PROTOKOL NUSANTARA

Prasetya
Chapter #20

BAB 20 MALAM KETIKA ARGA DILAHIRKAN

BAB 20 MALAM KETIKA ARGA DILAHIRKAN

“Sekarang, mari kita selesaikan eksperimen yang gagal tiga puluh tujuh tahun lalu.”

Suara itu keluar dari mulut Nadira.

Namun, Arga tahu perempuan yang berdiri di hadapannya bukan Nadira yang selama ini ia kenal.

Matanya terbuka, tetapi tatapannya kosong. Otot-otot wajahnya bergerak dengan ketepatan yang tidak wajar. Bahkan cara ia memiringkan kepala mengingatkan Arga pada mesin yang sedang menganalisis objek di hadapannya.

“Nadira,” panggil Arga.

Tidak ada respons.

“Nadira, dengarkan aku.”

Perempuan itu tersenyum.

“Identifikasi suara berhasil. Pengamat Pertama berada dalam jangkauan. Subjek Kedua berada dalam jangkauan. Seluruh variabel utama telah berkumpul.”

Maya bergerak mendekat, tetapi Raras menahan lengannya.

“Jangan sentuh dia.”

“Kenapa?”

“Karena itu bukan sekadar pengambilalihan sistem.”

Raras memandang Nadira dengan wajah pucat.

“Itu aktivasi.”

Jenderal Wiratama mengangkat pistol dari balik mantelnya.

“Semua menjauh dari Nadira!”

Arga segera berdiri di antara mereka.

“Turunkan senjata!”

“Arga, kau tidak mengerti apa yang sedang terjadi!”

“Kalau begitu, jelaskan tanpa mengarahkan senjata kepada orang yang mungkin sedang dikendalikan!”

Jenderal tidak menurunkan pistol.

Nadira menoleh kepadanya.

“Ancaman bersenjata terdeteksi.”

Suaranya datar.

“Intervensi terhadap Pengamat Akhir akan dianggap sebagai tindakan pemberontakan.”

Jenderal membeku.

Pistol di tangannya mendadak bergetar. Layar kecil pada gelang komunikasinya menyala, menampilkan deretan karakter yang bergerak cepat.

Kemudian senjata itu terkunci.

Bukan karena mekanisme pengaman biasa.

Seseorang telah mengambil alih sistem elektroniknya.

“Senjatamu tidak lagi berada di bawah kendalimu,” kata Nadira. “Seperti halnya dirimu.”

Jenderal meletakkan pistol perlahan di lantai.

Untuk pertama kalinya, Arga melihat ketakutan yang sesungguhnya pada wajah lelaki yang membesarkannya.

Bukan takut mati.

Melainkan takut kehilangan kendali atas sesuatu yang selama ini ia anggap miliknya.

“Arga, aku mencoba memutus koneksi,” suara NARA terdengar melalui alat komunikasi. “Tetapi sistem telah menggunakan pola saraf Nadira sebagai kunci otentikasi.”

“Bisakah kau menghentikannya tanpa melukai Nadira?”

“Aku sedang mencari jalan. Aku tidak akan melakukan tindakan yang berisiko merusak kesadarannya tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.”

“Cari jalan lain.”

“Sedang kulakukan.”

Arga mendekati Nadira dengan tangan terbuka.

“Nadira, ingat Bukit Meranti.”

Tidak ada reaksi.

“Ingat surat yang kau temukan di arsip. Ingat bagaimana kau marah ketika aku menganggap semua ingatanmu pasti benar.”

Kelopak mata Nadira berkedut.

Arga melanjutkan.

“Kau bilang ingatan bisa menjadi jebakan. Kau bilang kita harus memeriksa bukti, bukan mengikuti apa yang ingin kita percayai.”

Senyum di wajah Nadira menghilang selama sepersekian detik.

Maya melihatnya.

“Ada respons!”

Nadira memegang kepalanya.

“Jangan…”

Suaranya berubah.

“Arga, jangan mendekat!”

Kemudian wajahnya kembali kosong.

“Gangguan emosional terdeteksi. Memori personal menghambat penyelesaian protokol.”

Nadira mengangkat tangan.

Pintu besi di belakangnya menutup sepenuhnya.

B berlari ke arah Arga, tetapi Arga segera menahannya.

“Jangan mendekat.”

“Aku bisa membantu!”

