PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #23

47.283

Kiara sudah menunggu di ruang tamu ketika Reza akhirnya sampai di rumah, duduk tegak di sofa dengan laptopnya terbuka di pangkuan, wajahnya menunjukkan campuran antara ketakutan dan tekad yang membuat Reza, begitu melihatnya dari ambang pintu, langsung tahu bahwa firasatnya di dalam taksi tadi benar.

"Ayah, duduk," kata Kiara, sebelum Reza sempat melepas sepatunya.

Dina muncul dari dapur, handuk masih di tangannya, menatap putrinya dengan kekhawatiran yang sama. "Ki, kamu dari tadi enggak mau cerita apa-apa ke Ibu. Ada apa sih?"

Kiara menunggu sampai kedua orang tuanya duduk di seberangnya sebelum memutar laptopnya, menampilkan grafik yang sama yang telah ia tunjukkan kepada Pak Damar pagi itu. "Aku nemuin sesuatu buat tugas kuliah," katanya. "47.283 orang yang hilang dari catatan negara sejak 2018. Enggak ada penjelasan. Cuma\... hilang."

Reza merasakan darahnya dingin, namun ia memaksa wajahnya tetap tenang. "Dari mana kamu dapat data ini?"

"Portal data terbuka. Publik, Yah. Siapa pun bisa akses." Kiara menatapnya lurus, sebuah tatapan yang, bagi Reza, terasa terlalu mirip dengan tatapan seseorang yang pernah ia kenal bertahun-tahun sebelumnya. "Dosenku bilang ini bukan kebetulan. Dia bilang ada kolega dia yang dipindahtugaskan paksa gara-gara nemuin hal yang sama."

Dina menatap suaminya, sebuah kekhawatiran baru mulai muncul di wajahnya. "Za, kamu tau soal ini?"

Reza tak menjawab segera, dan keheningan itu sendiri, ia sadari terlambat, sudah menjadi jawaban.

"Ayah tau," kata Kiara, bukan sebagai pertanyaan.

Reza tak menjawab segera. Ia menatap layar laptop itu, angka 47.283 yang menyala dingin di sana, dan merasakan tiga puluh dua tahun keheningan tiba-tiba menuntut sesuatu darinya yang tak pernah ia siapkan caranya.

"Namanya Rani," katanya akhirnya.

Kiara mengerutkan kening. "Siapa Rani?"

Reza membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Ada seribu kalimat yang bisa ia mulai, esai itu, kelas Pak Teguh, kolong meja tempat ia bersembunyi dari pandangan gurunya sendiri, Arya di tepi kolam kering, dua puluh enam tahun pencarian yang tak pernah ia ikut jalani. Tak satu pun dari kalimat itu keluar.

Ia diam.

Lihat selengkapnya