BAB 16
PEREMPUAN DALAM FOTO KELUARGA
Arga tidak segera bergerak setelah layar padam.
Ada kalimat yang dapat dilupakan seseorang dalam hitungan detik. Ada pula kalimat yang mengubah seluruh hidupnya hanya dengan sekali dengar.
Sekarang, Arga, kita bisa membicarakan ibumu.
Selama bertahun-tahun, Arga tidak pernah merasa perlu mencari tahu siapa perempuan yang melahirkannya. Jenderal Wiratama telah membesarkannya, memberinya pendidikan, mengajarinya disiplin, dan membentuk cara berpikirnya. Dalam dunia yang dikenalnya, pertanyaan tentang asal-usul bukan sesuatu yang harus dijawab untuk menentukan siapa dirinya.
Namun kini, setiap orang yang pernah mengaku mengetahui masa lalunya justru meninggalkan lebih banyak kebohongan.
Jenderal Wiratama menyembunyikan sesuatu.
Dr. Surya Wiratama meninggalkan rekaman yang tidak lengkap.
Maya Pradipta tidak dapat memastikan identitasnya sendiri.
Dan seorang anak yang memiliki wajah masa kecilnya muncul dari ruangan yang tidak pernah tercatat.
Sekarang, seorang perempuan dari foto lama mengaku sebagai ibunya.
Arga mengusap wajah.
“Tidak,” gumamnya. “Kali ini kita tidak akan mengejar suara.”
Ia menoleh kepada Maya.
“Kita mencari bukti.”
Maya mengangguk pelan. “Aku setuju.”
“Bagus. Mulai dari foto itu.”
Foto keluarga tersebut muncul kembali di layar setelah terminal tua diaktifkan ulang oleh M-03.
Foto hitam putih itu memperlihatkan tiga orang.
Dr. Surya Wiratama berdiri di sebelah kiri, jauh lebih muda daripada sosok yang muncul dalam rekaman tahun 1989. Di sampingnya berdiri seorang perempuan berambut sebahu, mengenakan pakaian sederhana. Wajahnya tenang, tetapi matanya menatap kamera dengan kewaspadaan yang sulit dijelaskan.
Perempuan itu menggendong bayi.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan:
17 AGUSTUS 1989.
Arga menatap tanggal tersebut.
“Foto ini pernah kita temukan di Arsip Keluarga,” katanya. “Tetapi tidak ada yang menjelaskan mengapa aku muncul dalam foto yang seharusnya diambil ketika aku belum lahir.”
“Karena kita menganggap tanggal itu sebagai tanggal pengambilan foto,” jawab Maya.
Arga menoleh.
“Kau punya penjelasan lain?”
“Belum. Tetapi perhatikan bayangan di belakang mereka.”
Maya memperbesar gambar.
Di belakang Surya tampak sebuah jam dinding. Jarumnya menunjukkan pukul 10.17.
Pada kaca jendela terdapat pantulan sebuah kalender.
M-03 mendekat.
“Perbesar kalendernya.”
Gambar diperbesar hingga huruf-hurufnya tampak pecah.
Mereka masih bisa membaca sebagian tanggal.
Agustus 1989.
Namun angka di sudut kalender bukan tujuh belas.
Angka itu adalah dua puluh tiga.
Arga mengerutkan kening.
“Jadi fotonya diambil tanggal dua puluh tiga Agustus?”
“Belum tentu,” kata Maya. “Kalender bisa saja tidak menunjukkan bulan berjalan.”
“Lalu tulisan di belakang foto?”
“Bisa menjadi tanggal penandatanganan, tanggal pencatatan, atau tanggal ketika foto dimasukkan ke arsip.”
Arga menghela napas.
“Dengan kata lain, kita tidak tahu apa-apa.”
“Kita tahu satu hal,” ujar M-03.
Ia menunjuk pantulan pada kaca jendela.
“Foto itu diambil di dalam fasilitas, bukan di rumah. Lihat garis sambungan pada dinding, ventilasi, dan pantulan lampu. Itu bukan ruang keluarga.”
Arga memperhatikan gambar itu lagi.
Benar.
Di balik penampilan sederhana yang sengaja dibuat menyerupai foto keluarga, ada sebuah fasilitas penelitian.
“Siapa yang menyimpan foto ini?” tanyanya.
M-03 menjawab, “Sistem Arsip Keluarga.”
“Siapa yang membuat arsipnya?”
“Surya Wiratama.”
“Siapa yang memasukkan foto ini?”
M-03 terdiam.
Arga menatapnya.
“Kau tahu sesuatu.”
