PROTOKOL NUSANTARA

Prasetya
Chapter #19

BAB 19 PEREMPUAN YANG MEMILIKI DUA WAJAH

BAB 19 PEREMPUAN YANG MEMILIKI DUA WAJAH

Hujan belum berhenti.

Arga berdiri di antara dua ancaman yang sama-sama mengenakan wajah masa lalunya.

Di seberang jalan, Jenderal Wiratama tidak bergerak. Mantan penguasa jaringan militer itu berdiri di bawah guyuran hujan dengan sikap tegak, kedua tangan di belakang punggung, seolah sedang menunggu laporan dari anak buahnya.

Di hadapan Arga, pintu rumah terbuka lebar.

Di dalamnya berdiri seorang perempuan yang mengaku bernama Raras.

Sementara di tangan Arga, foto lama itu memperlihatkan sesuatu yang tidak masuk akal: seorang perempuan dengan wajah Nadira sedang menggendong bayi bertanda A-00.

Nadira sendiri berdiri di sampingnya, pucat seperti baru saja melihat seseorang bangkit dari kubur.

“Itu bukan aku,” katanya sekali lagi.

Maya memandang foto tersebut dengan saksama.

“Bentuk wajah, garis rahang, jarak mata, semuanya hampir identik.”

“Hampir?” tanya Arga.

Maya memperbesar foto melalui perangkat genggamnya.

“Ada perbedaan kecil di bagian telinga kiri. Bentuknya berbeda. Perempuan ini juga memiliki bekas luka di dekat pelipis.”

Nadira menyentuh pelipis kirinya sendiri.

Tidak ada bekas luka di sana.

“Aku tidak pernah punya luka seperti itu.”

“Kalau begitu, kita punya setidaknya tiga kemungkinan,” kata Maya. “Foto ini dimanipulasi, perempuan itu memiliki hubungan biologis dengan Nadira, atau seseorang sengaja menciptakan individu yang menyerupainya.”

“Dan kemungkinan keempat?” tanya M-03.

Maya menoleh.

“Bahwa foto ini benar, tetapi ingatan kita tentang Nadira tidak lengkap.”

M-03 mengangguk tipis.

“Sekarang kita mulai berpikir seperti ilmuwan, bukan seperti orang yang sedang mencari pembenaran.”

Arga melipat foto itu dengan hati-hati.

Ia sudah terlalu sering melihat bukti yang sengaja disusun untuk menghasilkan kesimpulan tertentu. Setiap kali ia merasa menemukan jawaban, sebuah pintu lain terbuka dan memperlihatkan bahwa pertanyaannya sejak awal mungkin keliru.

Namun, satu hal kini jelas.

Seseorang telah menyiapkan rumah ini untuk kedatangan mereka.

Dan seseorang itu tahu persis apa yang akan membuat mereka saling meragukan.

“Arga!”

Suara Jenderal memecah hujan.

“Jangan masuk ke rumah itu!”

Arga berbalik.

“Kalau memang kau ingin membantuku, jelaskan siapa perempuan itu!”

Jenderal menatap Raras yang berdiri di balik pintu.

“Dia bukan perempuan yang kau cari.”

Raras tertawa pendek. Tidak terdengar lucu. Lebih menyerupai seseorang yang sudah terlalu lama mendengar kebohongan yang sama.

“Dan kau masih menganggap dirimu orang yang berhak menentukan siapa yang boleh dicari Arga?”

“Diam, Raras.”

“Tidak. Kali ini aku tidak akan diam.”

Raras melangkah ke ambang pintu. Cahaya lampu ruang depan menerangi wajahnya. Ia tampak berusia sekitar enam puluh tahun, rambutnya sebagian memutih, tetapi tatapannya tajam dan jernih.

“Aku mengenal anak ini ketika dia bahkan belum memahami mengapa manusia menangis,” katanya. “Aku mengajarinya membedakan rasa takut dari rasa sakit. Aku mengajarinya bahwa seseorang yang lebih kuat tidak otomatis berhak memukul orang yang lebih lemah.”

Arga merasakan sesuatu bergerak di dalam ingatannya.

Sebuah dapur kecil.

Aroma nasi hangat.

Tangan seorang perempuan membalut luka di lututnya.

Suara yang berkata, Kalau kamu jatuh, bangunlah. Tetapi jangan pernah sengaja menjatuhkan orang lain hanya karena kamu takut dia akan mengalahkanmu.

Ingatan itu begitu jelas hingga Arga bisa merasakan nyeri di lututnya.

Namun, ketika ia mencoba melihat wajah perempuan yang mengucapkannya, wajah itu menghilang.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Arga.

Raras menatapnya.

“Orang yang seharusnya tidak pernah dihapus dari hidupmu.”

Jenderal maju satu langkah.

“Dia berbohong. Aku yang membesarkanmu.”

“Benar,” jawab Raras. “Kau membesarkannya. Tetapi aku yang mengajarinya hidup.”

Keheningan jatuh.

Arga menyadari bahwa kedua orang itu mungkin mengatakan sesuatu yang benar.

Dan justru karena itulah ia tidak bisa mempercayai salah satunya begitu saja.

“Jenderal,” katanya, “aku ingin jawaban. Bukan perintah.”

Untuk pertama kalinya, wajah Jenderal memperlihatkan kelelahan.

“Kalau kau masuk ke sana, kau akan menemukan hal-hal yang tidak bisa kauubah lagi.”

“Aku tidak meminta untuk mengubah masa lalu.”

“Semua orang mengatakan begitu sebelum mengetahui apa yang telah mereka lakukan.”

