PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #8

Upacara Kelulusan

Ujian nasional datang dan pergi seperti gelombang yang menyapu bersih segalanya di jalurnya, meninggalkan hanya angka-angka di atas kertas sebagai bukti bahwa peristiwa itu pernah terjadi. Reza lulus dengan nilai yang cukup baik untuk melamar ke beberapa universitas negeri, meski tidak setinggi yang ia harapkan, sesuatu yang, tanpa pernah ia akui secara terbuka, mungkin ada hubungannya dengan berbulan-bulan pikirannya yang terus kembali ke sebuah meja kosong di ruang kelas yang telah lama ditinggalkan, ke sepasang mata yang menatap lurus ke depan tanpa sekali pun menoleh kepadanya.

Arya lulus juga, meski dengan nilai yang lebih rendah, sebuah fakta yang tak pernah benar- benar mengejutkan siapa pun yang mengenalnya, perhatiannya, sejak bulan-bulan terakhir tahun ajaran itu, telah terbagi antara pelajaran sekolah dan buku catatan hitam yang terus bertambah tebal, dipenuhi nama-nama, tanggal-tanggal, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum juga menemukan jawabannya.

Pada hari kelulusan, kedua keluarga, Mahendra dan Prasetyo, hadir bersama di aula sekolah yang dihias seadanya dengan balon dan spanduk bertuliskan "SELAMAT & SUKSES," berfoto bersama seperti yang dilakukan keluarga-keluarga lain, tersenyum untuk kamera meski senyum itu, bagi Reza setidaknya, terasa seperti topeng yang dipaksakan untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Ibu Reza, seorang perempuan sederhana yang telah membesarkannya sendirian sejak ayahnya meninggal ketika Reza masih kecil, memeluknya erat setelah upacara selesai, air mata menggenang di matanya. "Ayahmu pasti bangga," katanya, dan Reza mengangguk, membiarkan pelukan itu berlangsung lebih lama dari biasanya, seolah kehangatan itu bisa menghapus sesuatu yang dingin yang telah menetap di dalam dadanya sejak awal tahun.

Ia melihat Arya di seberang aula, berdiri bersama orang tuanya, tersenyum untuk kamera keluarga mereka sendiri, dan untuk sesaat, mata mereka bertemu, sebuah pengakuan singkat tentang delapan tahun yang telah mereka lalui bersama, dan tentang bagaimana tahun terakhir itu telah mengubah keduanya menjadi dua orang yang, meski masih saling mengenal dengan baik, kini berjalan menuju arah yang berbeda.

Arya mengangguk kecil ke arahnya. Reza mengangguk balik. Tak ada kata-kata yang diperlukan; keduanya sudah tahu apa yang tak terucapkan.

• • •

Mereka bertemu sekali lagi sebelum benar-benar berpisah jalan, sore itu, di air mancur yang sama tempat mereka biasa berhenti sebelum masuk ke gedung sekolah setiap pagi, sekarang kosong dan sepi karena tahun ajaran telah usai, air mancurnya sendiri sudah lama berhenti mengalir karena kerusakan pompa yang tak pernah diperbaiki.

"Aku diterima di jurusan Teknik Informatika," kata Arya, duduk di tepi kolam kering itu. "Universitas swasta. Enggak sebagus yang kamu masuk, tapi cukup buat belajar apa yang aku butuhin."

"Butuh buat apa?"

Lihat selengkapnya