BAB 17 RUANG KELAHIRAN
Tidak seorang pun berbicara setelah rekaman itu berakhir.
Di layar yang menghitam, Arga masih bisa melihat pantulan wajahnya sendiri. Di sampingnya berdiri B, anak laki-laki yang memiliki wajah masa kecilnya. Di belakang mereka, Nadira memeluk kedua lengannya, seolah sedang berusaha menahan tubuhnya agar tidak runtuh.
Satu rekaman.
Satu tuduhan.
Dan satu nama yang semakin sulit dipercaya.
Perempuan yang mengaku sebagai ibu Arga disebut sebagai orang yang membuat anak kedua.
Arga memecah keheningan.
“Kita tidak akan menyimpulkan apa pun dari rekaman itu.”
Maya mengangguk. “Itu keputusan yang tepat.”
“Bukan karena aku tidak mempercayai Nadira kecil,” lanjut Arga. “Aku tidak tahu siapa yang membuat rekaman itu, kapan dibuat, atau apakah suara dan gambarnya berasal dari peristiwa yang sama.”
M-03 memandang layar.
“Pengamat Akhir dapat mengakses hampir seluruh sistem fasilitas. Jika ia ingin kita mempercayai tuduhan tersebut, ia bisa saja menyusun rekaman yang tampak meyakinkan.”
“Dan jika rekaman itu asli?” tanya Nadira.
“Kalau asli, kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Nadira menunduk.
“Aku hanya ingin tahu mengapa ada bagian hidupku yang tidak bisa kuingat. Mengapa setiap kali aku menemukan sesuatu, ternyata ada orang lain yang lebih dahulu menentukan apa yang harus kuingat.”
Arga mendekatinya.
“Karena mereka mengira masa lalu seseorang bisa dijadikan alat untuk mengendalikan masa depannya.”
“Bagaimana kalau memang mereka yang membuat semua ingatan itu?”
“Kalau begitu, kita periksa satu per satu. Kita tidak harus menerima semuanya sebagai kebenaran. Tetapi kita juga tidak perlu membuang semuanya sebagai kebohongan.”
Nadira memandang Arga.
“Dan kalau pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa kita pastikan?”
Arga terdiam sejenak.
“Kita mulai dari apa yang bisa kita buktikan hari ini.”
B yang sejak tadi diam mengangkat kepala.
“Apakah itu berarti aku boleh ikut?”
Arga menatapnya.
“Kamu tidak harus ikut ke tempat berbahaya.”
“Tetapi kalau aku tidak ikut, kalian akan mencari tahu tentang aku tanpa aku.”
Kalimat itu membuat Maya berhenti bergerak.
Anak tersebut melanjutkan, “Aku tidak mau menjadi berkas yang dibicarakan orang-orang dewasa. Aku ingin tahu sendiri.”
Arga berjongkok di hadapannya.
“Kamu benar. Tetapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa tempat yang akan kita datangi aman.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak tahu seberapa berbahayanya.”
B mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan tetap takut. Tetapi aku ingin tahu.”
Arga menatap anak itu cukup lama.
Ia tidak dapat menjanjikan bahwa perjalanan berikutnya tidak akan melukainya. Namun ia bisa memastikan bahwa ketakutannya tidak akan dijadikan alasan untuk merampas haknya mengambil bagian dalam pencarian tentang dirinya sendiri.
“Kita pergi bersama,” kata Arga. “Tetapi kalau keadaan berubah, kita akan mencari jalan keluar bersama pula.”
B mengangguk.
Untuk pertama kalinya, keputusan itu bukan dibuat oleh sistem.
Mereka membuatnya sendiri.
Koordinat menuju Ruang Kelahiran berada tiga tingkat di bawah sektor pemulihan.
Peta digital hanya menampilkan sebuah lingkaran merah tanpa denah bangunan. Menurut catatan yang berhasil diambil M-03, ruangan itu dibangun sebelum fasilitas utama diresmikan dan tidak pernah dimasukkan ke dalam inventaris resmi.
Mereka harus melewati koridor servis yang sempit, turun melalui tangga besi, lalu menyeberangi ruang mesin tua yang sebagian besar perangkatnya sudah tidak berfungsi.
Arga berjalan paling depan. Maya berada di belakangnya, diikuti Nadira dan B. M-03 menutup barisan sambil memantau terminal genggam.
“Berapa lama sampai ke sana?” tanya Arga.
“Jika peta ini benar, sekitar delapan menit,” jawab M-03.
“Jika salah?”
“Kita akan mengetahui kesalahannya ketika jalan kita buntu.”
Arga menoleh.
“Kau selalu punya jawaban yang menenangkan.”
“Aku tidak dibayar untuk menenangkanmu.”
“Siapa yang membayarmu?”
M-03 terdiam.
Arga kembali berjalan.
“Ya. Tentu saja.”
Mereka melewati pintu besi dengan tulisan yang hampir terhapus.
UNIT BIOLOGI — AKSES TERBATAS.
Di balik pintu itu terdapat deretan lemari pendingin tua, meja pemeriksaan, dan rak-rak berisi kotak logam. Udara berbau debu, bahan pembersih, dan sesuatu yang mengingatkan Arga pada rumah sakit.
Maya berhenti di dekat salah satu meja.
“Tempat ini bukan ruang pemulihan neural.”
“Lalu apa?”
“Laboratorium biologi.”
Ia memeriksa label pada sebuah kotak logam.
