Panggilan itu datang persis seperti yang diprediksi Arya, lima hari kemudian, sebuah pesan singkat dari sekretaris eksekutif Surya, meminta kehadiran Reza di ruang pertemuan pribadi Surya pukul empat sore, tanpa agenda yang dijelaskan.
Reza mengetikkan pesan kepada Arya begitu ia membaca email itu. Dipanggil. Jam 4 sore ini.
Balasan datang dalam hitungan detik: Ini dia. Dengerin baik-baik, jangan bawa apa pun yang bisa dilacak, jangan tunjukin kamu tau lebih dari yang seharusnya. Biar dia yang buka duluan.
Reza menghabiskan sisa pagi itu tak sanggup berkonsentrasi pada pekerjaannya, tangannya berkeringat setiap kali ia melirik jam di sudut layar komputernya.
• • •
Ruang pertemuan pribadi Surya, di lantai delapan belas, jauh berbeda dari ruang rapat perusahaan biasa, dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan kontemporer Indonesia yang bernilai tinggi, sebuah meja kayu jati yang besar berdiri di tengah ruangan, dan jendela-jendela besar yang menampilkan panorama Jakarta yang membentang hingga ke cakrawala.
Surya berdiri saat Reza masuk, tersenyum dengan keramahan yang telah lama menjadi ciri khasnya di depan publik.
"Reza," katanya, mengulurkan tangan. "Terima kasih udah dateng cepet."
"Tentu, Pak." Reza menjabat tangannya, memaksa dirinya untuk tetap tenang. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Duduk dulu." Surya menunjuk kursi di seberang mejanya, kemudian duduk kembali di kursinya sendiri, jarinya menyatukan diri di depan dagunya. "Delapan belas tahun kamu kerja di sini. Kamu tau itu?"
"Ya, Pak."
"Rekam jejak yang bagus. Enggak pernah ada masalah." Surya tersenyum lagi, matanya tak pernah lepas dari wajah Reza. "Itu kenapa aku agak kaget waktu tim keamananku bilang ada aktivitas mencurigakan yang terhubung, meski tak langsung, sama keluargamu."
Jantung Reza berdebar, namun ia mempertahankan wajahnya tetap datar. "Aktivitas mencurigakan apa, Pak?"
"Anak perempuanmu. Kiara." Surya mengucapkan nama itu dengan penekanan yang halus namun jelas. "Dia mahasiswa yang cerdas. Ilmu Data, kalau enggak salah."
"Betul, Pak."
"Beberapa minggu lalu, sistem kami mendeteksi anomali yang terhubung ke jaringan kampusnya. Kemungkinan besar enggak ada hubungannya sama dia secara langsung, mahasiswa suka penasaran, kadang mereka enggak sadar udah nyentuh sesuatu yang seharusnya enggak mereka sentuh." Surya bersandar ke kursinya. "Tapi aku pikir, sebagai bentuk perhatian, aku perlu ngobrol langsung sama kamu. Manusia ke manusia."
Reza menatapnya lama, mencoba membaca di balik kata-kata yang dipilih dengan begitu hati-hati itu.
"Saya enggak tau anak saya terlibat apa pun yang mencurigakan, Pak," katanya.
"Aku yakin kamu enggak tau," kata Surya, senyumnya tak pernah goyah. "Tapi Reza, izinkan aku kasih saran, sebagai seseorang yang udah kenal kamu cukup lama untuk peduli sama kesejahteraan keluargamu." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Kadang rasa ingin tahu anak muda bisa membawa mereka ke tempat yang berbahaya, tanpa mereka sadari sepenuhnya. Sebagai orang tua, tugas kita adalah melindungi mereka dari rasa ingin tahu mereka sendiri."
Kata-kata itu membuat dada Reza mengetat dengan sebuah kemarahan yang, untuk pertama kalinya, terasa lebih besar daripada ketakutannya.
"Saya akan bicara sama dia, Pak," katanya, suaranya tetap terkendali meski dengan susah payah.
"Aku yakin kamu akan lakuin itu." Surya berdiri, mengulurkan tangannya lagi. "Aku senang kita sempat ngobrol, Reza. Kamu karyawan yang berharga buat perusahaan ini. Akan sangat disayangkan kalau sesuatu mengganggu itu."
• • •
Reza berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang ia paksa tetap tenang, menunggu sampai lift tertutup sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas panjang yang gemetar.
Ia mengetikkan pesan kepada Arya begitu sampai di mobilnya. Selesai. Dia enggak sebut nama kamu, tapi dia jelas tau soal Kiara. Ini peringatan, Ar. Halus, tapi jelas.
Apa persis kata-katanya?
Reza mengetikkan ulang percakapan itu sebisa mungkin, kata demi kata. Balasan Arya datang setelah jeda yang lebih lama dari biasanya.
Itu persis pola yang sama kayak yang dia pake ke orang lain sebelum eskalasi. Za, kita enggak punya banyak waktu lagi. Kita harus gerak sebelum dia putusin buat enggak nunggu lagi.
Berapa lama biasanya? balas Reza, jarinya gemetar mengetik.