Rani tidak datang ke sekolah keesokan harinya.
Pada mulanya, tak seorang pun benar-benar memperhatikannya. Absensi pagi berlangsung seperti biasa, guru piket membacakan nama-nama dengan nada datar yang sama seperti setiap hari, dan ketika nama Rani Kusuma disebut tanpa jawaban, ia hanya menandainya sebagai "alfa" di lembar absensi lalu melanjutkan ke nama berikutnya, tanpa jeda, tanpa tanda tanya. Ketidakhadiran bukanlah sesuatu yang aneh di sekolah ini, selalu ada siswa yang sakit, yang membantu orang tuanya berjualan, yang tak punya cukup uang untuk ongkos angkot hari itu. Satu ketidakhadiran, di hari biasa, tak lebih dari sebuah baris kosong di antara puluhan baris lainnya.
Reza baru menyadarinya saat istirahat pertama, ketika ia melewati bangku kosong di kelas dan merasakan sesuatu yang janggal, bukan karena bangku itu kosong, sebab bangku kosong bukan hal aneh, melainkan karena ia tahu, dengan kepastian yang tak bisa ia jelaskan, bahwa kekosongan ini berbeda.
"Kau lihat Rani?" tanyanya kepada Arya di kantin, mencoba membuat pertanyaan itu terdengar biasa saja, seolah sekadar basa-basi.
Arya menggeleng, tak mendongak dari nasi bungkusnya. "Enggak. Mungkin masih trauma. Siapa yang mau masuk sekolah sehari setelah dipermalukan kayak gitu."
Itu masuk akal. Cukup masuk akal untuk membuat Reza mengangguk dan melanjutkan makan siangnya, meski sesuatu di dalam perutnya belum sepenuhnya tenang.
Hari kedua, ketidakhadirannya mulai terasa lebih berat.
Guru piket, saat membacakan absen, berhenti sejenak sebelum nama Rani, seolah baru menyadari sesuatu yang tak biasa dalam pola dua hari berturut-turut. Ia mencatatnya lagi sebagai "alfa," namun kali ini dengan sedikit kerutan di dahinya, sebuah kerutan kecil yang, bagi siapa pun yang cukup memperhatikan, mungkin menandakan awal dari sesuatu yang lebih besar, meski tak seorang pun di ruangan itu cukup berani untuk bertanya lebih jauh.
Bisikan mulai menyebar di antara para siswa, pelan-pelan, dari satu telinga ke telinga lain seperti angin yang menembus rerumputan kering.
Katanya dia sakit.
Katanya keluarganya pindah rumah mendadak.
Katanya dia dikeluarkan.
Tak seorang pun benar-benar tahu versi mana yang benar, dan yang lebih mengganggu Reza daripada ketidakhadiran itu sendiri adalah betapa cepatnya cerita-cerita itu berganti, betapa mudahnya kebenaran yang tak diketahui digantikan oleh spekulasi yang terdengar cukup masuk akal untuk diterima tanpa pertanyaan lebih lanjut. Seolah-olah kepastian tidak sepenting rasa nyaman yang datang dari memiliki sebuah jawaban, apa pun jawabannya.
Ia mencoba bertanya kepada wali kelasnya, Bu Retno, seorang guru bahasa Indonesia yang selama ini dikenal cukup ramah dibandingkan guru-guru lain di sekolah itu.
"Bu, Rani kenapa ya? Sudah dua hari enggak masuk."
Bu Retno menatapnya sejenak, lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu, sebelum akhirnya berkata, suaranya lebih pelan dari biasanya, "Keluarganya sedang ada urusan. Jangan terlalu dipikirkan, Reza. Fokus saja ke ujian yang sudah dekat."