PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #2

Pertanyaan yang Mahal

Ada sebuah kebiasaan yang dimiliki Rani Kusuma sejak kecil, sesuatu yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun karena ia sendiri tak yakin bagaimana menjelaskannya: ia mengumpulkan pertanyaan seperti anak-anak lain mengumpulkan perangko atau kelereng.

Bukan pertanyaan sembarangan. Bukan pula pertanyaan yang bisa dijawab dengan cepat oleh gurunya di depan kelas, lalu selesai begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan yang ia kumpulkan adalah jenis yang menetap, yang tumbuh lebih besar setiap kali ia mencoba mengabaikannya, seperti biji yang jatuh di celah retakan trotoar dan tetap tumbuh meski tak seorang pun menyiraminya.

Mengapa harus begini?

Pertanyaan itu pertama kali muncul, sejauh yang bisa ia ingat, ketika ia berusia sembilan tahun, duduk di ruang tamu rumah kontrakan keluarganya di daerah Tanah Abang, mendengar ayahnya, seorang pegawai rendahan di kantor kelurahan, menceritakan kepada ibunya bagaimana ia harus menandatangani sebuah surat yang isinya ia sendiri tak sepenuhnya pahami, karena atasannya bilang begitu, dan menolak bukanlah pilihan yang tersedia bagi orang seperti mereka.

"Kenapa Ayah tidak tanya dulu isinya apa?" Rani ingat pernah bertanya begitu, dan ingat pula bagaimana ayahnya menatapnya lama sebelum menjawab, dengan nada yang lebih lelah daripada marah: "Karena bertanya itu mahal, Nak. Kadang lebih mahal daripada yang bisa kita bayar."

Ia tak sepenuhnya mengerti jawaban itu waktu kecil. Ia mengerti sekarang, di usia enam belas tahun, dengan pemahaman yang jauh lebih pahit daripada yang pernah ia bayangkan bisa dirasakan oleh seorang anak SMA.

Rumah kontrakan mereka sekarang sudah berpindah dua kali, masing-masing lebih kecil dari yang sebelumnya, seiring dengan gaji ayahnya yang tak pernah benar-benar naik meski inflasi terus menggerogoti nilai rupiah setiap tahun. Ibunya menjahit di rumah untuk tambahan penghasilan, kebaya pesanan tetangga, seragam sekolah yang perlu diperbaiki, kadang gorden untuk rumah orang yang lebih mampu. Rani tumbuh di antara suara mesin jahit yang berderit dan bau kain baru yang menguar dari ruang tamu yang berfungsi ganda sebagai ruang kerja ibunya.

Ia bukan anak yang pandai bergaul. Ia tahu itu, dan sudah lama berdamai dengannya, atau setidaknya berpura-pura sudah berdamai, karena kesepian, jika dijalani cukup lama, bisa terasa seperti sesuatu yang wajar, bahkan nyaman, meski sebenarnya bukan. Ia punya dua atau tiga teman yang bisa diajak bicara di kantin, tapi tak seorang pun yang benar-benar tahu tentang buku catatan kecil yang selalu ia bawa di tas ranselnya, buku bersampul biru murah yang halaman-halamannya penuh dengan tulisan tangan rapat, pertanyaan demi pertanyaan yang ia catat setiap kali sesuatu terasa janggal namun tak seorang pun di sekitarnya tampak menyadarinya.

Mengapa kita harus menghafal pidato kenegaraan kata demi kata, sementara tak seorang pun diminta menjelaskan apa artinya?

Mengapa nilai ujian nasional menentukan seluruh masa depan seseorang, padahal soal- soalnya hanya mengukur seberapa baik seseorang menebak jawaban yang diinginkan pembuat soal?

Lihat selengkapnya