Arya tidak berhenti bertanya, meski ia belajar untuk melakukannya dengan lebih hati-hati.
Ia mulai dengan hal-hal kecil: menyalin nomor telepon kantor kelurahan tempat ayah Rani bekerja dari buku telepon umum di warung dekat rumahnya, menunggu tiga hari sebelum akhirnya cukup berani untuk meneleponnya dari telepon koin di ujung gang. Suara di seberang telepon terdengar seorang perempuan paruh baya, ramah pada mulanya, hingga Arya menyebutkan nama yang ia cari.
"Kusuma? Kami tidak punya pegawai dengan nama itu," kata suara itu, terlalu cepat, terlalu rapi, dengan nada yang sama seperti yang pernah didengar Reza dari Bu Retno beberapa minggu sebelumnya, kalimat yang terdengar seperti sudah disiapkan sebelum pertanyaan itu bahkan selesai diajukan.
"Bapak Kusuma," Arya mencoba lagi, "kerja di bagian administrasi. Sudah delapan tahun, setahu saya."
Jeda di seberang telepon berlangsung sedikit terlalu lama. "Tidak ada catatan pegawai dengan nama itu di sini, Dik. Mungkin Anda salah kelurahan."
Sambungan telepon terputus sebelum Arya sempat bertanya lagi.
Ia berdiri di dalam bilik telepon yang sempit dan pengap itu untuk beberapa menit, gagang telepon masih tergenggam di tangannya meski nada sambungnya sudah lama berubah menjadi bunyi putus yang datar. Sesuatu di dalam dirinya, yang selama ini masih berharap ada penjelasan sederhana untuk semua ini, mulai retak.
Ia mencoba jalan lain. Seorang sepupu jauh yang tinggal tak jauh dari kantor Departemen Pendidikan setempat, yang pernah membantu Arya sekali dua kali dengan tugas sekolah, bersedia menanyakan tentang mutasi siswa atas nama Rani Kusuma dari SMA Negeri Satya Negara. Jawaban yang kembali, seminggu kemudian, sama kosongnya: tidak ada catatan resmi tentang perpindahan siswa dengan nama itu ke sekolah mana pun di wilayah Jakarta atau sekitarnya.
Tidak ada catatan. Bukan "belum diproses," bukan "sedang dalam pengurusan", tidak ada catatan sama sekali, seolah nama itu tak pernah tercantum di mana pun sejak awal.
Arya menuliskan semua yang ia temukan, atau lebih tepatnya, semua yang tidak ia temukan, di sebuah buku catatan kecil bersampul hitam yang ia beli khusus untuk keperluan ini, sesuatu yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun, bahkan kepada Reza, meski keduanya masih berjalan pulang bersama setiap hari seperti biasa.
Ia tak sepenuhnya mengerti mengapa ia menyembunyikannya. Mungkin karena ia tahu, jauh di dalam dirinya, bahwa Reza akan mencoba membujuknya untuk berhenti, bukan karena Reza tak peduli, melainkan karena Reza, dengan caranya sendiri, sudah mulai belajar bahwa beberapa pertanyaan lebih baik tidak diajukan sama sekali.
• • •