Surya Wijaya bukan nama yang dikenal siapa pun pada tahun 1998, hanya seorang lulusan baru jurusan Teknik Elektro dari sebuah universitas negeri ternama, berusia dua puluh tiga tahun, bekerja sebagai staf junior di sebuah perusahaan telekomunikasi milik negara yang, seperti kebanyakan institusi pada masa itu, sedang berjuang untuk bertahan di tengah krisis moneter yang meluluhlantakkan perekonomian negeri.
Ia tumbuh di sebuah keluarga militer, ayahnya seorang perwira menengah yang, sepanjang masa kecil Surya, mengajarinya satu prinsip yang akan membentuk seluruh pandangan hidupnya kelak: bahwa keteraturan adalah bentuk tertinggi dari cinta kepada bangsa, bahwa kekacauan, dalam bentuk apa pun, adalah musuh yang harus dilawan dengan segala cara yang tersedia.
Mei 1998 mengubah segalanya bagi Surya, meski dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang sezamannya. Ketika kerusuhan meletus di berbagai penjuru Jakarta, ketika toko-toko dijarah dan dibakar, ketika mahasiswa menduduki gedung parlemen menuntut Presiden Soeharto mundur, Surya menyaksikan semuanya bukan dengan perasaan harapan seperti kebanyakan generasi mudanya, melainkan dengan ketakutan yang mendalam, sebuah ketakutan yang, dalam benaknya, terbukti benar ketika ia menyaksikan tetangga-tetangganya kehilangan segalanya dalam hitungan hari, ketika ia melihat toko keluarga pamannya di kawasan Glodok dijarah habis oleh kerumunan yang, baginya, tampak seperti manifestasi paling murni dari apa yang terjadi ketika keteraturan runtuh.
Ia menghabiskan malam-malam kerusuhan itu bersembunyi di rumah keluarganya bersama adik perempuannya yang masih remaja, mendengarkan suara-suara kekacauan dari kejauhan, teriakan, kaca pecah, sirene yang melolong tanpa henti, dan bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa jika ia pernah memiliki kekuatan untuk mencegah kekacauan semacam itu terjadi lagi, ia akan melakukan apa pun yang diperlukan.
Ia tidak pernah membicarakan sumpah itu kepada siapa pun secara terbuka. Namun dalam wawancara-wawancara kelak, bertahun-tahun kemudian, setelah ia menjadi salah satu pengusaha teknologi paling berpengaruh di negeri ini, ia akan sering merujuk pada "peristiwa yang membentuk saya" tanpa pernah menjelaskan secara spesifik apa yang ia maksud, sebuah misteri kecil yang, bagi para jurnalis yang mewawancarainya, menambah aura seorang visioner yang telah melalui sesuatu yang mendalam namun memilih untuk tidak membaginya dengan dunia.
• • •
Idenya untuk mendirikan perusahaan sendiri lahir dua tahun kemudian, pada tahun 2000, ketika ia menyadari bahwa keahliannya dalam sistem jaringan dan basis data, keahlian yang ia kembangkan sebagai bagian dari pekerjaannya di perusahaan telekomunikasi negara, bisa diterapkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar infrastruktur komunikasi biasa.