BAB 15 PINTU YANG DIBUKA ANAK ITU
Suara anak perempuan itu terdengar sekali lagi.
“Arga?”
Nadira tidak bergerak.
Wajahnya kehilangan warna. Kedua tangannya gemetar, sementara matanya terpaku pada pintu baja yang terbuka di ujung koridor.
Arga pernah melihat Nadira menghadapi ancaman bersenjata tanpa mundur selangkah pun. Ia pernah melihat perempuan itu berdiri di hadapan mesin yang mampu menghapus identitas seseorang tanpa menunjukkan rasa takut.
Namun sekarang, Nadira tampak seperti seorang anak kecil yang tersesat di dalam kenangan buruknya sendiri.
“Itu suaraku,” bisiknya.
Arga menatapnya. “Kamu yakin?”
Nadira mengangguk, kemudian menggeleng.
“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa suara itu adalah suaraku.”
Maya yang berdiri dekat terminal mengangkat wajah.
“Jangan mendekati ruangan itu.”
Arga menoleh.
“Sekarang kau juga akan melarangku membuka pintu?”
“Aku tidak melarangmu. Aku memperingatkanmu.”
“Bedanya apa?”
“Larangan menuntutmu patuh. Peringatan memberimu kesempatan untuk memahami akibatnya.”
Arga terdiam sesaat.
“Kalimat yang bagus,” katanya. “Sayangnya, aku sudah terlalu sering mendengarnya dari orang-orang yang menyembunyikan sesuatu.”
Ia menyerahkan anak laki-laki yang baru mereka temukan kepada Nadira.
“Jaga dia.”
Anak itu segera meraih tangan Arga.
“Jangan pergi.”
“Aku hanya ingin melihat apa yang ada di balik pintu itu.”
“Kalau kamu masuk, mereka akan mengenalimu.”
“Siapa?”
Anak itu memandang ruang pemulihan di ujung koridor.
“Mereka yang tidak pernah keluar.”
Arga menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia berjongkok.
“Dengarkan aku. Aku tidak tahu siapa kamu. Aku juga belum tahu apa yang terjadi pada kita sebelas tahun lalu. Tetapi aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun hanya karena sebuah mesin mengatakan bahwa kamu harus dikembalikan.”
Anak itu mengendurkan genggamannya.
“Janji?”
Arga tidak langsung menjawab.
Ia telah belajar bahwa janji dapat menjadi bentuk kebohongan paling halus ketika seseorang tidak memahami apa yang sedang dijanjikannya.
“Aku berjanji akan berusaha melindungimu,” katanya akhirnya. “Dan aku tidak akan berbohong kepadamu tentang apa yang kutemukan.”
Anak itu mengangguk.
“Dulu kamu juga mengatakan begitu.”
Kalimat itu menghantam Arga lebih keras daripada yang ia duga.
“Dulu kapan?”
Anak itu kembali diam.
Arga berdiri dan berjalan menuju pintu.
Di atas pintu tertulis:
SEKTOR PEMULIHAN B — AKSES KHUSUS.
Tidak ada nomor ruangan. Tidak ada identitas penanggung jawab. Tidak ada catatan kapan fasilitas itu dibangun.
Hanya sebuah simbol kecil di bawah tulisan: tiga titik yang dihubungkan oleh garis melengkung.
Simbol pada gelang M-03.
Perempuan itu kini berdiri beberapa langkah di belakang Arga.
“Ini bukan bagian dari fasilitas yang kukenal,” katanya.
Arga menoleh.
“Kau mengaku sebagai Pengamat Independen. Kau mengakses sistem selama dua belas tahun. Tetapi kau tidak mengenali ruangan ini?”
“Aku mengenali simbolnya. Bukan tempatnya.”
“Siapa yang membuat simbol itu?”
M-03 menatap tiga titik pada pintu.
“Kelompok yang ada sebelum Protokol Nusantara.”
“Namanya?”
“Aku tidak pernah mengetahui nama resminya.”
Arga mengangkat alis.
“Kau berharap aku percaya?”
“Tidak. Aku berharap kau berhenti menganggap bahwa semua orang yang terlibat dalam proyek ini mengetahui keseluruhan rencana.”
M-03 mendekat.
“Sebagian dari kami hanya diberi satu tugas. Sebagian diberi satu ingatan. Dan sebagian bahkan tidak tahu apakah tugas yang mereka jalankan benar-benar pernah diberikan kepada mereka.”
Arga menatap gelang di pergelangan tangannya.
“Termasuk dirimu?”
“Terutama diriku.”
Sebelum Arga sempat bertanya lebih jauh, suara anak perempuan kembali terdengar.
“Arga, jangan biarkan mereka menutup pintunya lagi.”
Kali ini, Arga merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan sekadar pengenalan.
Ada kemarahan yang muncul tanpa sebab yang jelas. Ada rasa bersalah yang tidak memiliki peristiwa untuk dijadikan asal. Ada kerinduan yang begitu kuat sehingga ia ingin berlari masuk tanpa memikirkan apa pun.
Ia mengepalkan tangan.
Tidak.
Ia tidak akan membiarkan perasaannya mengambil keputusan untuknya.
Ia telah melihat bagaimana sistem menggunakan ketakutan, rasa bersalah, dan kasih sayang untuk mempersempit pilihan manusia.
Kalau suara itu memang berasal dari Nadira kecil, ia harus menemukannya.
Kalau suara itu hanya rekaman, ia harus mengetahui siapa yang membuatnya.
Dan jika seseorang sengaja menggunakan suara tersebut untuk memancingnya masuk, ia akan mencari tahu siapa yang berada di balik perangkap itu.
Arga melangkah melewati pintu.
Ruangan itu dingin.
Berbeda dengan laboratorium utama, tempat ini tidak dipenuhi perangkat modern. Dindingnya dilapisi panel putih yang telah menguning. Beberapa kabel menggantung dari langit-langit. Di sisi kanan terdapat deretan kaca tebal yang memisahkan koridor kecil dari ruang-ruang pemulihan.
Ada enam ruang.
Lima di antaranya kosong.
Ruang keenam memiliki sebuah ranjang kecil.
Di atas ranjang itu tergeletak sebuah boneka kain.
Arga mendekat.
Boneka itu sudah tua. Salah satu matanya hilang. Bagian perutnya dijahit dengan benang biru yang tidak seragam.
Ia pernah melihat boneka itu.
Dalam sebuah foto lama yang ditemukan di Arsip Keluarga.
Nadira kecil memeluk boneka yang sama.
Arga mengambilnya dengan hati-hati.
Di bawah boneka itu terdapat sebuah kartu identitas.
NAMA: NADIRA AYU PRAMESTI.
STATUS: PEMULIHAN.
USIA SAAT REGISTRASI: 8 TAHUN.
Arga menatap kartu itu lama.
Tanggal registrasinya tercetak jelas.
Tujuh hari setelah tanggal resmi kematian Nadira.
“Ini tidak masuk akal,” gumamnya.
Maya muncul di ambang pintu.
“Bisa jadi tanggal itu bukan tanggal registrasi.”
Arga menoleh.
“Lalu tanggal apa?”
“Tanggal ketika identitas itu dimasukkan kembali ke sistem.”
“Kau sedang mengatakan Nadira pernah dihapus?”
Maya memandang kartu tersebut.
“Aku sedang mengatakan bahwa kita belum tahu apa arti kata pemulihan di fasilitas ini.”
Arga kembali menatap ranjang.
“Kalau begitu, siapa yang berbaring di sini?”
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba layar kecil di dinding menyala.
Sebuah rekaman mulai diputar.