PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #26

Perpustakaan Umum

Reza mengatur pertemuan itu dengan hati-hati, bukan di kedai kopi yang sama, bukan di tempat mana pun yang bisa dikaitkan dengan pola pergerakan biasa keluarga mereka, melainkan di sebuah perpustakaan umum di Jakarta Selatan, tempat yang cukup ramai untuk membaur, cukup sepi di bagian tertentu untuk berbicara tanpa didengar.

Kiara duduk di antara ayahnya dan seorang lelaki yang baru pertama kali ia temui secara langsung, meski namanya telah menjadi bagian dari cerita keluarganya sejak beberapa hari terakhir. Arya tampak lebih tua dari yang ia bayangkan, namun matanya, Kiara memperhatikan ini segera, memiliki sebuah ketajaman yang mengingatkannya pada dirinya sendiri.

"Jadi kamu yang nemuin pola itu," kata Arya, tanpa basa-basi, setelah Reza memperkenalkan mereka. "Lewat tugas kuliah."

"Enggak sengaja," kata Kiara. "Tapi sekarang saya enggak yakin itu beneran enggak sengaja."

Arya mengangguk, sebuah pengakuan kecil yang tampak seperti penghormatan. "Aku udah dua puluh enam tahun ngejar ini. Kamu nemuin sebagian besarnya dalam waktu semalam."

"Data publik cuma nunjukin sedikit," kata Kiara. "Pasti ada lebih banyak yang disembunyikan."

"Jauh lebih banyak." Arya membuka tasnya, mengeluarkan laptopnya, namun kali ini tidak langsung menampilkan data, ia menatap Kiara lebih dulu. "Sebelum aku tunjukin lebih jauh, aku perlu tanya. Kamu ngerti risikonya? Ini bukan permainan, Kiara. Orang-orang udah dihapus cuma karena nanya lebih jauh dari yang seharusnya."

"Saya ngerti," kata Kiara, suaranya mantap meski Reza bisa melihat jarinya sedikit gemetar di pangkuannya. "Saya juga ngerti kalau saya berhenti sekarang, itu enggak akan bikin saya aman. Mereka udah tau saya nyari."

Arya menatap Reza, sebuah pertukaran tanpa kata, sebelum akhirnya membuka laptopnya sepenuhnya.

• • •

Mereka menghabiskan hampir dua jam berikutnya menyusun apa yang mereka ketahui bersama, data Kiara dari portal publik, temuan Arya yang jauh lebih dalam, dan fragmen-fragmen informasi yang telah dikumpulkan Reza dari pengamatannya sendiri di kantor selama delapan belas tahun terakhir.

"Kita butuh bukti yang enggak bisa dibantah," kata Arya akhirnya, "sesuatu yang cukup besar buat dibawa ke publik, karena media lokal udah pasti enggak akan berani nyentuh ini."

"Bukti apa yang masih kurang?" tanya Reza.

"Akses langsung ke server inti di lantai tujuh. Bukan cuma ringkasan statistik, log lengkap, dokumentasi keputusan, siapa yang menyetujui setiap kasus. Itu satu-satunya cara buat bikin ini enggak bisa disangkal."

Kiara menatap ayahnya. "Ayah punya akses ke lantai tujuh?"

Lihat selengkapnya