PROTOKOL NUSANTARA

Prasetya
Chapter #18

BAB 18 RUMAH YANG TIDAK PERNAH MENJADI RUMAH

BAB 18 RUMAH YANG TIDAK PERNAH MENJADI RUMAH

Hujan turun ketika mereka meninggalkan Ruang Kelahiran.

Tidak deras, tetapi cukup untuk membuat jalan menuju permukaan berubah menjadi lorong hitam yang licin. Air merembes dari celah-celah beton, menetes di atas kabel tua, dan mengalir melewati dinding yang menyimpan puluhan tahun rahasia.

Arga berjalan paling depan.

Di belakangnya, B menggenggam burung kertas bertanda ALFA-B. Anak itu tidak lagi banyak bertanya. Sejak melihat tiga kapsul kosong di Ruang Kelahiran, ia seperti sedang berusaha menyusun sesuatu di dalam kepalanya—sesuatu yang mungkin sudah lama berada di sana, tetapi tidak pernah diberi nama.

Nadira berjalan di samping Maya. Sesekali ia menyentuh pelipisnya, seolah mencoba menahan ingatan yang terus mengetuk dari balik pintu kesadarannya.

M-03 berada paling belakang.

Sementara itu, NARA belum bersama mereka.

Sebelum meninggalkan fasilitas, Arga telah mengirimkan pesan melalui kanal komunikasi darurat. Jawaban NARA datang beberapa menit kemudian, terputus-putus oleh gangguan jaringan.

Arga, aku menemukan sesuatu di arsip pemulihan.

Ada jalur komunikasi yang masih aktif menuju rumah Jenderal Wiratama.

Jalur itu tidak tercatat sebagai jaringan militer.

Namanya RARAS.

Lalu muncul satu pesan lagi.

Arga, ada sesuatu yang harus kau ketahui. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal Jenderal. Sistem mengidentifikasinya sebagai lokasi pemulihan pertama bagi Subjek Nol.

Arga membaca pesan tersebut dua kali.

Rumah tempat ia dibesarkan.

Rumah yang ia ingat memiliki halaman luas, pohon mangga di sudut pagar, dan sebuah kamar kecil di belakang yang selalu terkunci.

Rumah tempat Jenderal Wiratama mengajarinya disiplin, membaca peta, mengenali kebohongan, dan mengendalikan napas ketika menghadapi lawan.

Jika semua itu bagian dari eksperimen, lalu apa yang tersisa dari masa kecilnya?

“Masih bisa menghubungi NARA?” tanya Maya.

“Bisa. Dia menemukan jalur menuju rumah Jenderal.”

Maya berhenti berjalan.

“Kalau begitu, jangan masuk lewat pintu depan.”

Arga menoleh.

“Kenapa?”

“Karena jika Raras benar-benar Pengamat Akhir, dia pasti sudah tahu kita datang.”

M-03 menyahut dari belakang.

“Bukan pasti.”

Maya memandangnya.

M-03 melanjutkan, “Kita harus berhenti menggunakan kata itu. Selama ini, setiap orang yang merasa mengetahui masa depan justru membantu sistem menciptakan masa depan tersebut.”

Arga mengangguk pelan.

“Kalau begitu, kita datang tanpa memberinya pilihan yang sudah disiapkan.”

B mengangkat wajah.

“Seperti waktu Kak Arga tidak memilih siapa yang harus ditinggalkan?”

Arga menatap anak itu.

“Ya.”

“Kalau begitu, apa yang akan Kak Arga lakukan kalau ternyata Raras orang jahat?”

Arga tidak segera menjawab.

“Mengetahui siapa dia terlebih dahulu.”

“Kalau dia menyakiti kita?”

“Kita akan menghentikannya.”

“Kalau dia tidak bisa dihentikan?”

Arga berjongkok agar sejajar dengan mata B.

“Berani bukan berarti kita tahu bagaimana akhirnya. Berani berarti kita tetap berusaha melakukan hal yang benar meskipun belum tahu bagaimana akhirnya.”

B terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Ruang Kelahiran, anak itu menggenggam burung kertasnya tanpa terlihat ketakutan.

Rumah Jenderal Wiratama berdiri di ujung jalan yang nyaris tidak berubah selama dua puluh tahun.

Pagar besi hitamnya masih sama. Pohon mangga di sudut halaman masih ada, meskipun batangnya kini jauh lebih besar. Sebagian genting telah diganti, dinding luar dicat ulang, dan lampu teras menyala kuning di tengah hujan.

Rumah itu tampak biasa.

Justru itulah yang membuat Arga gelisah.

Tidak ada penjaga. Tidak ada kamera pengawas yang terlihat. Tidak ada kendaraan militer atau antena komunikasi di atap.

Namun, ketika mereka tiba di seberang jalan, sebuah lampu di lantai dua menyala.

Kamar Arga.

Ia mengenali jendelanya.

Dahulu, di kamar itu, Jenderal menyuruhnya menghafal peta Indonesia. Arga pernah bertanya mengapa Kalimantan diberi tanda merah pada peta yang lain. Jenderal hanya menjawab bahwa suatu hari ia akan memahami alasannya.

Malam itu, Arga tidak pernah mendapatkan jawaban.

Sampai sekarang.

“Tidak ada sinyal kamera yang bisa kudeteksi,” suara NARA terdengar dari alat komunikasi di telinga Arga. “Tetapi rumah itu memancarkan pola elektromagnetik yang tidak wajar.”

“Dari mana sumbernya?”

“Bukan dari bawah tanah. Sumbernya berada di dalam struktur rumah.”

“Seberapa yakin?”

“Aku tidak akan memberimu angka. Aku belum memiliki data yang cukup.”

Arga hampir tersenyum.

Itu jawaban yang lebih ia percayai daripada kepastian sistem mana pun.

Maya memandang rumah tersebut dengan wajah pucat.

“Aku pernah ke sini,” katanya.

Arga menoleh.

“Kapan?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau pernah masuk?”

Maya menutup mata, berusaha menggali sesuatu dari ingatannya.

“Ada bau kayu basah. Bau obat. Aku berdiri di sebuah lorong, dan seseorang mengatakan kepadaku bahwa anak itu tidak boleh memanggil siapa pun dengan sebutan ibu.”

“Siapa yang mengatakan itu?”

“Aku tidak tahu.”

“Laki-laki atau perempuan?”

Maya membuka mata.

“Perempuan.”

Nadira mendadak memegangi lengan Maya.

“Aku juga ingat tempat ini.”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Ada sebuah kursi di dekat tangga. Seorang perempuan duduk di sana sambil menjahit sesuatu. Aku berdiri di depan pintu. Aku masih kecil.”

“Apa yang kaukatakan?” tanya Arga.

Nadira menelan ludah.

“Aku bertanya apakah Arga sudah pulang.”

Arga terdiam.

“Lalu?”

Lihat selengkapnya