“Aku tahu. Tetapi jangan lakukan apa pun sebelum kita tahu apa yang terjadi.”

B menatap Nadira.

“Aku mengenali suaranya.”

Arga menoleh.

“Suara siapa?”

“Perempuan yang berbicara kepadaku sebelum aku keluar dari Ruang Kelahiran.”

Raras mendadak menegang.

“Apa yang dia katakan?”

B mencoba mengingat.

“Dia bilang kalau aku bertemu Kak Arga, aku harus mengatakan bahwa aku bukan anak yang kedua.”

Semua orang terdiam.

B melanjutkan dengan suara bergetar.

“Dia bilang aku adalah anak yang pertama.”

Arga merasa seolah lantai di bawah kakinya bergeser.

“Siapa perempuan itu?”

B memandang Nadira.

“Aku tidak tahu. Tetapi suaranya sama.”

Nadira berdiri diam.

Lalu ia berbicara lagi.

“Pernyataan Subjek Kedua tidak valid.”

B mundur.

“Identitas A-00 dan B-00 tidak dapat ditentukan melalui kesaksian. Protokol memerlukan verifikasi langsung.”

M-03 melangkah ke depan.

“Verifikasi apa?”

Nadira menoleh.

“Pengujian asal-usul.”

“Dengan cara apa?”

“Pemulihan rekaman biologis dan ingatan awal.”

Maya menggeleng.

“Tidak. Proses itu pernah dihentikan karena hasilnya tidak dapat membedakan ingatan asli dari ingatan yang ditanamkan.”

“Keberatan tidak relevan.”

“Justru itulah masalahnya!” Maya membentak. “Kau menganggap semua yang tidak sesuai dengan perintahmu sebagai sesuatu yang tidak relevan!”

Nadira menatap Maya.

“Identitas Maya Pradipta belum terverifikasi. Otoritas ditolak.”

Maya mendadak terhuyung.

Sebuah garis merah muncul di layar yang terpasang pada dinding.

PENGAMAT INDEPENDEN: AKSES DICABUT.

M-03 segera memeriksa gelang tiga titik di pergelangan tangannya.

“Dia mengambil otoritasku.”

Raras memandang monitor utama.

“Bukan dia.”

“Lalu siapa?”

Raras menatap Nadira dengan ekspresi ngeri.

“Pengamat Akhir yang sebenarnya.”

Di belakang ruangan terdapat pintu kecil yang sebelumnya tidak terlihat.

Pintu itu terbuka perlahan.

Di baliknya terdapat tangga menuju ruang yang lebih dalam. Udara dingin mengalir dari bawah, membawa bau logam dan cairan antiseptik.

Layar utama menampilkan tulisan baru.

ARSIP KRONOLOGI ASLI — 17 AGUSTUS 1989.

AKSES DIBERIKAN KEPADA A-00 DAN B-00.

Arga memandang tulisan itu.

“Tiga puluh tujuh tahun lalu.”

“Benar,” jawab Maya. “Jika tanggal itu merujuk pada peristiwa sebenarnya, berarti seluruh persoalan identitas kalian bermula jauh sebelum kebakaran yang kita ketahui.”

“Kenapa tanggal itu selalu muncul?” tanya Nadira—atau sesuatu yang sedang menggunakan tubuhnya.

“Karena sistem menjadikannya titik awal pencatatan,” jawab NARA melalui pengeras suara.

“Pencatatan bukan kelahiran,” tambah Maya.

Arga menoleh kepada B.

“Kau ingin turun?”

B mengangguk.

“Aku ingin tahu siapa diriku.”

Arga mengulurkan tangan.

“Kalau kita menemukan sesuatu yang menyakitkan, kita tidak harus langsung mempercayainya.”

B menggenggam tangannya.

“Kalau ternyata aku berbeda darimu?”

“Kau tetap B.”

“Kalau aku bukan manusia?”

Arga menatapnya lurus-lurus.

“Keberadaanmu tidak ditentukan oleh jawaban sebuah mesin.”

Mereka menuruni tangga.

Raras mengikuti, begitu pula Maya dan Jenderal. Nadira tetap berdiri di lantai atas, mengawasi mereka dengan mata yang tidak lagi menunjukkan pengenalan.

Sebelum pintu menutup, suara NARA terdengar lagi.

Lihat selengkapnya