Jakarta pada bulan Mei tidak pernah benar-benar terbangun. Ia hanya berpindah dari satu jenis kelelahan ke jenis kelelahan yang lain, dari dengkur knalpot semalaman ke deru yang lebih riuh saat fajar mengiris kabut industri menjadi jingga pucat, warna telur yang terlanjur pecah sebelum sempat menetas.
Di jalan-jalan yang belum sepenuhnya bangun itu, kota membunyikan dirinya sendiri: derit roda gerobak yang didorong menembus asap, teriakan penjual nasi goreng yang sudah hafal pelanggan tetapnya, deru ratusan sepeda motor yang bergerak seperti sekawanan tawon yang telah lama kehilangan sarangnya. Sebuah bus kota meraung, mengeluarkan asap hitam dari knalpotnya, membawa penumpang yang berdesakan seperti muatan yang tak sempat dipikirkan kenyamanannya. Di antara semua itu, reruntuhan bangunan kolonial dari tahun dua puluhan berdiri berdampingan dengan rangka baja gedung pencakar langit yang belum juga rampung, dua zaman yang terjebak dalam ruang yang sama, tak satu pun benar-benar selesai, tak satu pun benar-benar sudah pergi.
Di tengah kesementaraan itu, SMA Negeri Satya Negara berdiri seperti monumen bagi sesuatu yang telah lama membusuk dari dalam. Dibangun oleh Belanda pada masa penjajahan, catnya yang dulu putih kini menguning seperti gigi yang tak lagi disikat dengan sepenuh hati. Genteng-genteng merahnya hilang di sana-sini, menyisakan celah pada atap yang tampak seperti senyum yang patah di beberapa giginya. Jendela-jendelanya berjeruji besi, bukan untuk mencegah orang luar masuk, melainkan untuk memastikan yang di dalam tetap di dalam.
Reza Mahendra berjalan melalui gerbang itu tanpa menoleh ke spanduk yang berkibar di atas pintu masuk: DISIPLIN ADALAH KUNCI SUKSES, kainnya pudar, tepinya berjumbai, sudah tak dibaca siapa pun karena pesannya sudah lama menjadi bagian dari udara yang mereka hirup tanpa disadari.
Ia berjalan dengan cara tertentu, bukan cepat, bukan lambat, melainkan dengan kecepatan yang tepat untuk tidak menarik perhatian siapa pun. Ia telah mempelajari ritme itu sejak kecil, mungkin sejak sebelum ia sanggup mengingatnya: cara menempatkan langkah agar tidak menabrak, cara menempatkan mata agar tidak terlalu lama menatap siapa pun, cara menempatkan diri agar selalu berada di tengah kerumunan, tak pernah di depan, tak pernah tertinggal jauh di belakang. Ia telah belajar menjadi tepat cukup terlihat untuk tidak dicurigai menyembunyikan sesuatu, dan tepat cukup tak terlihat untuk tidak pernah diperhatikan.
Di sampingnya, Arya Prasetyo tidak memiliki kemewahan semacam itu.
Rambut Arya sedikit lebih panjang dari yang diizinkan peraturan, sebuah pemberontakan kecil yang lahir bukan dari niat melainkan dari kemalasan yang keras kepala untuk pergi ke tukang cukur. Seragamnya selalu kusut meski ibunya telah menyetrikanya dengan segenap tenaga yang ia punya sebelum berangkat kerja. Tangan Arya tak pernah benar-benar diam; matanya melompat dari satu titik ke titik lain seolah dunia ini terlalu penuh untuk dilihat dalam satu arah saja. Dalam sepuluh detik berjalan bersama, ia sudah menabrak tiga orang, dua siswa dan satu tiang bendera, sementara Reza, tanpa berusaha, menemukan celah di antara kerumunan seperti air yang tahu ke mana harus mengalir.
Mereka telah menjadi sahabat sejak sekolah dasar, delapan tahun yang tak pernah benar- benar dipisahkan oleh apa pun, bukan kelas yang berbeda, bukan pertengkaran kecil, bukan bahkan perbedaan yang, jika direnungkan dengan jujur, sudah lama membelah mereka menjadi dua jenis manusia yang kebetulan berjalan berdampingan.
