PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #22

Dua Puluh Enam Tahun

Kedai kopi yang dipilih Arya untuk pertemuan itu terletak di sebuah gang kecil di Menteng, jauh dari kamera pengawas jalan utama, jenis tempat yang hanya diketahui orang-orang yang sengaja mencarinya. Reza tiba lebih dulu, duduk di meja paling belakang menghadap pintu, sebuah kebiasaan baru yang muncul begitu saja sejak pesan Arya tiga hari sebelumnya.

Ia hampir tak mengenali sahabat lamanya ketika sosok itu akhirnya masuk, Arya kini berambut lebih pendek, mengenakan jaket biasa tanpa ciri khas apa pun, matanya menyapu ruangan sebelum duduk, sebuah kewaspadaan yang tak pernah dimiliki anak lelaki gelisah yang dulu menabrak tiga orang dalam sepuluh detik berjalan.

"Za," kata Arya, duduk di seberangnya.

"Ar." Reza menatapnya lama. "Dua puluh enam tahun."

"Aku tahu." Arya meletakkan sebuah tas kanvas usang di kursi kosong di sampingnya, tangannya tetap di atasnya seolah tak berani melepaskannya. "Aku enggak akan buang waktu sama basa-basi. Kamu masih inget janji kita?"

"Aku inget."

Arya membuka tasnya, mengeluarkan sebuah laptop tua yang telah dimodifikasi dengan berbagai stiker penutup kamera dan mikrofon, menyalakannya dengan gerakan yang sudah terlatih. "Aku nemuin Rani," katanya, tanpa basa-basi lebih jauh. "Atau setidaknya, aku nemuin jejaknya."

Reza merasakan dadanya mengetat. "Di mana dia?"

"Enggak tahu. Enggak ada yang tahu, dia dihapus sebelum sistem yang sekarang bahkan ada. Tapi aku nemuin sesuatu yang lebih besar, Za." Arya memutar laptopnya, menampilkan sebuah tabel angka yang membuat Reza mengernyit. "47.283. Itu jumlah orang yang udah \'ditangani\' sejak 2018. Dan itu cuma yang bisa aku lacak."

"Ditangani gimana?"

"Dihapus. Dari catatan negara. Dari sistem perbankan. Dari mana pun yang bikin mereka ada secara resmi." Arya menatapnya lurus. "Dan itu semua jalan lewat perusahaan tempat kamu kerja, Za. CNA Corp."

Reza diam untuk waktu yang lama, memikirkan memo yang salah kirim, panggilan telepon Pak Hendra yang tak pernah terjawab, tembok digital yang ia temui saat mencoba mengakses catatan Divisi VII sendiri.

"Aku udah curiga," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Beberapa minggu ini."

Arya menutup laptopnya sedikit, matanya melunak untuk pertama kalinya sejak duduk. "Ada satu hal lagi yang kamu perlu tahu, dan aku enggak tahu cara bilang ini dengan lebih halus." Ia menarik napas. "Kiara ada di dalam sistem itu, Za. Ditandai sebagai target pemantauan."

Cangkir kopi di tangan Reza berhenti di udara. "Apa?"

"Beberapa minggu lalu. Level rendah, tapi itu biasanya cuma tahap awal. Aku enggak tahu apa yang dia lakuin sampai muncul di radar mereka, tapi, "

"Dia nemuin sesuatu," potong Reza, ingatannya melompat ke pertanyaan Kiara tentang Divisi VII di meja makan, ke matanya yang menatap terlalu lama saat ia berbohong tentang jawabannya. "Ya Tuhan. Dia udah mulai nyari sendiri."

Lihat selengkapnya