PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #16

Anak yang Terus Bertanya

Kiara Rani Mahendra tumbuh dengan cara yang, bagi kebanyakan orang yang mengenal keluarga itu dari luar, tampak seperti masa kecil yang nyaris sempurna, seorang anak perempuan cerdas, dibesarkan dalam apartemen yang nyaman di Jakarta Selatan, disekolahkan di sekolah swasta yang cukup baik, dikelilingi oleh kasih sayang kedua orang tua yang, sejauh yang bisa dilihat siapa pun, tak pernah bertengkar dengan cara yang mengkhawatirkan, tak pernah menunjukkan tanda-tanda ketidakbahagiaan yang berarti.

Namun bagi mereka yang cukup dekat untuk memperhatikan detail-detail kecil, dan bahkan Dina sendiri, ibunya, baru menyadarinya sepenuhnya bertahun-tahun kemudian, ada sesuatu yang berbeda dari cara Kiara memandang dunia sejak usia yang sangat muda, sesuatu yang, jika ditelusuri kembali, mungkin bisa dilacak hingga ke malam kelahirannya, ke sebuah nama tengah yang dipilih oleh ayahnya dengan alasan yang tak pernah sepenuhnya ia jelaskan.

Pada usia empat tahun, ketika kebanyakan anak seusianya masih sibuk dengan boneka dan gambar-gambar sederhana, Kiara mulai menunjukkan kebiasaan yang membuat gurunya di taman kanak-kanak berkomentar khusus kepada Dina saat pertemuan orang tua: kebiasaan bertanya "kenapa" secara berulang-ulang, tidak berhenti pada jawaban pertama seperti kebanyakan anak lain, melainkan terus mendorong lebih jauh, mencari lapisan penjelasan berikutnya, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang tak sanggup menerima sebuah jawaban hanya karena jawaban itu diberikan oleh orang dewasa.

"Dia anak yang sangat cerdas," kata gurunya, seorang perempuan bernama Bu Wulan yang telah mengajar taman kanak-kanak selama lebih dari lima belas tahun. "Tapi kadang dia bikin teman-temannya bingung, karena dia enggak pernah puas sama jawaban \'karena memang begitu.\' Dia selalu nanya lagi, \'tapi kenapa harus begitu?\'"

Dina menceritakan hal ini kepada Reza malam itu, sambil tersenyum bangga, bagi Dina, kebiasaan itu tampak seperti tanda kecerdasan yang menjanjikan, sesuatu yang layak dibanggakan. Namun Reza, mendengarkan cerita yang sama, merasakan sesuatu yang lebih rumit: sebuah campuran antara kebanggaan yang sama seperti yang dirasakan istrinya, dan sebuah kegelisahan samar yang tak sanggup ia jelaskan sepenuhnya, bahkan kepada dirinya sendiri.

• • •

Ketika Kiara berusia tujuh tahun, ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih tajam, lebih personal, jenis pertanyaan yang tak lagi bisa dijawab dengan penjelasan sederhana tentang bagaimana dunia bekerja.

"Ayah," katanya suatu malam, saat Reza sedang membacakannya cerita sebelum tidur, sebuah kebiasaan yang selalu ia nikmati sebagai salah satu momen paling damai dalam harinya yang sibuk, "kenapa nama tengahku Rani?"

Reza terdiam sejenak, buku cerita yang sedang ia pegang terlupakan di pangkuannya. Ia telah menduga pertanyaan ini akan datang suatu hari, namun tak pernah benar-benar mempersiapkan jawaban yang tepat untuk usia semuda itu.

"Itu nama orang yang penting buat Ayah waktu masih sekolah," katanya akhirnya, memilih kata-kata dengan hati-hati seperti yang selalu ia lakukan setiap kali topik ini muncul. "Dia teman sekelas Ayah yang sangat berani."

"Berani gimana?"

"Dia berani ngomong sesuatu yang penting, walaupun orang lain enggak mau dia ngomong."

Kiara memikirkan jawaban itu dengan keseriusan yang, bagi anak seusianya, tampak tak biasa. "Terus dia sekarang di mana?"

Pertanyaan itu, sesederhana kedengarannya, selalu menjadi pertanyaan yang paling sulit dijawab Reza, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. "Ayah enggak tahu, Sayang," katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Dia pindah, dan Ayah enggak pernah denger kabarnya lagi."

"Kenapa Ayah enggak nyariin dia?"

Pertanyaan itu menghantam Reza dengan kekuatan yang tak terduga dari mulut seorang anak berusia tujuh tahun, sebuah pertanyaan yang, dalam kepolosannya, menyentuh langsung ke inti dari penyesalan yang telah ia bawa selama lebih dari dua dekade.

"Ayah\... Ayah waktu itu masih kecil kayak kamu, Sayang. Ayah enggak tahu caranya."

Kiara menerima jawaban itu dengan anggukan kecil, meski matanya, mata yang, Reza sadari dengan sebuah kepedihan yang tak terduga, memiliki keingintahuan yang sama seperti yang pernah ia lihat pada Rani bertahun-tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa jawaban itu belum sepenuhnya memuaskannya. Ia tak bertanya lebih jauh malam itu, namun Reza tahu, dengan sebuah kepastian yang mengganggu, bahwa pertanyaan itu akan kembali suatu hari, dalam bentuk yang lebih dewasa dan lebih sulit untuk dihindari.

• • •

Sekolah dasar dan sekolah menengah pertama Kiara berjalan dengan pola yang serupa, prestasi akademik yang cemerlang, dikombinasikan dengan sebuah reputasi di kalangan guru- gurunya sebagai murid yang, meski cerdas, kadang "terlalu banyak bertanya" dalam cara yang membuat beberapa guru merasa tak nyaman.

Lihat selengkapnya