PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #13

Tawaran dari CNA Corp

Tawaran itu datang pada tahun 2008, empat tahun setelah pernikahannya, dalam bentuk sebuah panggilan telepon dari seorang perekrut profesional yang, dengan nada yang begitu meyakinkan hingga hampir terdengar seperti ramalan yang telah lama ditunggu, menawarkan sebuah posisi di divisi keuangan korporat sebuah perusahaan teknologi yang sedang berkembang pesat, CNA Corp.

Reza sudah mendengar nama itu, tentu saja, siapa pun yang bekerja di dunia bisnis Jakarta pada masa itu pasti pernah mendengarnya, sebab CNA Corp telah menjadi salah satu kisah sukses paling dibicarakan dalam dunia teknologi Indonesia, sebuah perusahaan yang dalam waktu kurang dari satu dekade telah berkembang dari sebuah usaha rintisan kecil menjadi penyedia infrastruktur digital bagi puluhan instansi pemerintah di seluruh negeri. Nama pendirinya, Surya Wijaya, sering muncul di sampul majalah bisnis, dipuji sebagai salah satu visioner muda paling berpengaruh dalam industri teknologi nasional.

"Posisinya sebagai manajer keuangan senior, menangani perencanaan anggaran untuk beberapa divisi operasional," jelas perekrut itu melalui telepon, suaranya penuh antusiasme yang, bagi Reza yang telah cukup lama berkecimpung di dunia korporat, terdengar seperti nada standar yang digunakan untuk menjual posisi apa pun, betapapun biasa atau luar biasanya posisi itu sebenarnya. "Gajinya jauh di atas rata-rata industri. Dan CNA Corp punya reputasi sangat baik soal jenjang karier, banyak yang naik ke posisi direktur dalam waktu kurang dari lima tahun."

Reza mempertimbangkan tawaran itu selama beberapa hari, mendiskusikannya dengan Dina di meja makan mereka yang kecil, membicarakan angka-angka, keuntungan, risiko, percakapan yang, bagi keduanya, terasa seperti rutinitas biasa dalam sebuah pernikahan yang telah lama mapan, tak jauh berbeda dari diskusi tentang cicilan apartemen atau rencana liburan tahunan mereka.

"Kedengarannya bagus, Za," kata Dina, mengaduk tehnya dengan gerakan yang tenang seperti biasa. "Kalau memang lebih baik buat karier kamu, kenapa enggak?"

Tak ada alasan untuk menolak, pikir Reza saat itu. Tak ada bendera merah yang muncul di benaknya, tak ada firasat yang mengganggu, hanya sebuah kesempatan karier yang tampak seperti langkah logis berikutnya dalam sebuah perjalanan yang telah lama ia rencanakan dengan hati-hati: naik secara bertahap, mengumpulkan stabilitas, membangun fondasi bagi keluarga yang, meski belum mereka rencanakan secara konkret, telah mulai mereka bicarakan sebagai kemungkinan di masa depan yang tak terlalu jauh.

Ia menerima tawaran itu, dan pada bulan Maret 2008, ia memulai hari pertamanya sebagai karyawan CNA Corp, mengenakan kemeja terbaiknya, memasuki gedung kantor pusat yang menjulang delapan belas lantai di kawasan pusat bisnis Jakarta, tanpa sedikit pun membayangkan bahwa nama perusahaan yang baru saja ia tuliskan di formulir penerimaan karyawan itu, bertahun- tahun kemudian, akan menjadi pusat dari mimpi buruk yang akan menghancurkan seluruh kehidupan yang telah ia bangun dengan susah payah.

• • •

Divisi tempat Reza bekerja, perencanaan anggaran operasional, menempati sebagian besar dari lantai empat dan lima gedung CNA Corp, sebuah ruang kerja yang, dengan sekat-sekat kaca dan pencahayaan yang dirancang secara cermat, terasa modern dan efisien, jauh berbeda dari kesan kaku dan kelam yang pernah ia rasakan di ruang kelas SMA-nya bertahun-tahun sebelumnya.

Pekerjaannya cukup jelas dan terstruktur: menyusun proyeksi anggaran untuk berbagai proyek yang dijalankan perusahaan, meninjau pengeluaran operasional, memastikan setiap divisi beroperasi dalam batas anggaran yang telah disetujui. Ia unggul dalam pekerjaan ini, sebagaimana ia selalu unggul dalam pekerjaan apa pun yang menuntut ketelitian dan kepatuhan pada aturan yang jelas, sebuah kualitas yang, tanpa pernah ia sadari sepenuhnya, adalah warisan langsung dari pelajaran yang ia pelajari di bawah pengawasan Pak Teguh Wibowo bertahun-tahun sebelumnya: bahwa bertahan hidup, dan berkembang, berarti belajar bekerja dengan sempurna di dalam batas-batas yang telah ditentukan, tanpa pernah mempertanyakan mengapa batas-batas itu ada.

Dalam laporan-laporan anggaran yang ia susun setiap kuartal, ia sering menemukan referensi terhadap sebuah kode divisi yang tak sepenuhnya ia pahami, "Divisi VII," sebuah unit yang tercatat menerima alokasi anggaran yang cukup besar namun tanpa rincian pengeluaran yang jelas seperti divisi-divisi lain yang ia tangani. Ketika ia bertanya kepada atasannya tentang divisi itu pada bulan-bulan awal masa kerjanya, jawaban yang ia terima selalu sama singkatnya, disampaikan dengan nada yang secara halus menyiratkan bahwa pertanyaan lebih lanjut tidak diharapkan.

"Itu proyek riset internal Pak Surya," kata atasannya, seorang lelaki bernama Pak Hendra yang telah bekerja di CNA Corp sejak tahun-tahun awal berdirinya perusahaan. "Anggarannya diatur langsung dari kantor eksekutif. Kita cuma perlu mencatat totalnya, enggak perlu tahu rinciannya."

Reza menerima jawaban itu tanpa banyak bertanya, sebagaimana ia telah belajar menerima banyak hal lain sepanjang hidupnya tanpa banyak bertanya, sebuah pilihan yang, pada saat itu, terasa seperti profesionalisme biasa, sebuah pengakuan wajar bahwa dalam perusahaan sebesar CNA Corp, tak semua karyawan perlu tahu segalanya tentang setiap divisi yang ada. Ia melanjutkan pekerjaannya, mencatat angka-angka Divisi VII tanpa pernah benar-benar mempertanyakan apa yang sebenarnya dikerjakan di lantai tujuh gedung tempat ia bekerja setiap hari, tepat di atas kepalanya, terpisah hanya oleh dua lantai dan sebuah sistem keamanan yang, ia perhatikan, jauh lebih ketat daripada lantai mana pun lainnya di seluruh gedung.

Lihat selengkapnya