“Dulu, penelitian tentang identitas tidak hanya dilakukan melalui ingatan. Mereka juga meneliti perkembangan biologis, respons saraf, dan hubungan antara tubuh dengan pola perilaku.”
Nadira menatap deretan lemari.
“Apakah mereka membuat manusia di sini?”
Maya tidak langsung menjawab.
“Aku tidak tahu apakah mereka mampu melakukan semua yang kalian bayangkan. Tetapi fasilitas ini tampaknya memang digunakan untuk penelitian terhadap subjek biologis.”
Arga membuka sebuah laci.
Di dalamnya terdapat map-map tua, sebagian rusak karena kelembapan. Ia mengambil map paling atas.
Pada sampulnya tertulis:
PROGRAM PEMULIHAN INDIVIDU — TAHAP PRAKELAHIRAN.
Ia menyerahkannya kepada Maya.
Maya membaca halaman pertama, lalu wajahnya berubah.
“Apa?” tanya Arga.
“Program ini tidak menggunakan istilah subjek pada tahap awal.”
“Lalu istilah apa?”
Maya menunjukkan bagian atas halaman.
CALON INDIVIDU.
Nadira mengerutkan kening.
“Mengapa disebut calon individu?”
“Karena pada tahap itu mereka belum menetapkan identitas yang akan diberikan kepada setiap hasil penelitian.”
Arga menatapnya tajam.
“Jelaskan dengan bahasa yang tidak membuat manusia terdengar seperti barang.”
Maya menarik napas.
“Artinya, mereka memisahkan proses pembentukan tubuh dari penetapan identitas. Mereka menganggap identitas sebagai sesuatu yang bisa diberikan kemudian.”
B memandang map tersebut.
“Apakah itu yang mereka lakukan kepadaku?”
Maya menutup map perlahan.
“Aku belum tahu.”
B menunduk.
Arga mengambil map itu kembali dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kalau begitu, kita akan mencari tahu.”
Di ujung laboratorium terdapat sebuah lift barang yang tidak terhubung dengan jaringan utama.
Pintu lift terbuka setelah M-03 memasukkan kode manual yang ditemukan dalam catatan lama.
Mereka masuk satu per satu.
Lift bergerak turun.
Tidak ada penunjuk lantai. Hanya bunyi mesin yang bergetar dan suara logam yang saling bergesekan.
Setelah beberapa saat, lift berhenti.
Pintu terbuka ke sebuah koridor yang dindingnya dilapisi baja.
Di ujung koridor terdapat pintu bundar besar.
Tidak ada panel digital.
Tidak ada kamera yang terlihat.
Hanya sebuah lingkaran kecil pada bagian tengah pintu, dengan tiga garis pendek mengarah ke dalam.
M-03 memandang simbol itu dengan wajah tegang.
“Inilah tempatnya.”
Arga mendekati pintu.
“Ruang Kelahiran?”
M-03 mengangguk.
“Menurut catatan, ruangan ini hanya dapat dibuka menggunakan otorisasi yang berasal dari tiga jalur berbeda.”
“Jalur apa?”
“Pengamat Pertama. Subjek Kedua. Dan Pengamat Independen.”
Arga menatap B.
“Sepertinya kita memang diundang.”
“Bukan diundang,” kata M-03. “Dipersiapkan.”
Arga memandangnya.
“Bedanya?”
“Undangan memberi kesempatan untuk menolak. Persiapan berarti seseorang telah memperhitungkan kedatanganmu sebelum kamu memutuskan untuk datang.”
Arga mengangguk pelan.
“Dan kita tidak tahu siapa yang mempersiapkannya.”
M-03 mengangkat terminal genggam.
“Benar.”
Arga meletakkan telapak tangannya pada lingkaran pertama.
Pintu tidak bereaksi.
B maju dengan ragu dan meletakkan tangan pada lingkaran kedua.
Terdengar bunyi klik.
M-03 menempelkan perangkatnya pada lingkaran ketiga.
Sebuah cahaya putih merambat di sepanjang tepi pintu.
Kemudian terdengar suara mekanis.
TIGA OTORITAS TERDETEKSI.
MEMERIKSA ASAL-USUL…
Jeda.
ASAL-USUL TIDAK MENJADI SYARAT AKSES.
Pintu bundar itu terbuka perlahan.
Di baliknya terbentang sebuah ruangan yang jauh lebih besar daripada perkiraan mereka.
Arga melangkah masuk.
Ia berhenti.
Di tengah ruangan terdapat tiga kapsul transparan yang berdiri berjajar. Kapsul pertama kosong. Kapsul kedua juga kosong. Kapsul ketiga masih berisi cairan bening, tetapi tidak ada tubuh di dalamnya.
Di belakang ketiga kapsul terdapat sebuah dinding penuh laci kecil.
Setiap laci memiliki label.
Nama-nama.
Tanggal.
Kode-kode.
Dan beberapa label yang hanya memuat satu kata:
BELUM.
Maya memeriksa panel di dekat kapsul.
“Ini bukan ruang persalinan biasa,” katanya. “Lihat saluran pada bagian bawah. Ruangan ini dirancang untuk menangani beberapa jenis prosedur pemulihan.”
“Termasuk membuat manusia?” tanya Nadira.
“Kita tidak boleh menyimpulkan itu hanya dari bentuk peralatannya.”
Arga memandang kapsul ketiga.
Pada kaca depannya tertulis: