PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #7

Buku Catatan Hitam

Reza mulai menyadari perubahan pada sahabatnya sekitar dua bulan setelah Rani menghilang, bukan perubahan yang mencolok, melainkan sesuatu yang lebih halus, semacam jarak yang perlahan tumbuh di antara mereka meski keduanya masih duduk di bangku yang sama, masih berjalan pulang bersama setiap sore, masih berbagi makan siang di kantin seperti kebiasaan delapan tahun terakhir.

Arya menjadi lebih pendiam dalam hal-hal tertentu, namun lebih intens dalam hal lainnya. Ia mulai membawa buku catatan kecil bersampul hitam yang selalu ia jaga dengan hati-hati, menyembunyikannya begitu cepat setiap kali Reza mendekat hingga membuat Reza bertanya- tanya apa isinya, meski ia tak pernah cukup berani untuk bertanya secara langsung.

Suatu sore di bulan Juli, ketika musim kemarau membuat udara Jakarta terasa lebih kering dan lebih berdebu dari biasanya, mereka duduk di bangku taman dekat rumah Arya, menunggu ojek payung, istilah yang mereka gunakan untuk menyebut kebiasaan menunggu hujan reda meski hari itu tak ada tanda-tanda hujan sama sekali, hanya kebiasaan lama yang tak pernah benar- benar mereka tinggalkan sejak kecil.

"Aku ketemu orang aneh minggu lalu," kata Arya tiba-tiba, matanya menatap lurus ke depan, tak menoleh ke arah Reza.

"Aneh gimana?"

Arya menceritakan semuanya, pria berpakaian safari dengan lencana yang tak jelas, kunjungan yang terasa seperti peringatan meski tak ada satu kata pun yang bisa disebut ancaman secara langsung, mobil sedan gelap yang menghilang di ujung gang. Reza mendengarkan dengan perasaan yang semakin lama semakin berat, sebuah kombinasi antara rasa takut dan sesuatu yang lebih dekat dengan keputusasaan.

"Kamu masih nyari-nyari soal Rani?" tanya Reza akhirnya, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan.

"Tentu saja masih." Arya menoleh sekarang, matanya membawa sesuatu yang keras, sesuatu yang tak pernah Reza lihat sebelumnya pada sahabatnya. "Kenapa? Kamu enggak?"

"Arya, dengar." Reza mencondongkan tubuhnya, mencoba membuat suaranya terdengar masuk akal, terdengar seperti nasihat yang tulus dan bukan pengecutan yang tersembunyi di baliknya. "Sudah dua bulan. Enggak ada yang bisa kita lakukan. Kita cuma dua anak SMA. Kalau ada orang yang datang ke rumahmu dan bilang untuk berhenti, itu artinya kamu sudah menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita tangani."

"Jadi menurutmu aku harus berhenti." Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan, diucapkan dengan nada datar yang entah bagaimana terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.

Lihat selengkapnya