PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #10

Laboratorium Dial-Up

Kampus tempat Arya kuliah tidak memiliki reputasi yang mentereng, sebuah universitas swasta kecil di kawasan Jakarta Barat, dengan gedung yang lebih menyerupai ruko bertingkat daripada institusi pendidikan, dan fasilitas laboratorium komputer yang terdiri dari dua puluh unit komputer tua yang berbagi satu koneksi internet dial-up yang lambatnya sudah menjadi bahan lelucon di antara para mahasiswanya sendiri.

Namun bagi Arya, tempat itu adalah segalanya yang ia butuhkan.

Ia menghabiskan lebih banyak waktu di laboratorium komputer daripada di ruang kelas manapun, sering kali menjadi mahasiswa terakhir yang meninggalkan gedung saat penjaga kampus mulai mematikan lampu satu per satu, memberi isyarat halus bahwa sudah waktunya pulang. Ia mempelajari bahasa pemrograman dengan kecepatan yang mengejutkan dosen-dosennya sendiri, bukan karena ia jenius secara alami, melainkan karena ia memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat daripada bakat: sebuah tujuan yang jelas, sebuah alasan konkret mengapa setiap baris kode yang ia pelajari suatu hari akan berguna.

Malam-malam ia habiskan mempelajari hal-hal yang tak diajarkan di kelas manapun, forum-forum diskusi berbahasa Inggris tentang keamanan jaringan, tutorial-tutorial yang diunduh perlahan-lahan melalui koneksi dial-up yang sering terputus di tengah proses, buku-buku fotokopian tentang basis data dan sistem administrasi yang ia beli dengan harga murah dari penjual buku bekas di sekitar kampus.

Buku catatan hitamnya, yang kini sudah menjadi buku ketiga sejak yang pertama penuh terisi, terus bertambah tebal dengan catatan-catatan baru, meski kemajuannya jauh lebih lambat daripada yang ia harapkan. Ia menghubungi mantan tetangga Rani di Tanah Abang beberapa kali lagi selama tahun-tahun awal kuliahnya, mendapatkan potongan-potongan informasi kecil yang, satu per satu, mulai membentuk sebuah gambaran yang lebih besar dan lebih mengkhawatirkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Ia menemukan, misalnya, bahwa keluarga Kusuma bukan satu-satunya yang menghilang secara mendadak dari lingkungan mereka dalam beberapa tahun terakhir. Seorang tetangga lain, seorang mantan wartawan lokal yang pernah menulis tentang korupsi di tingkat kelurahan, juga menghilang bersama keluarganya sekitar dua tahun sebelum Rani, cerita yang hampir identik: kepindahan mendadak di malam hari, tak ada alamat baru yang bisa dilacak, tetangga yang enggan membicarakannya lebih jauh karena rasa takut yang tak pernah sepenuhnya mereka jelaskan.

Ia mulai menyadari sebuah pola, samar namun konsisten: orang-orang yang menghilang bukanlah orang-orang biasa yang pindah karena alasan ekonomi atau keluarga. Mereka adalah orang-orang yang, dengan satu atau lain cara, telah mempertanyakan sesuatu, seorang jurnalis yang menulis terlalu jujur, seorang siswi yang menulis esai yang terlalu berani, dan, seperti yang kemudian ia temukan, seorang aktivis buruh yang memimpin protes kecil di sebuah pabrik tekstil di pinggiran Jakarta.

Semuanya menghilang. Semuanya digantikan dengan penjelasan resmi yang rapi dan tak bisa diverifikasi. Semuanya diperlakukan seolah tak pernah benar-benar penting untuk dicari.

• • •

Pada tahun kedua kuliahnya, Arya mulai berani melangkah lebih jauh, bukan lagi sekadar mengumpulkan cerita dari mulut ke mulut, melainkan mencoba mengakses catatan-catatan yang lebih formal, meski dengan cara yang jauh dari legal.

