PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #14

Kelahiran Kiara

Kiara Mahendra lahir pada malam yang diguyur hujan lebat di bulan November 2010, di sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan, setelah dua belas jam persalinan yang menguras seluruh tenaga Dina dan membuat Reza berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit dengan kecemasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dalam hidupnya, sebuah kecemasan yang, ia sadari kemudian, jauh melampaui ketakutannya sendiri akan kegagalan, ketakutan yang selama ini selalu menjadi pusat dari hampir setiap keputusan besar yang pernah ia ambil.

Ketika perawat akhirnya membawa bayi perempuan itu keluar dari ruang bersalin, terbungkus selimut flanel berwarna merah muda pucat, menangis dengan suara yang begitu kecil namun begitu penuh tenaga, Reza merasakan sesuatu yang tak pernah ia duga bisa ia rasakan dengan intensitas semacam itu: sebuah cinta yang begitu mendalam hingga terasa hampir menyakitkan, bercampur dengan sebuah ketakutan baru yang jauh lebih besar daripada ketakutan- ketakutan lama yang selama ini ia bawa, ketakutan bahwa ia tidak akan sanggup melindungi makhluk kecil ini dari dunia yang, ia tahu dengan pengalaman pahitnya sendiri, bisa menjadi begitu kejam terhadap mereka yang berani bersuara.

Ia menggendong Kiara untuk pertama kalinya di ruang pemulihan, tangannya gemetar karena kombinasi antara kelelahan dan keharuan, menatap wajah kecil yang masih merah dan berkerut itu dengan sebuah keajaiban yang tak sanggup ia jelaskan dengan kata-kata.

"Halo," bisiknya, suaranya pecah oleh emosi yang tak pernah ia izinkan dirinya rasakan sepenuhnya sejak masa SMA-nya. "Aku ayahmu."

Dina, yang masih terbaring lelah di ranjang rumah sakit namun tersenyum dengan kebahagiaan yang bersinar di wajahnya, menatap mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu udah mikirin nama tengahnya belum?"

Mereka telah lama sepakat tentang nama depan, Kiara, sebuah nama yang mereka pilih bersama karena maknanya yang berarti "terang" atau "jelas" dalam beberapa bahasa, sebuah harapan yang mereka titipkan kepada anak mereka tanpa sepenuhnya menyadari ironi yang akan terungkap bertahun-tahun kemudian. Namun nama tengah belum mereka putuskan.

Reza menatap wajah kecil putrinya lebih lama, memikirkan sesuatu yang telah lama tersimpan di sudut hatinya yang paling dalam, sebuah nama yang belum pernah ia ucapkan kepada Dina, meski bayangannya telah menghantuinya sejak hari itu di ruang kelas Pak Teguh, enam belas tahun sebelumnya.

"Kiara Rani," katanya akhirnya, suaranya pelan namun mantap.

Dina mengerutkan kening, sedikit bingung. "Rani? Dari mana asalnya nama itu?"

Reza menatap istrinya, mempertimbangkan sekali lagi seberapa jauh ia siap untuk membuka bagian dari dirinya yang telah ia sembunyikan begitu lama, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan singkat mereka bertahun-tahun sebelumnya tentang orang-orang yang menghilang, ia memutuskan bahwa saat itu, di ruangan ini, dengan putrinya yang baru lahir dalam pelukannya, adalah waktu yang tepat untuk mengatakan sesuatu, meski tidak seluruhnya.

"Ada temen sekelasku waktu SMA," katanya perlahan, memilih setiap kata dengan hati- hati. "Namanya Rani. Dia\... dia orang paling berani yang pernah aku kenal. Berani bilang sesuatu yang enggak berani dibilang orang lain. Dan aku\... aku enggak pernah cukup berani buat ngedukung dia waktu dia butuh."

Dina mendengarkan dengan perhatian penuh, tangannya menggenggam tangan Reza yang bebas, memberi ruang bagi suaminya untuk melanjutkan tanpa tergesa.

"Aku pengen anak kita punya sedikit dari keberanian itu," lanjut Reza, suaranya bergetar. "Aku pengen dia jadi orang yang enggak takut buat bertanya, buat ngomong yang benar, walaupun itu berat. Aku enggak mau dia jadi kayak aku."

Dina menatapnya lama, sebuah pengertian mulai terbentuk di matanya, bukan pengertian penuh, sebab Reza masih menahan begitu banyak detail dari cerita sesungguhnya, namun cukup untuk membuatnya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Kiara Rani Mahendra," katanya, mencobanya di lidahnya. "Itu nama yang indah, Za."

Lihat selengkapnya