PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #12

Pernikahan di Kebayoran

Mereka menikah pada tahun 2004, empat tahun setelah pertemuan pertama mereka di ruang kuliah ekonomi pembangunan, dalam sebuah upacara sederhana di sebuah gedung serbaguna di kawasan Kebayoran yang disewa dengan hati-hati sesuai anggaran kedua keluarga, tidak mewah, namun cukup layak untuk memuaskan kedua belah pihak orang tua yang, meski berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda, sama-sama menaruh harapan besar pada pernikahan ini sebagai simbol stabilitas yang telah lama mereka perjuangkan untuk anak-anak mereka.

Reza baru saja mendapatkan pekerjaan tetapnya di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konsultasi keuangan, sebuah posisi yang, bagi keluarganya yang sederhana, terasa seperti pencapaian yang jauh melampaui apa yang pernah mereka bayangkan bisa dicapai oleh seorang anak dari keluarga tanpa koneksi maupun kekayaan. Ibunya menangis sepanjang upacara, bukan hanya karena kebahagiaan melihat anaknya menikah, melainkan karena kelegaan yang mendalam, kelegaan seorang ibu tunggal yang telah membesarkan anaknya sendirian sejak kematian suaminya, yang kini akhirnya bisa melihat anak itu memiliki kehidupan yang stabil, yang aman, yang jauh dari kesulitan yang pernah mereka alami bersama.

Dina tampak cantik dalam gaun pernikahan yang sederhana namun elegan, tersenyum sepanjang upacara dengan ketenangan yang selalu menjadi ciri khasnya, ketenangan yang, bagi Reza, selalu terasa seperti pelabuhan yang aman di tengah dunia yang, sejak masa SMA-nya, terasa tak pernah cukup bisa dipercaya.

Dalam pidato pernikahannya, ayah Dina, seorang insinyur yang telah lama pensiun dari perusahaan konstruksi tempat ia bekerja selama tiga dekade, berbicara tentang pentingnya membangun fondasi yang kokoh, sebuah metafora yang cocok dengan latar belakang profesinya, namun yang, bagi Reza, terdengar seperti gema dari sesuatu yang lebih personal: kebutuhannya sendiri akan fondasi, akan stabilitas, akan sesuatu yang tak akan pernah runtuh seperti yang pernah ia saksikan runtuh di sebuah ruang kelas SMA bertahun-tahun sebelumnya.

• • •

Kehidupan pernikahan mereka, pada tahun-tahun awal, berjalan dengan kelancaran yang hampir terasa seperti keberuntungan, dua karier yang berkembang secara paralel, sebuah apartemen kecil namun nyaman di kawasan Jakarta Selatan yang mereka beli dengan cicilan yang, meski berat, terasa sepadan dengan investasi masa depan yang mereka bangun bersama, dan sebuah rutinitas yang, bagi keduanya, terasa seperti pelukan yang aman setelah bertahun-tahun menavigasi dunia yang penuh ketidakpastian.

Namun di balik kelancaran itu, sebuah pola mulai terbentuk, sebuah pola yang, pada mulanya, tak disadari sepenuhnya oleh keduanya, namun yang, seiring berjalannya tahun, akan menjadi fondasi tak terucap dari seluruh pernikahan mereka: kesepakatan diam-diam untuk tidak pernah menggali terlalu dalam ke hal-hal yang berpotensi mengganggu keseimbangan yang telah mereka bangun dengan susah payah.

Dina memiliki masa lalunya sendiri yang jarang ia bicarakan, sebuah hubungan sebelumnya yang berakhir dengan cara yang menyakitkan saat ia masih kuliah, sebuah kekecewaan terhadap ambisi kariernya sendiri yang, karena satu dan lain hal, tak pernah sepenuhnya terwujud seperti yang ia impikan saat masih menjadi mahasiswi yang penuh semangat di ruang kuliah ekonomi pembangunan. Kisah Dina sendiri, yang jarang ia ceritakan secara utuh kepada siapa pun termasuk Reza, bermula pada tahun keduanya kuliah, ketika ia jatuh cinta kepada seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan hukum bernama Bagus, seseorang yang, di mata Dina saat itu, tampak seperti perwujudan dari segala idealisme yang ia yakini akan membawa perubahan bagi negeri ini.

Bagus aktif dalam gerakan mahasiswa, sering berbicara berapi-api tentang reformasi, tentang keadilan, tentang sebuah masa depan di mana generasi mereka akan memperbaiki apa yang telah dirusak oleh generasi sebelumnya. Dina, yang saat itu masih menyimpan idealismenya sendiri yang belum terkikis oleh kenyataan, terpikat bukan hanya oleh dirinya, melainkan oleh visi yang ia tawarkan tentang bagaimana dunia bisa menjadi lebih baik.

Hubungan itu berakhir dua tahun kemudian, tidak dengan cara yang dramatis, melainkan dengan cara yang, bagi Dina, terasa jauh lebih menyakitkan: Bagus, setelah lulus, menerima sebuah posisi di sebuah firma hukum korporat besar, meninggalkan seluruh retorika reformasinya di belakang begitu saja, seolah semua itu hanya bagian dari sebuah fase yang harus dilalui sebelum memasuki kehidupan "yang sesungguhnya."

Lihat selengkapnya