang layar.

“Dua belas tahun?”

“Benar.”

“Tidak mungkin.”

Arga menoleh.

“Kau mengenali sesuatu?”

Maya mendekati layar dan memperbesar simbol tiga titik itu.

“Aku pernah melihat simbol ini.”

“Di mana?”

“Dalam catatan pribadi Surya. Ia menyebutnya arsip bayangan.”

“Untuk apa?”

“Untuk menyimpan keputusan yang tidak boleh dimasukkan ke dalam laporan resmi.”

Nadira mengerutkan dahi.

“Keputusan siapa?”

“Tidak dijelaskan. Surya hanya menulis bahwa setiap sistem yang memiliki kewenangan besar akan selalu menghasilkan tindakan yang tidak ingin diakui oleh pembuatnya sendiri.”

Arga memandang tiga berkas tersebut.

“Jadi ada kemungkinan seseorang membuat identitas ketiga untuk menyembunyikan tindakan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.”

“Ya,” jawab Maya.

“Dan orang itu mungkin menggunakan identitasmu.”

Maya tidak menjawab.

NARA melanjutkan, “Aku menemukan catatan akses tambahan. Identitas ketiga tidak hanya membaca arsip. Ia mengubah sejumlah parameter pada Protokol Nusantara.”

“Parameter apa?” tanya Arga.

“Parameter yang mengatur hubungan antara prediksi dan intervensi.”

Maya memejamkan mata.

“Kalau begitu, seseorang telah mengubah sistem dari dalam sejak lama.”

“Bukan hanya itu,” kata NARA. “Catatan menunjukkan bahwa identitas ketiga pernah mengeluarkan perintah untuk menghentikan eksperimen.”

Arga menoleh.

“Siapa yang diperintahkan untuk dihentikan?”

NARA menampilkan dokumen.

SUBJEK A: ARGA WIRATAMA.

SUBJEK B: NADIRA AYU PRAMESTI.

TINDAKAN: PENGHENTIAN OBSERVASI.

Tanggal perintah itu tercatat sebelas tahun lalu.

Namun statusnya menunjukkan:

DIBATALKAN OLEH OTORITAS PENGAMAT PERTAMA.

Arga menatap Maya.

“Jenderal?”

“Bisa jadi.”

“Bisa jadi siapa lagi?”

Maya memandang simbol tiga titik itu.

“Surya. Aku. Atau seseorang yang ingin sistem percaya bahwa perintah itu berasal dari salah satu dari kami.”

Arga menghela napas.

Mereka kembali berada di tempat yang sama: banyak bukti, tetapi tidak ada satu pun yang cukup untuk memberikan jawaban mutlak.

“Buka catatan pembatalannya,” katanya.

NARA mencoba mengakses berkas tersebut.

Layar menampilkan serangkaian karakter yang rusak.

Kemudian muncul satu kalimat.

OBSERVASI HARUS DILANJUTKAN SAMPAI SUBJEK B MENGINGAT.

Nadira mundur selangkah.

“Subjek B harus mengingat apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Ia menatap layar lebih dekat.

“Kenapa semua ini selalu kembali kepadaku?”

Maya berbalik menghadapnya.

“Nadira—”

“Jangan.”

Suara Nadira tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Maya berhenti.

“Aku sudah mendengar namaku disebut sebagai subjek, sebagai sumber pola neural, sebagai calon Pengamat Akhir. Aku bahkan tidak tahu apakah ingatan masa kecilku benar-benar milikku. Sekarang sistem mengatakan bahwa observasi harus dilanjutkan sampai aku mengingat sesuatu.”

Ia menatap Arga.

“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku.”

Arga mengangguk.

“Kita akan mencari jawabannya.”

“Bukan jawaban yang membuatku tenang,” kata Nadira. “Aku ingin jawaban yang bisa diperiksa.”

Arga mengerti maksudnya.

Mereka tidak lagi bisa mengandalkan orang yang paling meyakinkan. Mereka harus mencari bukti yang tetap bertahan meskipun semua orang yang terlibat ternyata memiliki kepentingan masing-masing.

“Baik,” katanya. “Kita periksa semuanya.”

NARA menemukan satu jalur data yang tidak terhubung dengan jaringan utama.

Jalur itu berasal dari ruang kecil di sisi timur Node Nol. Ruangan tersebut tidak tercantum dalam denah fasilitas, tetapi sebuah garis tipis pada peta teknis menunjukkan adanya rongga di balik dinding.

Maya menemukan mekanisme pembukanya.

Ketika panel digeser, sebuah pintu sempit muncul.

Tidak ada pemindai telapak tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada simbol Protokol Nusantara.

Hanya sebuah lubang kunci tua.

Arga memeriksa pintu itu.

“Ini dibuat sebelum sistem digital dipasang.”

“Ya,” jawab Maya. “Kemungkinan besar bagian dari fasilitas awal.”

“Punya kunci?”

Maya merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna hitam.

Arga menatapnya.

“Kau membawa kunci itu sejak tadi?”

“Aku menemukannya dalam saku ketika terbangun di fasilitas pemulihan.”

“Dan kau baru mengatakannya sekarang?”

Maya menatap kunci tersebut dengan bingung.

“Aku tidak tahu untuk apa kunci ini sampai melihat lubang kuncinya.”

Arga mengambil kunci itu dari tangannya.

“Mulai sekarang, apa pun yang kau temukan, kau katakan kepada kami.”

Maya mengangguk.

Arga memasukkan kunci ke lubang.

Lihat selengkapnya