Ruang kelas itu tersusun dalam grid yang kaku, delapan baris, lima kolom, empat puluh meja yang berjejer dengan presisi geometris yang tak pernah berubah sejak awal tahun ajaran. Dinding-dindingnya berwarna hijau institusional yang telah lama pudar, mengelupas di beberapa sudut seperti kulit mati yang memperlihatkan lapisan kerusakan yang terus bertambah setiap tahun tanpa pernah diperbaiki. Di bagian depan, sebuah papan tulis hitam yang retak di salah satu sudutnya dipenuhi bekas debu kapur yang tak pernah benar-benar bersih, betapapun sering dihapus. Di sampingnya berdiri meja guru, terbuat dari kayu jati yang berat dan kokoh, sebuah monumen kekuatan yang tampaknya dirancang untuk bertahan jauh lebih lama daripada daging dan tulang siapa pun yang pernah duduk di ruangan itu.
Di sebelah kiri, jendela-jendela berjeruji menghadap tembok bata yang berjarak tak lebih dari lima meter. Tak ada langit yang terlihat dari sana. Tak ada apa pun yang bisa disebut jalan keluar, kecuali tembok bata yang berdiri diam, seolah ikut menjadi bagian dari kurikulum yang tak tertulis: bahwa dunia di luar ruangan ini tak perlu dilihat, apalagi dipikirkan.
Para siswa berbaris masuk dengan gerakan yang nyaris seragam, seperti koreografi yang telah dihafal luar kepala tanpa perlu lagi dipikirkan, bukan karena diperintah, melainkan karena pengulangan bertahun-tahun telah mengubahnya menjadi sesuatu yang otomatis, semacam ingatan yang tersimpan bukan di kepala melainkan di otot.
Rani sudah berdiri di depan ketika Reza dan Arya masuk.
Ia telah berdiri di sana, seperti yang kemudian diketahui Reza, selama lebih dari lima belas menit, sebuah patung kecil dengan kertas yang digenggam erat di kedua tangannya, tangan yang gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya. Ibu jarinya menekan tombol pulpen plastik di genggamannya berulang kali, sebuah bunyi klik kecil yang, dalam keheningan ruangan, terdengar mengejutkan jelas, ceklek, ceklek, ceklek, ritme cepat yang mengkhianati kegugupan yang berusaha keras ia tekan. Ujung ibu jarinya mulai memerah karena tekanan yang terus-menerus, dan di saku seragam putihnya, sebuah noda tinta biru kecil mulai merembes keluar dari pulpen yang bocor karena terlalu sering ditekan.
Reza melihatnya dari ambang pintu, dan sesuatu di perutnya langsung terasa mual, bukan karena terkejut, sebab ia sudah tahu ini akan terjadi sejak Arya membisikkannya di air mancur tadi, melainkan karena ketakutan yang begitu nyata, seperti menyaksikan sebuah kecelakaan yang bergerak dalam gerakan lambat, di mana setiap detik memberi cukup waktu untuk melihat betapa mengerikannya yang akan terjadi, namun tak cukup waktu untuk menghentikannya.
Siswa-siswa lain berbisik-bisik di sekitarnya, mata mereka melirik ke arah Rani sesaat lalu buru-buru berpaling, seolah memperlakukannya seperti sebuah penyakit menular yang cukup dilihat sekali untuk tertular. Di dekat jendela, Doni, anak lelaki bertubuh kekar dengan wajah bulat yang selalu tampak gugup, mencondongkan tubuhnya ke siswa di sebelahnya, berbisik dengan nada yang setengah cemas setengah penasaran.
"Kenapa dia cuma berdiri di sana kayak gitu?"
"Pak Teguh sengaja bikin dia nunggu," bisik siswa di sebelahnya. "Perang psikologis. Aku pernah lihat dia lakuin itu sebelumnya."
"Dia gila," sahut yang lain, lebih pelan lagi. "Ngapain sih dia nulis esai itu?"
"Katanya dia ngritik sistem ujian nasional. Bilang itu otoriter. Bilang itu ngerusak kemampuan mikir kritis."
Kata itu, otoriter, menyebar di antara barisan bangku seperti angin yang menerpa rumput kering, membuat beberapa siswa menahan napas tanpa sadar. Itu adalah kata yang tak biasa diucapkan di ruangan semacam ini, kata yang membawa bobot yang jauh lebih berat daripada bunyinya sendiri.
"Dia sudah tamat," gumam yang lain. "Bener-bener tamat. Pak Teguh bakal ngancurin dia."
Reza dan Arya berjalan menuju tempat duduk mereka, baris ketiga, seperti biasa, Reza di tengah dan Arya di dekat jendela, wilayah yang telah mereka klaim lewat pengulangan tahun demi tahun tanpa pernah membicarakannya secara eksplisit. Reza tak bisa berhenti memandangi Rani. Ia tampak begitu kecil di depan sana, begitu rentan, begitu sendirian, dan seluruh dirinya, dari dada hingga ujung jari, seperti berteriak sesuatu yang tak bisa ia ucapkan: tolong dia, katakan sesuatu, lakukan sesuatu. Namun bagian lain dari dirinya, bagian yang telah bertahun-tahun dilatih untuk bertahan hidup, membisikkan hal yang berlawanan, lebih pelan namun lebih keras kepala: tetap tenang, tetap aman, bertahan hidup.
