Laboratorium komputer kampus itu kosong pada pukul sebelas malam, kecuali Kiara, yang duduk di sudut paling jauh dari pintu, tiga layar menyala di depannya, secangkir kopi yang sudah dingin di sampingnya sejak tiga jam lalu.
Tugas akhir semester untuk mata kuliah statistik terapan sebenarnya sederhana: membangun model untuk mendeteksi anomali dalam sebuah kumpulan data publik pilihan mahasiswa sendiri. Kebanyakan teman sekelasnya memilih data cuaca, harga saham, atau statistik olahraga, data yang aman, yang jelas, yang tak akan membawa siapa pun ke tempat yang tak diinginkan.
Kiara memilih data kependudukan agregat yang dipublikasikan secara terbatas oleh portal data terbuka pemerintah, angka-angka kasar tanpa nama, hanya statistik jumlah penduduk per kecamatan dari tahun ke tahun, dipublikasikan untuk tujuan riset akademik.
Model yang ia bangun sederhana: mendeteksi kecamatan mana pun yang menunjukkan penurunan populasi yang tak bisa dijelaskan oleh migrasi, kematian, atau kelahiran yang tercatat secara normal, sebuah anomali statistik murni, tak lebih dari latihan teknis untuk tugas kuliah.
Hasil yang muncul di layarnya membuatnya duduk diam untuk waktu yang lama.
Di seluruh negeri, tersebar di ratusan kecamatan, sebuah pola muncul dengan konsistensi yang tak mungkin kebetulan: 47.283 kasus penurunan populasi yang tak bisa dijelaskan sejak tahun 2018, masing-masing kasus melibatkan satu hingga beberapa individu yang menghilang dari catatan tanpa jejak kematian, tanpa jejak migrasi resmi, tanpa penjelasan apa pun selain sebuah kekosongan bersih di tempat mereka seharusnya ada.
Ia memeriksa ulang modelnya tiga kali, yakin ada kesalahan di suatu tempat, bug dalam kode, kesalahan dalam pembersihan data, sesuatu yang bisa menjelaskan angka sebesar itu dengan cara yang lebih masuk akal. Setiap kali, hasilnya sama.
47.283.
Angka itu terasa familier dengan cara yang tak bisa ia jelaskan, sebuah gema dari sesuatu yang belum bisa ia tempatkan, sampai ia teringat kartu nama yang masih tersimpan di laci mejanya, tak tersentuh selama berbulan-bulan.
• • •
Ia mengirim email kepada Pak Damar pukul satu dini hari, tak sanggup menunggu sampai pagi.