PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #24

Jejak yang Tertinggal

Sistem peringatan di lantai tujuh menyala pada pukul dua dini hari, tiga hari setelah Arya menyusup ke dalam basis data itu, terlambat untuk menangkapnya secara langsung, namun cukup untuk meninggalkan jejak yang, bagi tim keamanan siber CNA Corp, tak mungkin diabaikan.

Bram Situmorang, kepala keamanan siber Divisi VII, tiba di kantor dalam waktu kurang dari empat puluh menit setelah menerima panggilan darurat, masih mengenakan kaus tidur di balik jaketnya, wajahnya tegang saat ia duduk di depan konsol utama, menelusuri log yang telah ditandai sistem sebagai anomali.

"Ada yang masuk," katanya kepada timnya yang mulai berkumpul, suaranya tegang. "Tiga hari lalu. Mereka ekstrak data dalam jumlah besar sebelum celahnya ditambal otomatis."

"Seberapa besar?" tanya salah satu anggota timnya.

Bram menggulir layar, matanya menyipit membaca angka-angka yang muncul. "Cukup besar. Termasuk ringkasan statistik kasus tertangani, dan, " ia berhenti, wajahnya memucat, ", daftar target pemantauan."

Ia mengambil ponselnya, tangannya sedikit gemetar saat mengetikkan nomor yang jarang ia hubungi langsung, nomor yang hanya digunakan untuk situasi yang, menurut protokol, memerlukan perhatian Surya Wijaya sendiri.

• • •

Surya tiba di kantor pukul empat pagi, masih mengenakan jas yang sama dari pertemuan malam sebelumnya, wajahnya tanpa ekspresi meski di dalamnya, sebuah kemarahan dingin mulai membara.

"Siapa yang masuk?" tanyanya, berdiri di belakang Bram, menatap layar yang menampilkan jejak-jejak digital penyusup itu.

"Kami belum tahu identitasnya. Tapi metodenya sangat canggih, Pak. Ini bukan amatir. Ini seseorang yang paham betul cara kerja sistem kita, dan yang sudah mempersiapkan diri untuk enggak meninggalkan jejak yang bisa dilacak balik."

"Cari tahu," kata Surya, suaranya tenang namun tajam seperti pisau. "Aku enggak peduli berapa lama waktunya. Cari tahu siapa orang ini."

Bram mengangguk, mulai mengetikkan perintah untuk memulai investigasi menyeluruh, sementara Surya berjalan menuju jendela ruang komandonya, menatap keluar ke arah Jakarta yang masih gelap.

Ia memikirkan berapa banyak yang bisa diketahui penyusup itu, angka 47.283, daftar target, mungkin bahkan pola-pola yang bisa mengarah kembali ke identitasnya sendiri. Ia telah membangun kerajaan ini dengan begitu hati-hati selama lebih dari dua dekade.

Sesuatu, atau seseorang, baru saja mengancam untuk merobohkan semuanya.

• • •

Tiga hari kemudian, tim Bram akhirnya melacak jejak penyusupan itu kembali ke sebuah rangkaian server proxy yang, meski disamarkan dengan hati-hati, akhirnya mengarah pada satu petunjuk konkret: sebuah alamat IP yang, dalam sepersekian detik sebelum berhasil disamarkan sepenuhnya, sempat terhubung dengan jaringan kampus Universitas Indonesia.

"Kampus?" Surya mengerutkan kening saat menerima laporan itu. "Seorang mahasiswa melakukan ini?"

"Kami enggak yakin itu penyusup utamanya, Pak," kata Bram hati-hati. "Kemungkinan besar penyusup utama menggunakan jaringan kampus cuma sebagai salah satu titik lompatan. Tapi ada anomali lain yang kami temukan, terpisah dari penyusupan utama. Seseorang mengakses data agregat publik dari jaringan yang sama, sekitar waktu yang berdekatan. Kemungkinan enggak berhubungan. Tapi, "

"Tapi kamu enggak yakin," potong Surya.

"Enggak yakin, Pak."

Surya menatap laporan itu lama, sebuah nama muncul di dalamnya yang, ketika ia membacanya, membuat sesuatu yang dingin merambat di sepanjang punggungnya.

Kiara Mahendra. Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Komputer.

Ia duduk diam untuk waktu yang lama, mempertimbangkan kemungkinan yang baru saja terbentuk di kepalanya, bahwa lingkaran yang telah lama ia yakini aman, direktur keuangan korporatnya sendiri, mungkin telah menjadi jalan masuk bagi ancaman terbesar yang pernah

Lihat selengkapnya