“Aku tahu bahwa foto ini tidak pernah ada dalam arsip fisik sebelum sebelas tahun lalu.”
“Artinya?”
“Artinya, seseorang memasukkannya setelah kebakaran.”
Arga menatap perempuan dalam foto itu.
Seseorang telah memilih satu gambar, menambahkan tanggal yang tampak meyakinkan, lalu menempatkannya di dalam arsip yang seharusnya menyimpan bukti tentang keluarganya.
Bukan sekadar menyembunyikan masa lalu.
Mereka mungkin sedang menciptakan masa lalu yang baru.
Anak laki-laki itu duduk di tepi ranjang kecil. Burung kertas masih berada dalam genggamannya.
Nadira mendekatinya perlahan.
“Boleh aku bertanya?”
Anak itu mengangguk.
“Ketika perempuan itu berbicara kepada Arga, apakah kamu mengenali suaranya?”
Anak itu berpikir cukup lama.
“Ya.”
Nadira menahan napas.
“Siapa dia?”
“Aku tidak tahu namanya.”
“Apakah kamu pernah bertemu dengannya?”
Anak itu mengangguk.
“Di mana?”
“Di ruangan yang tidak punya jendela.”
Nadira merasakan tengkuknya menegang.
“Apakah ruangan itu seperti tempat ini?”
“Tidak. Ruangan itu lebih kecil. Ada meja, dua kursi, dan lampu yang selalu menyala.”
“Apakah Arga ada di sana?”
Anak itu memandangnya.
“Kadang-kadang.”
“Kadang-kadang?”
“Kadang aku melihat Arga. Kadang aku melihat diriku sendiri. Kadang aku melihat anak perempuan yang menangis.”
Nadira berjongkok di depannya.
“Anak perempuan itu siapa?”
Anak itu menunduk.
“Aku tidak tahu. Tetapi dia selalu berkata bahwa suatu hari nanti seseorang akan datang menjemputnya.”
Nadira merasa dadanya sesak.
“Apa yang terjadi kepadanya?”
Anak itu menggenggam burung kertas lebih erat.
“Suatu hari, dia berhenti menangis.”
“Lalu?”
“Setelah itu, ruangan menjadi kosong.”
Nadira tidak tahu harus berkata apa.
Ia mulai menyadari bahwa anak itu mungkin bukan saksi yang menyimpan ingatan secara utuh. Ceritanya melompat-lompat, kadang terasa seperti pengalaman pribadi, kadang seperti mimpi, dan kadang seperti potongan rekaman yang didengar berulang kali.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa diabaikannya.
Anak itu tidak sedang berusaha meyakinkan siapa pun.
Ia hanya menceritakan apa yang masih tersisa dalam ingatannya.
“Nak,” kata Nadira lembut, “apakah kamu tahu siapa namamu?”
Anak itu memandangnya lama.
“Dulu mereka memanggilku B.”
“B saja?”
“Ya.”
“Apakah kamu ingin punya nama lain?”
Anak itu mengangkat bahu.
“Aku ingin tahu apakah aku boleh punya nama sendiri.”
Nadira terdiam.
Ia teringat bagaimana namanya sendiri pernah berubah menjadi nomor, pola neural, dan berkas pemulihan. Ia pernah menjadi manusia yang dianggap mati, lalu sumber ingatan bagi entitas lain, lalu subjek yang harus membuktikan bahwa dirinya benar-benar ada.
Ia menatap anak itu.
“Kamu boleh memilih nama sendiri.”
Anak itu tampak ragu.
“Kalau aku salah memilih?”
“Nama bukan jawaban ujian.”
Nadira tersenyum tipis.
“Nama adalah sesuatu yang bisa kamu bawa sambil mencari tahu siapa dirimu.”
Anak itu menatap burung kertasnya.
“Kalau begitu, untuk sekarang panggil aku B.”
“Baik, B.”
Anak itu tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang pemulihan, ia tampak seperti anak biasa.
Lalu suara sistem terdengar.
PERHATIAN. IDENTITAS PENGAMAT AKHIR TELAH TERDETEKSI.
Senyum anak itu menghilang.
Ia berbisik, “Dia sudah tahu aku keluar.”
M-03 berhasil membuka direktori tersembunyi dalam terminal tua.
Di dalamnya terdapat puluhan berkas yang tidak pernah tersambung ke jaringan utama. Sebagian berupa rekaman audio. Sebagian lagi berupa dokumen cetak yang telah dipindai.
Namun satu folder menarik perhatian Arga.
SUBJEK MATERNAL — AKSES DIBATASI.
Arga mencoba membukanya.
Layar meminta dua otorisasi.