“Kalau begitu, biarkan aku mengetahui apa yang telah kulakukan.”

Jenderal memejamkan mata sesaat.

Ketika membukanya kembali, ia tidak lagi menatap Arga sebagai seorang komandan yang sedang menghadapi bawahan.

Ia menatapnya seperti seorang ayah yang takut kehilangan anaknya.

Dan Arga membenci dirinya sendiri karena masih ingin mempercayai tatapan itu.

NARA akhirnya berhasil menembus jaringan komunikasi rumah.

Suara perempuan sintetis itu terdengar langsung di alat komunikasi Arga.

“Arga, aku telah mengakses sebagian sistem internal. Aku menemukan tiga sumber otentikasi yang aktif.”

“Jelaskan.”

“Pertama, otorisasi Jenderal Wiratama. Kedua, otorisasi yang menggunakan identitas Raras. Ketiga, otorisasi biologis yang tidak cocok dengan keduanya.”

“Identitas siapa?”

“Belum diketahui.”

“Apakah itu identitasku?”

“Bukan.”

Arga mengerutkan kening.

“B?”

“Tidak bisa dipastikan. Tetapi pola akses ketiga berasal dari dalam rumah dan telah aktif selama dua puluh tujuh tahun.”

Maya mendengar percakapan itu.

“Dua puluh tujuh tahun?”

“Benar,” jawab NARA. “Sistem tersebut telah beroperasi sebelum sebagian besar catatan Protokol Nusantara dibuat.”

M-03 menggeleng pelan.

“Kalau begitu, sistem rumah ini bukan cabang dari protokol.”

“Kesimpulan itu belum bisa ditarik,” kata NARA.

“Namun, kemungkinan itu ada.”

“Ya.”

Arga memandang rumah.

“Apakah kau bisa membuka semua arsipnya?”

“Tidak. Ada lapisan keamanan yang hanya merespons kehadiran manusia tertentu.”

“Siapa?”

“Belum diketahui.”

Tiba-tiba, suara lain masuk ke kanal komunikasi.

Bukan suara NARA.

Bukan pula suara sistem.

Suara seorang anak perempuan.

“Arga, jangan biarkan mereka membawaku ke ruangan bawah.”

Nadira tersentak.

Ia mengenali suara itu.

Suara yang sama dengan suara dari rekaman di Ruang Kelahiran.

Suara seorang anak yang seharusnya tidak berada di rumah Jenderal Wiratama.

“Siapa kau?” tanya Arga.

Tidak ada jawaban.

Hanya napas pendek dan suara seperti seseorang sedang bersembunyi.

Lalu anak itu berbisik.

“Kalau perempuan di pintu itu benar-benar Raras, tanyakan apa yang dia lakukan pada malam api.”

Sambungan terputus.

Arga mengangkat wajah.

Raras masih berdiri di pintu.

Jenderal kini tidak lagi tampak tenang.

Maya menatap Raras dengan sorot mata yang berubah tajam.

“Apa yang terjadi pada malam kebakaran?” tanya Arga.

Raras tidak menjawab.

“Anak itu mengatakan kau harus menjelaskan apa yang kaulakukan malam itu.”

“Anak yang mana?”

“Perempuan yang baru saja berbicara melalui jaringan.”

Raras memandang langit-langit rumah sejenak.

Kemudian ia menoleh kepada Arga.

“Masuklah.”

“Jawab pertanyaanku.”

“Kalau aku menjawabnya di sini, kau tidak akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

“Dan kalau aku masuk?”

“Kau mungkin akan membenciku.”

Arga menatapnya lama.

“Aku sudah cukup lama hidup dengan orang-orang yang menganggap kebencian adalah harga yang harus kubayar untuk mengetahui kebenaran.”

Ia melangkah melewati pagar.

“Sekarang aku ingin mendengar kebenarannya.”

Bagian dalam rumah itu hampir tidak berubah.

Ruang tamu masih memiliki sofa cokelat tua. Lemari kaca di dekat dinding masih menyimpan beberapa piala dan buku milik Jenderal. Sebuah jam kayu tergantung di atas pintu menuju ruang makan.

Jarumnya berhenti pada pukul 02.17.

Arga menatapnya.

“Jam ini masih rusak?”

“Tidak,” jawab Raras. “Jam itu sengaja dihentikan.”

“Kenapa?”

“Karena pada pukul 02.17, seseorang membuat keputusan yang mengubah kehidupan kalian semua.”

“Siapa?”

Raras berjalan menuju ruang makan.

“Duduklah.”

“Tidak.”

Raras berhenti.

“Aku tidak akan duduk sebelum kau menjawab pertanyaanku.”

Perempuan itu memandang Arga, kemudian menghela napas.

“Baik. Pada malam kebakaran itu, aku berada di fasilitas penelitian. Aku menerima perintah untuk membawa seorang anak keluar dari ruangan pemulihan.”

“Anak yang mana?”

“Arga.”

Jenderal yang baru masuk menutup pintu rumah dengan keras.

“Cukup!”

Raras menoleh kepadanya.

“Kau tidak lagi memiliki hak untuk menyuruhku diam.”

“Aku menyelamatkannya!”

“Ya. Setelah kau memastikan anak yang lain tetap berada di dalam.”

B berdiri membeku di samping Nadira.

Burung kertas di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

Arga menatap Jenderal.

“Apakah itu benar?”

Jenderal tidak menjawab.

“Apakah kau meninggalkan anak kedua di fasilitas?”

“Aku mengikuti perintah evakuasi.”

“Perintah dari siapa?”

Lihat selengkapnya