Setelah Rani duduk, Pak Teguh belum juga selesai.
Ia berjalan lagi di antara deretan meja, tangannya terlipat rapi di belakang punggung, tenang dan terukur seperti seseorang yang sedang mengendalikan setiap inci oksigen di dalam ruangan itu, dan mungkin memang begitulah yang ia rasakan, pikir Reza, dari balik buku catatannya yang tak sanggup lagi ia baca.
"Dengar baik-baik," kata Pak Teguh. "Saya ingin kejelasan. Tanpa ambiguitas." Ia berhenti sejenak, mengetuk sebuah meja dengan buku jarinya, tok, tok, seolah sedang mengetuk pintu kesadaran setiap siswa yang duduk di ruangan itu. "Berpikir kritis itu penting. Saya sangat mendukungnya. Sangat."
Ia melangkah lagi, kali ini menuju papan tulis, mengambil sebatang kapur baru.
"Tapi, dan ini poin utamanya, berpikir kritis punya tempat. Punya waktu. Dan punya metode yang bisa diterima."
Ia menulis di samping tulisan sebelumnya, huruf-hurufnya besar dan tegas: BERPIKIR UNTUK SISTEM, BUKAN MELAWAN SISTEM. Debu kapur menempel di jari-jarinya seperti cat perang, seperti tanda otoritas yang tak perlu lagi dijelaskan kepada siapa pun.
"Berpikir kritis yang mendukung tujuan kolektif kita, yang memperkuat stabilitas sosial, yang membantu kita maju bersama secara harmonis, hal itu membangun bangsa, bukan sebaliknya," lanjutnya, berbalik menghadap kelas. "Itu bagus. Itu berharga. Itulah yang dilakukan warga negara yang terdidik, bertanggung jawab, dan patriotik."
Ia menunjuk ke arah para siswa dengan kapur di tangannya, sebuah gerakan yang terasa seperti tuduhan meski tak seorang pun disebut namanya.
"Namun pemikiran kritis yang menciptakan perpecahan, yang mempertanyakan landasan yang telah kita sepakati bersama, yang menempatkan pendapat seorang remaja di atas kebijaksanaan jutaan orang dewasa, yang meninggikan perspektif individu di atas konsensus nasional, " Ia berhenti sejenak, membiarkan bobot kalimat itu meresap sebelum melanjutkan, ", itu bukan berpikir kritis. Itu kesombongan. Itu keegoisan. Itu kekacauan yang menyamar sebagai kecerdasan. Racun Barat yang menyamar sebagai pencerahan."
Hanya dengungan lampu neon yang mengisi keheningan setelahnya. Di suatu tempat, perut seorang siswa berbunyi keras, dan pergeseran kecil yang canggung menyusul, meski tak seorang pun berani tertawa. Di luar jendela, Jakarta terus bergemuruh dengan lalu lintasnya, para pedagang terus memanggil-manggil pembeli, kehidupan normal terus berjalan tanpa peduli pada apa yang sedang runtuh di dalam ruangan berjeruji ini.
"Dipahami?" tanya Pak Teguh.
Tidak ada yang menjawab. Pertanyaan itu menggantung, menuntut, tak akan berlalu tanpa dijawab, namun para siswa duduk kaku, takut berbicara, takut bergerak, takut menjadi yang berikutnya.
"Saya bertanya," ulangnya, suaranya menebal menjadi perintah, "mengerti?"
"Baik, Pak," jawab seluruh kelas serentak, dalam keseragaman yang sempurna, otomatis, terlatih, seperti paduan suara, seperti sebuah sekte, seperti peleton yang menanggapi perintah komandan. Sepuluh ribu pengulangan sejak sekolah dasar telah mengubah kepatuhan menjadi refleks, respons yang tak lagi memerlukan pemikiran sama sekali.
Senyum Pak Teguh melebar, meski tak pernah benar-benar mencapai matanya. "Luar biasa. Sangat bagus. Sangat patuh. Ini membuat saya senang."
Ia kembali ke mejanya, membuka buku nilai, pena merahnya siap seperti sebuah senjata. Ia membalik halaman, mencari nama-nama kelas ini, matanya menyapu daftar seperti lampu sorot yang menyusuri halaman penjara.
"Ujian nasional tinggal empat belas hari lagi," katanya. "Saya telah mempersiapkan kalian dengan matang sepanjang tahun ini. Kalian tahu persis apa yang perlu dihafalkan. Kalian tahu persis jawaban mana yang benar. Kalian tahu pendapat mana yang bisa diterima." Ia mengangkat pandangannya. "Jika ada siswa di kelas ini, siapa pun, yang tidak setuju dengan metode pengajaran saya, filosofi pendidikan saya, atau perspektif saya tentang prioritas nilai sosial dan nasional yang benar\..."
Jeda itu berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya, ancaman menggantung di udara seperti sebilah pedang yang belum jatuh.
"\...kalian sepenuhnya bebas untuk memilih tidak mengikuti ujian. Bebas untuk tidak berpartisipasi. Bebas untuk abstain." Ia berhenti lagi, membiarkan kalimat itu tenggelam lebih dalam. "Dan juga bebas untuk menghadapi konsekuensi alami yang timbul dari pilihan tersebut."
Ia menatap langsung ke arah Rani, dan untuk sesaat gadis itu tampak seperti mengecil di kursinya, seolah tatapan itu sendiri memiliki berat fisik yang menekannya ke bawah.