Kiara pulang larut malam pada hari pengumuman penerimaan mahasiswa baru, ponselnya sudah ia matikan sejak sore, dan ketika ia akhirnya membuka pintu apartemen, Reza sudah duduk menunggu di ruang tamu dengan laptopnya sendiri terbuka di meja, layar menyala menampilkan sesuatu yang buru-buru ia tutup begitu mendengar kunci berputar.
"Diterima," kata Kiara, melempar tasnya ke sofa, senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan. "Ilmu Data. Universitas Indonesia."
"Aku tahu," kata Reza. "Ibumu udah cerita tadi siang."
"Terus kenapa mukanya kayak gitu?"
Reza mematikan layar laptopnya sepenuhnya sebelum menjawab. "Kayak apa?"
"Kayak ada yang salah." Kiara menjatuhkan diri di sofa seberangnya, masih dengan sepatu terpasang, sebuah kebiasaan yang biasanya langsung ditegur ibunya namun malam ini dibiarkan begitu saja. "Ayah enggak seneng?"
"Aku bangga banget, Ki." Dan itu benar, Reza memang bangga, dengan sebuah kebanggaan yang nyaris menyakitkan dadanya. "Cuma\..."
"Cuma apa?"
Ia sudah memikirkan kalimat ini selama berhari-hari, sejak Kiara pertama kali menyebut jurusan itu bulan lalu, namun sekarang, dengan wajah anaknya menunggu di depannya, kalimat itu terasa jauh lebih sulit diucapkan daripada yang ia latih di kepalanya.
"Kamu udah mikirin mau kerja di mana nanti?"
"Belum. Masih lama, Yah."
"Aku bisa bantu. Ada beberapa posisi magang di kantorku yang, "
"Di CNA?" Kiara mengerutkan kening. "Aku enggak mau magang di sana."
"Kenapa?"
"Enggak tahu." Kiara mengangkat bahu, namun matanya, untuk sepersekian detik, mengalihkan pandangan ke arah lain, sebuah gestur kecil yang, bagi siapa pun yang tak mengenalnya sebaik Reza, akan lolos begitu saja. "Rasanya enggak cocok aja."
Reza menatapnya lebih lama daripada yang seharusnya diperlukan untuk sebuah jawaban sesederhana itu. "Enggak cocok gimana?"
"Ayah kenapa sih tiba-tiba nanya-nanya soal ini?" Kiara duduk lebih tegak sekarang, nada suaranya berubah, sesuatu yang defensif mulai muncul. "Aku baru aja diterima kuliah dan Ayah malah nanyain kerjaan."
"Aku cuma mau mastiin kamu, "
"Mastiin aku apa? Aman?" Kiara berdiri, meraih kembali tasnya dari sofa. "Ayah selalu gitu. Aman, aman, aman. Kayak itu satu-satunya hal yang penting."
Kata-kata itu menghantam Reza dengan kekuatan yang tak sanggup ia jelaskan kepada putrinya sendiri, sebab Kiara tak tahu, dan tak boleh tahu, seberapa dalam kata itu menyentuh sesuatu yang telah lama tertanam di dalam dirinya, sejak sebuah ruang kelas SMA tiga puluh dua tahun sebelumnya.
"Bukan gitu maksudku," katanya, suaranya lebih pelan sekarang.
"Terus maksudnya apa?"