Ia menunduk, membuka buku catatannya, berpura-pura membaca sesuatu yang sebenarnya tak sanggup ia baca sama sekali. Pengecut, pikirnya, membenci dirinya sendiri karena pikiran itu, namun tetap melakukannya juga.
Di depan kelas, Pak Teguh Wibowo duduk santai di mejanya, membaca koran Kompas seolah tak ada yang menunggu, seolah gadis di depannya adalah bagian dari perabot ruangan yang bisa diabaikan sesuka hati. Kemeja batiknya disetrika hingga berlipat rapi, kacamata tebalnya memantulkan cahaya lampu neon di atas kepala sehingga matanya tak sepenuhnya terlihat. Wajahnya seperti dipahat dari batu granit, tanpa kehangatan, tanpa belas kasihan, hanya otoritas yang telah lama tak lagi membutuhkan penjelasan untuk membenarkan dirinya sendiri.
Ia membalik halaman koran itu dengan sengaja perlahan. Membuat Rani menunggu. Membuatnya menderita sebelum satu kata pun diucapkan, sebuah bentuk dominasi yang tak memerlukan suara untuk terasa mengerikan.
Jam dinding di atas papan tulis berdetak, tik, tik, tik, dan setiap detiknya terasa memanjang, seolah waktu sendiri ikut menahan napas. Rani menggeser berat badannya dari kaki kiri ke kaki kanan, lalu kembali lagi, kertas di tangannya berdesir pelan karena getaran yang tak bisa ia hentikan. Sebuah robekan kecil muncul di tempat ibu jarinya mencengkeram terlalu keras; ia menyadarinya, melonggarkan genggamannya sedikit, tapi tak bisa berhenti gemetar sepenuhnya.
Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti keabadian yang dipadatkan menjadi lima menit, Pak Teguh menyingkirkan korannya. Ia melipatnya dengan lipatan yang presisi, tepian yang sempurna, semuanya terkendali, sebuah gestur kecil yang, tanpa disadari siapa pun di ruangan itu, sudah menjadi pengumuman: dari titik ini, tak ada lagi yang boleh berjalan di luar kendalinya.
Ia berdiri perlahan. Kursinya bergesekan dengan lantai keramik, suara yang terdengar mengejutkan keras di tengah keheningan yang mendadak turun ke seluruh ruangan. Suara sepatu Oxfordnya yang dipoles hingga mengkilap seperti cermin berbunyi klip, klip, klip di atas ubin, sepatu yang harganya, sebagaimana yang pernah dibisikkan seorang siswa senior tahun lalu, lebih mahal daripada penghasilan bulanan sebagian besar keluarga murid-muridnya.
Ia berjalan mengelilingi Rani perlahan, seperti seekor predator yang mengintari mangsanya yang telah terluka, sebelum akhirnya berhenti tepat di belakangnya, cukup dekat untuk terasa seperti pelanggaran, cukup dekat sehingga Rani tak bisa melihatnya, hanya bisa merasakan kehadirannya sebagai beban yang menekan tengkuknya.
"Sistem inilah yang membangun bangsa ini," kata Pak Teguh akhirnya, suaranya tenang, hampir seperti sedang mengajar dengan penuh kesabaran. "Sistem ini telah melahirkan para insinyur, dokter, dan pemimpin. Dirancang oleh para ahli, disahkan oleh negara, diberkati oleh Presiden sendiri."
Ia mencondongkan tubuhnya. "Lalu, ada kamu. Enam belas tahun. Tanpa kualifikasi. Tanpa mandat. Hanya seorang remaja dengan\... perspektif yang terbatas."
Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan itu bekerja sendiri, membiarkan rasa takut menggenang sebelum diguncang lagi.
"Dan menurutmu," lanjutnya, suaranya turun menjadi desisan rendah dan tajam, "sistem ini rusak?"
Sebuah tawa gugup meletus dari belakang kelas, lalu berhenti seketika saat kepala Pak Teguh bergeser sedikit ke arah asal suara itu. Keheningan kembali, total, sempurna, mutlak, seolah seorang konduktor baru saja menghentikan seluruh orkestra di tengah nada.
Pak Teguh mengangkat satu tangannya, gerakan kecil, namun mengandung kekuatan yang luar biasa, sebuah isyarat yang tak perlu kata-kata untuk dipahami semua orang di ruangan itu.
"Angkat tangan, silakan," katanya, berbalik menghadap kelas, menjauh dari Rani untuk pertama kalinya. "Berapa banyak siswa di kelas ini yang setuju dengan penilaian Nona Kusuma? Berapa banyak dari kalian yang berpikir bahwa sistem pendidikan kita pada dasarnya rusak?"
Empat puluh siswa. Empat puluh tangan tetap tertunduk di atas meja masing-masing.