PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #15

Proyek Keheningan

Pada tahun 2015, dua belas tahun setelah Proyek Keheningan dimulai sebagai sebuah ide samar dalam benak seorang eksekutif muda yang trauma oleh kerusuhan Mei 1998, Surya Wijaya berdiri di lantai tujuh kantor pusat CNA Corp, menatap sebuah ruangan yang, bagi siapa pun yang cukup beruntung, atau cukup sial, untuk pernah memasukinya, tampak lebih menyerupai pusat komando militer daripada ruang kerja perusahaan teknologi biasa.

Dinding-dindingnya dilapisi panel-panel monitor yang menampilkan peta digital seluruh negeri, dipenuhi titik-titik kecil berwarna yang, bagi orang awam, mungkin tampak seperti visualisasi data lalu lintas atau distribusi penduduk biasa, namun yang, dalam kenyataannya, mewakili sesuatu yang jauh lebih mengerikan: setiap titik adalah sebuah identitas, sebuah kehidupan, sebuah warga negara yang, karena satu atau lain alasan, telah ditandai oleh sistem sebagai berpotensi mengancam stabilitas sosial.

Ia telah menamai sistem itu, secara resmi dalam dokumen-dokumen internal yang hanya yang, bagi Surya sendiri, terasa tepat dalam kejujurannya yang brutal, jauh lebih jujur daripada eufemisme "manajemen risiko sosial" yang selama bertahun-tahun ia gunakan untuk menyamarkan hakikat sesungguhnya dari apa yang telah ia bangun.

Sistem itu bekerja dengan elegansi yang, dalam benak Surya sendiri, adalah sebuah mahakarya teknis yang seharusnya dikagumi, bukan ditakuti. Dengan mengintegrasikan basis data kependudukan yang telah dikelola CNA Corp selama bertahun-tahun, basis data yang mencakup hampir setiap warga negara Indonesia, dari catatan kelahiran hingga riwayat pendidikan, dari transaksi perbankan hingga aktivitas media sosial yang semakin lama semakin banyak dikumpulkan melalui berbagai kemitraan yang dijalin CNA dengan platform-platform digital, sistem itu mampu mengidentifikasi individu-individu yang dianggap berisiko dengan tingkat presisi yang, satu dekade sebelumnya, tak akan pernah bisa dibayangkan siapa pun.

Setelah identifikasi, proses "penanganan" berlangsung dalam beberapa tahap yang telah disempurnakan selama bertahun-tahun uji coba: pertama, isolasi digital, penghapusan bertahap terhadap akses individu tersebut ke berbagai layanan yang bergantung pada basis data terpusat, mulai dari rekening bank hingga izin kerja; kedua, tekanan sosial, pemberitahuan halus kepada keluarga dan lingkungan sekitar tentang "risiko" berasosiasi dengan individu tersebut, sebuah taktik yang, dalam banyak kasus, mendorong individu itu sendiri untuk "memilih" pindah atau menghilang secara sukarela demi melindungi orang-orang terdekatnya; dan jika kedua tahap itu tidak cukup, tahap ketiga, penghapusan menyeluruh, di mana seluruh jejak digital dan administratif seseorang dihapus dari sistem negara, membuat mereka secara efektif tak pernah ada dalam catatan resmi apa pun.

Surya menyaksikan proses ini bekerja dengan sempurna ribuan kali sejak sistem itu mulai diaktifkan secara terbatas pada tahun 2010, jurnalis-jurnalis yang terlalu vokal, aktivis-aktivis buruh yang terlalu terorganisir, akademisi-akademisi yang terlalu kritis terhadap kebijakan pemerintah, dan, dalam beberapa kasus yang lebih jarang namun tak kalah pentingnya bagi Surya, remaja-remaja seperti Rani Kusuma, individu-individu yang, dalam pandangannya, mewakili benih-benih kekacauan yang, jika dibiarkan tumbuh tanpa terkendali, bisa mereplikasi malapetaka yang pernah ia saksikan sendiri pada Mei 1998.

• • •

Namun Surya bukan tanpa keraguan sepenuhnya, sebuah fakta yang, jika diketahui publik, akan mengejutkan banyak orang yang mengenalnya hanya melalui citra publiknya yang percaya diri dan tanpa cela.

Ada malam-malam tertentu, biasanya setelah pertemuan-pertemuan panjang di lantai tujuh yang membahas target-target baru untuk "penanganan," ketika Surya pulang ke rumahnya yang megah di kawasan elit Jakarta Selatan dan duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip, dan merasakan sesuatu yang, jika ia cukup jujur dengan dirinya sendiri, mungkin bisa disebut sebagai keraguan.

Ia memikirkan istrinya yang telah meninggal lima tahun sebelumnya karena kanker, seorang perempuan yang, selama masih hidup, sering mempertanyakan arah yang diambil suaminya, bukan secara terbuka, sebab bahkan istrinya sendiri tahu batas-batas yang tak boleh dilampaui dalam pernikahan mereka, namun melalui pertanyaan-pertanyaan halus yang selalu berhasil menyentuh sesuatu yang tak nyaman di dalam diri Surya.

"Kamu masih inget rasanya waktu itu?" tanyanya suatu kali, beberapa tahun sebelum kematiannya, ketika mereka menonton sebuah dokumenter tentang reformasi 1998 di televisi. "Rasa takutnya. Rasa enggak berdayanya."

"Tentu aja aku inget," jawab Surya waktu itu. "Makanya aku kerja keras supaya itu enggak pernah terjadi lagi."

Lihat selengkapnya