PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #9

Reformasi dari Kejauhan

Enam tahun berlalu seperti air yang mengalir menuruni bukit, cepat pada mulanya, lalu melambat begitu menemukan dataran yang lebih rata, sampai akhirnya seseorang menoleh ke belakang dan menyadari betapa jauh jarak yang telah ditempuh tanpa benar-benar disadari prosesnya.

Jakarta tahun 2000 adalah kota yang berbeda dari yang ditinggalkan Reza di SMA-nya, atau mungkin bukan kotanya yang berbeda, melainkan caranya memandang kota itu. Reformasi telah mengguncang negeri ini dua tahun sebelumnya, membawa gelombang kebebasan berbicara yang, bagi generasi yang lebih muda, terasa seperti udara segar setelah bertahun-tahun ruangan pengap, koran-koran mulai menulis dengan lebih berani, mahasiswa berkumpul di kampus- kampus membicarakan hal-hal yang dulu hanya berani dibisikkan, dan untuk sesaat, ada perasaan bahwa negeri ini sedang belajar bernapas kembali.

Namun Reza memperhatikan perubahan itu dari kejauhan, seperti seseorang yang menonton hujan turun dari balik jendela tanpa benar-benar merasakan basahnya. Dua tahun pertama kuliahnya di Fakultas Ekonomi sebuah universitas negeri di Depok dihabiskan dengan cara yang sama seperti tiga tahun terakhirnya di SMA: belajar keras, menghindari keributan, memusatkan energinya pada nilai dan masa depan yang stabil, sementara di sekelilingnya, teman- teman sekampusnya mulai bergabung dengan diskusi-diskusi politik, unjuk rasa kecil, dan gerakan-gerakan yang menuntut reformasi lebih lanjut.

Ia bertemu Dina Anggraini pada semester ketiganya, di sebuah mata kuliah pilihan tentang ekonomi pembangunan yang, ironisnya, ia ambil bukan karena minat melainkan karena jadwalnya cocok dengan mata kuliah wajib lainnya.

Dina duduk di baris kedua, selalu membawa catatan yang rapi dengan tulisan tangan yang hampir seperti cetakan, dan memiliki kebiasaan mengangkat tangan tepat sebelum dosen menyelesaikan pertanyaannya, bukan karena terburu-buru, melainkan karena, seperti yang kemudian dijelaskan Dina kepadanya, ia sudah bisa menebak ke mana arah pertanyaan itu sebelum benar-benar selesai diucapkan.

Reza pertama kali benar-benar memperhatikannya bukan karena kecantikannya, meski ia memang cantik, dengan cara yang tenang dan tak berusaha menonjol, rambut sebahu yang selalu diikat rapi, kacamata bulat yang membuat matanya tampak lebih besar saat ia berkonsentrasi, melainkan karena caranya menjawab pertanyaan dosen suatu hari, tentang dampak krisis moneter 1998 terhadap struktur kelas menengah Indonesia.

"Krisis itu bukan cuma soal angka-angka yang jatuh," kata Dina saat itu, suaranya tenang namun tegas. "Krisis itu mengungkap siapa yang selama ini terlindungi oleh sistem, dan siapa yang selama ini cuma dibiarkan bertahan sendirian. Orang-orang yang paling menderita bukan yang paling miskin, mereka sudah terbiasa bertahan dengan sedikit. Yang paling menderita adalah yang berada tepat di tengah, yang sudah membangun hidup di atas asumsi bahwa sistem akan terus stabil, lalu tiba-tiba menyadari betapa rapuhnya asumsi itu."

Kalimat itu menempel di kepala Reza jauh lebih lama daripada yang seharusnya untuk sebuah jawaban dalam diskusi kelas biasa, mungkin karena ada sesuatu di dalamnya yang terasa personal, sesuatu tentang kerapuhan sistem yang, tanpa disadari Dina, menyentuh sebuah luka yang telah Reza simpan sejak enam tahun sebelumnya, di sebuah ruang kelas SMA yang jauh dari sini.

Lihat selengkapnya