Reza melihat mobil itu untuk pertama kalinya pada hari ketiga setelah pertemuannya dengan Arya, sebuah sedan hitam, kaca gelap, terparkir di seberang apartemen mereka, tak melakukan apa pun yang bisa dianggap mencurigakan secara langsung, hanya terparkir, diam, terlalu lama untuk terasa wajar.
Ia tak mengatakan apa pun kepada Dina atau Kiara malam itu, memilih untuk mengamati lebih dulu. Namun keesokan paginya, ketika ia mengintip dari balik gorden sebelum berangkat kerja, mobil yang sama, atau setidaknya salah satu yang sangat mirip, masih ada di sana, posisinya sedikit bergeser namun tetap dalam jarak pandang langsung ke pintu masuk apartemen mereka.
"Ar," ketiknya melalui aplikasi terenkripsi yang telah diinstal Arya di ponselnya, "ada mobil yang mengawasi rumahku. Dua hari berturut-turut."
Balasan datang beberapa menit kemudian: Foto pelatnya kalau bisa, jangan keliatan lagi. Aku bakal cek.
Reza melakukannya dengan hati-hati, memotret dari jendela kamar tidur mereka di lantai tiga. Ia mengirimkan foto itu, dan menghabiskan sisa pagi itu dengan perasaan yang mengingatkannya, dengan cara yang menyakitkan, pada cerita Arya tentang pria berpakaian safari yang mendatangi rumahnya bertahun-tahun sebelumnya.
• • •
Balasan Arya datang malam itu, lebih panjang dan lebih mendesak dari biasanya. Plat itu terdaftar ke perusahaan cangkang yang aku tau terhubung ke keamanan CNA Corp. Za, mereka udah tau. Setidaknya sebagian.
Reza duduk di tepi tempat tidur, membaca pesan itu berulang kali, jantungnya berdebar cepat. Tau apa persisnya?
Enggak tau. Tapi kalau mereka udah kirim pengawasan fisik, itu artinya level kecurigaan mereka udah cukup tinggi. Kita harus lebih hati-hati mulai sekarang. Jangan bahas apa pun soal ini di telepon rumah atau kantor. Dan Za, kasih tau Kiara buat jangan gerak sendirian dulu.
Reza menutup ponselnya, menatap keluar jendela ke arah mobil yang, malam itu, masih tetap di posisinya, lampu-lampunya mati namun kehadirannya terasa seperti sebuah pengingat konstan bahwa dunia yang selama ini terasa aman bagi keluarganya telah, dalam hitungan hari, berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rapuh.
• • •
Kiara memperhatikan mobil yang sama keesokan paginya, dari jendela kamarnya sendiri, sebelum berangkat kuliah. Ia tak memberi tahu siapa pun bahwa ia telah melihatnya, memilih untuk diam-diam mengamati sendiri, mencatat pola pergantian shift yang tampaknya terjadi setiap enam jam.
Di kampus, ia mulai memperhatikan hal-hal lain juga, seorang lelaki yang duduk terlalu lama di kafetaria tanpa memesan apa pun, matanya yang sesekali melirik ke arahnya; sebuah mobil lain, berbeda dari yang mengawasi rumahnya, yang tampak mengikuti bus yang ia naiki pulang suatu sore, sebelum akhirnya berbelok di persimpangan yang berbeda.
Ia tak yakin apakah ia mulai paranoid atau apakah pengamatannya benar-benar akurat, sebuah ketidakpastian yang, ia sadari, mungkin adalah persis apa yang diinginkan orang-orang yang mengawasinya.
Ia mengirim pesan kepada Laras malam itu, tak menyebutkan detail apa pun. Kamu lagi sibuk minggu ini? Aku pengen ngobrol.
Balasan Laras datang cepat: Selalu ada waktu buat kamu, Ki. Ada apa?
Enggak apa-apa lewat chat. Ketemu langsung aja ya.