Delapan tahun itu bukan sekadar angka yang bisa disebutkan begitu saja. Ia dimulai di sebuah sekolah dasar negeri di sudut Jakarta Barat, pada hari ketika seorang anak lelaki kurus bernama Arya Prasetyo, dalam usahanya memanjat pohon mangga di halaman belakang sekolah untuk membuktikan sesuatu kepada anak-anak kelas lima yang lebih besar, terjatuh dan mematahkan pergelangan tangannya, dan seorang anak lelaki lain, lebih pendiam, lebih berhati- hati, bernama Reza Mahendra, adalah satu-satunya yang tidak ikut tertawa bersama teman-teman lainnya, melainkan berlari mencari guru piket sambil menahan tangis Arya yang mencoba terlihat kuat di depan anak-anak yang baru saja menertawakannya.
"Kenapa kamu enggak ketawa kayak yang lain?" tanya Arya beberapa hari kemudian, lengannya masih dibalut gips putih yang telah dipenuhi coretan-coretan teman sekelas.
"Karena enggak lucu," jawab Reza sederhana, sebuah jawaban yang, bagi anak berusia delapan tahun, sudah cukup untuk menjadi dasar sebuah persahabatan yang akan bertahan delapan tahun berikutnya.
Mereka tumbuh bersama dengan cara yang saling melengkapi tanpa pernah benar-benar disadari keduanya, Arya yang selalu mencoba hal-hal yang tak seharusnya ia coba, memanjat pagar yang terlalu tinggi, berenang di kali yang terlalu dalam, bertanya kepada guru pertanyaan- pertanyaan yang membuat teman sekelas lain menahan napas; dan Reza yang, tanpa pernah diminta, selalu berada di dekatnya, bukan untuk mencegahnya, melainkan untuk memastikan seseorang akan berlari mencari bantuan jika petualangan itu berakhir buruk.
Suatu kali, di kelas enam, seorang guru bertanya kepada seluruh kelas apa cita-cita mereka. Arya, tanpa ragu, mengangkat tangan dan berkata ingin menjadi wartawan, "biar bisa nulis hal-hal yang orang lain takut nulis." Beberapa anak tertawa. Guru itu hanya tersenyum tipis dan pindah ke murid berikutnya tanpa berkomentar lebih jauh, sebuah keheningan kecil yang, bertahun- tahun kemudian, akan terasa seperti sebuah pertanda yang tak seorang pun di ruangan itu cukup peka untuk menyadarinya.
Reza, ketika gilirannya tiba, menjawab ingin menjadi "orang yang kerja di bank," sebuah jawaban yang aman, yang tak akan pernah membuat siapa pun tertawa atau terdiam, dan yang, ia sadari bertahun-tahun kemudian, mungkin adalah cita-cita paling jujur yang pernah ia ucapkan tentang dirinya sendiri: keinginan untuk menjadi seseorang yang tak pernah menarik perhatian dengan cara yang salah.
Mereka melanjutkan ke SMP yang sama, lalu SMA yang sama, persahabatan mereka menjadi sesuatu yang begitu dianggap wajar oleh semua orang di sekitar mereka hingga tak seorang pun, termasuk mereka sendiri, pernah benar-benar mempertanyakan bagaimana dua anak dengan cara memandang dunia yang begitu berbeda bisa tetap berjalan berdampingan selama itu. Jawabannya, yang baru akan mereka pahami bertahun-tahun kemudian, sesederhana ini: mereka tidak pernah benar-benar berbeda dalam apa yang mereka pedulikan, hanya berbeda dalam apa yang berani mereka lakukan terhadap kepedulian itu.
• • •
Perbedaan itu sederhana namun mendasar: Reza telah belajar bagaimana menjadi tak terlihat, sementara Arya belum, atau tak pernah mau, belajar hal yang sama.
Mereka berhenti di air mancur dekat lapangan, seperti biasa, seolah keduanya membutuhkan jeda kecil sebelum melangkah ke dalam gedung yang menelan mereka setiap hari selama tujuh jam. Air yang mengalir dari keran karatan itu terasa hangat, hampir tak menyegarkan, tapi mereka meneguknya juga, bukan karena haus, melainkan karena berdiri di sana memberi alasan untuk menunda satu-dua menit lagi sebelum masuk.
"Kudengar Rani akan mempresentasikan esainya hari ini," kata Arya, suaranya direndahkan meski tak ada yang cukup dekat untuk mendengar. Matanya menyapu wajah-wajah di sekitar mereka, kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang darinya meski ia sendiri tampak tak sadar sedang melakukannya. "Jam pertama. Kelas Pak Teguh."