Ia mempelajari cara mengakses sistem basis data sederhana milik beberapa instansi pemerintah daerah, bukan dengan keterampilan yang canggih, sebab pada masa itu, banyak sistem pemerintah masih menggunakan keamanan yang sangat mendasar, kadang tak lebih dari kata sandi bawaan yang tak pernah diganti sejak instalasi. Dari sana, ia mulai menemukan fragmen-fragmen data yang, meski tak lengkap, mulai membentuk gambaran yang lebih jelas tentang skala dari apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ada sebuah istilah yang mulai muncul berulang kali dalam beberapa dokumen internal yang berhasil ia akses, sebuah istilah yang, pada saat itu, belum sepenuhnya ia pahami maknanya, namun yang akan menghantuinya selama dua puluh enam tahun berikutnya: penanganan khusus.

Tak ada penjelasan rinci tentang apa yang dimaksud dengan istilah itu dalam dokumen- dokumen yang berhasil ia temukan, hanya referensi singkat, kode-kode administratif yang tampak dirancang khusus agar tak bisa dipahami oleh siapa pun yang tak memiliki konteks yang tepat. Namun pola kemunculannya selalu sama: sebuah nama, sebuah tanggal, lalu kode "penanganan khusus," dan setelah itu, tak ada catatan lebih lanjut tentang orang tersebut di mana pun dalam sistem yang bisa ia akses.

Ia menuliskan setiap temuan itu dengan tangan di buku catatannya, menolak untuk menyimpannya dalam bentuk digital yang bisa dilacak, sebuah kebiasaan kehati-hatian yang ia pelajari setelah kunjungan pria berpakaian safari itu bertahun-tahun sebelumnya, sebuah pelajaran yang tak pernah ia lupakan, dan yang membentuk setiap keputusan yang ia ambil sejak saat itu tentang bagaimana menyimpan, menyembunyikan, dan melindungi apa yang ia ketahui.

• • •

Ia lulus kuliah pada tahun 2004, empat tahun setelah memulainya, dengan nilai yang cukup untuk diterima bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi kecil yang menangani sistem keamanan jaringan untuk beberapa klien korporat. Pekerjaan itu, bagi orang lain, mungkin tampak seperti karier biasa, gaji yang cukup, jam kerja yang stabil, jalur karier yang jelas menuju posisi yang lebih senior seiring waktu.

Namun bagi Arya, pekerjaan itu adalah sesuatu yang lain sepenuhnya: sebuah pelatihan lanjutan, sebuah cara untuk mengasah keterampilan yang, suatu hari, ia yakini akan ia butuhkan untuk menembus sistem yang jauh lebih besar dan lebih terlindungi daripada basis data pemerintah daerah yang pernah ia sentuh saat kuliah.

Ia bekerja dengan tekun di siang hari, cukup baik untuk mendapatkan kepercayaan atasannya, cukup pandai untuk dipromosikan secara bertahap, namun setiap malam, di apartemen kecil yang ia sewa sendirian di kawasan Jakarta Timur, ia melanjutkan pencariannya yang lain, penyelidikannya yang sesungguhnya, yang telah menjadi tujuan hidup yang jauh lebih penting daripada karier resminya.

Ia jarang berkencan, jarang memiliki kehidupan sosial yang berarti di luar pekerjaan, sebuah pola yang membuat kedua orang tuanya, dalam beberapa tahun berikutnya, mulai khawatir bahwa anak lelaki mereka telah menjadi terlalu terisolasi, terlalu tenggelam dalam sesuatu yang tak sepenuhnya mereka pahami.

"Kamu enggak mau cari pacar, Nak?" tanya ibunya suatu kali, saat Arya pulang untuk makan malam keluarga yang semakin jarang ia hadiri. "Umur kamu udah dua puluh empat. Teman- teman kamu udah pada nikah."

"Belum waktunya, Bu," jawab Arya, sebuah jawaban yang telah menjadi rutin baginya, meski di dalam dirinya, alasan sebenarnya jauh lebih rumit daripada yang bisa ia jelaskan kepada ibunya: bahwa ia tak sanggup membayangkan membangun sebuah kehidupan, sebuah keluarga, di atas fondasi kebohongan yang harus ia jaga tentang apa yang sebenarnya ia lakukan setiap malam di balik pintu kamarnya yang terkunci.

Ia memikirkan Reza sesekali, teman-teman kuliahnya yang lain sudah lama tak lagi terhubung dengannya, namun ia terus mengikuti kabar tentang Reza melalui teman-teman bersama mereka dari SMA: bahwa Reza telah lulus kuliah, bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan multinasional, bahwa ia sedang menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan bernama Dina.

Lihat selengkapnya