BAB 14
ANAK YANG KEDUA
Suara itu datang dari balik pintu yang selama ini tidak tercatat dalam denah fasilitas.
“Arga… jangan biarkan mereka membawaku kembali.”
Arga membeku.
Bukan karena suara anak kecil itu terdengar asing.
Justru sebaliknya.
Ada sesuatu dalam suara itu yang membuat bagian terdalam dirinya bereaksi sebelum pikirannya sempat memahami apa yang sedang terjadi.
Ia mengenal suara itu.
Atau mungkin, seseorang telah menanamkan ingatan tentang suara itu ke dalam dirinya.
“Siapa kamu?” tanya Arga.
Tidak ada jawaban.
Hanya terdengar tiga ketukan pelan dari balik pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Nadira mendadak memegangi kepalanya.
“Tidak…” bisiknya.
Arga menoleh. “Nadira?”
“Aku pernah mendengar ketukan itu.”
“Di mana?”
Nadira memejamkan mata. Napasnya memburu.
“Di ruangan kaca. Malam kebakaran itu. Aku bersembunyi di bawah meja, dan seseorang mengetuk pintu dari dalam.”
“Dari dalam?” Arga mengerutkan kening.
Nadira mengangguk lemah.
“Ada seorang anak di sana. Aku mendengar dia menangis. Tetapi ketika aku keluar, semua orang mengatakan hanya ada aku dan kamu.”
Perempuan berj gelang tiga titik—M-03—berdiri di seberang koridor. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
“Karena sejak awal,” katanya, “mereka tidak pernah mencatat semua anak yang ada di ruangan itu.”
Arga menatapnya tajam.
“Berapa banyak?”
M-03 tidak langsung menjawab.
“Dua.”
Satu kata itu jatuh seperti palu.
“Dua anak keluar dari ruang pemulihan malam itu,” lanjutnya. “Tetapi hanya satu yang diakui oleh catatan resmi. Yang kedua dihapus dari seluruh sistem.”
“Dan kamu tahu itu dari mana?”
“Karena aku yang mencoba menghentikan penghapusan tersebut.”
“Namun kamu gagal.”
“Ya.”
M-03 menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai penyesalan di wajahnya.
“Dan selama dua belas tahun terakhir, aku mencoba menemukan di mana mereka menyembunyikan anak itu.”
Dari balik pintu terdengar suara kecil lagi.
“Arga… cepat.”
Arga melangkah mendekat.
“Jangan buka pintu itu!” seru perempuan yang berdiri di dalam ruang arsip.
Maya yang selama ini berjalan bersama mereka.
M-03 justru berkata, “Bukalah.”
Arga berhenti di antara keduanya.
Dua perempuan dengan wajah yang sama.
Dua perintah yang berlawanan.
Dan seorang anak yang memanggil namanya dari balik pintu.
“Menarik,” kata Arga dingin. “Kalian berdua selalu tahu apa yang harus kulakukan. Tidak satu pun bertanya apa yang ingin kulakukan.”
Ia memandang Maya di ruang arsip, kemudian M-03.
“Aku tidak akan memilih berdasarkan perintah kalian.”
Arga menyentuh panel di samping pintu.
Panel itu menyala merah.
AKSES DITOLAK.
Ia mencoba lagi.
OTORITAS PENGAMAT PERTAMA TIDAK MEMILIKI IZIN.
Arga tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Dulu aku diberi gelar Pengamat Pertama. Sekarang bahkan untuk membuka pintu pun aku tidak berwenang.”
“Gelar itu bukan sekadar gelar,” kata Maya.
“Kalau begitu, katakan apa sebenarnya.”
Maya terdiam.
M-03 menjawab dari seberang koridor.
“Karena sistem tidak pernah menganggapmu sebagai orang yang harus diberi izin, Arga. Sistem menganggapmu sebagai sumber izin itu sendiri.”
Arga menoleh.
“Apa maksudmu?”
“Setiap kali sistem mengambil keputusan besar, ia mencari pola dari tindakanmu. Bukan karena kamu paling pintar. Bukan karena kamu paling kuat. Melainkan karena kamu pernah melakukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh model prediksinya.”
“Aku menolak memilih siapa yang harus mati.”
“Benar. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting.”
M-03 melangkah maju.
“Kamu juga menolak menerima bahwa hanya ada dua pilihan.”
Tiba-tiba, panel pintu berkedip.
Merah berubah menjadi putih.
OTORITAS PENGAMAT PERTAMA TERDETEKSI.
MEMERIKSA IDENTITAS BIOLOGIS…
HASIL: TIDAK DAPAT DITENTUKAN.
Arga memandang layar itu.
“Bahkan mesin ini tidak tahu siapa aku.”
“Mesin ini tahu lebih banyak daripada yang kamu kira,” kata M-03. “Ia hanya tidak tahu bagaimana mengategorikanmu.”
Panel kembali berkedip.
OTORITAS ALTERNATIF TERDETEKSI.
SUMBER: SUBJEK NOL.
Nadira tersentak.
“Subjek Nol?”
Arga tidak menjawab.
Di balik pintu, terdengar bunyi mekanis. Kunci-kunci bergerak satu per satu.
Kemudian suara anak itu terdengar lagi.
“Kak Arga…”
Arga menegang.
Kak.
Bukan sekadar menyebut namanya.
Anak itu memanggilnya kakak.
Sebuah kilatan muncul dalam benaknya: ruangan putih, cahaya lampu yang menyakitkan mata, dan seorang anak kecil duduk di lantai. Anak itu mengenakan baju tidur biru. Di tangannya ada sebuah benda berbentuk burung yang dibuat dari kertas.
Arga kecil berdiri di hadapannya.
“Kalau mereka bertanya, kamu tidak kenal aku,” kata anak itu.
“Mengapa?”
“Karena kalau kamu ingat aku, mereka akan membawamu juga.”
Kilatan itu lenyap.
Arga terhuyung.
Nadira segera memegang lengannya.
“Apa yang kamu lihat?”
“Seorang anak.”
“Anak yang sama?”
“Aku tidak tahu.”
Arga mengusap wajahnya. Ingatan itu terasa nyata, tetapi ia tidak tahu apakah itu benar-benar masa lalunya atau sekadar fragmen yang sengaja ditanamkan.
Ia sudah belajar bahwa ingatan dapat direkayasa.
Namun ia juga tahu, rasa sakit tidak selalu datang dari sesuatu yang palsu.
Pintu akhirnya terbuka.
Tidak ada ruangan gelap di baliknya.
Tidak ada laboratorium.
Tidak ada tabung pemulihan.
Hanya sebuah kamar kecil dengan dinding putih dan ranjang besi. Di sudut ruangan terdapat meja rendah, dua kursi, dan sebuah lemari mainan. Lampu kuning menggantung di langit-langit.
Ruangan itu tampak seperti kamar seorang anak.
Terlalu biasa untuk menjadi bagian dari fasilitas rahasia.
Di tengah kamar berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.