Ruang server itu terkunci dengan pemindai biometrik yang jauh lebih canggih daripada yang telah mereka antisipasi, bukan sekadar sidik jari atau kartu, melainkan pemindai wajah yang terhubung langsung ke basis data karyawan resmi CNA Corp.
"Ar, ini pemindai wajah," bisik Reza, panik mulai menjalar di suaranya. "Aku enggak ada di daftar akses lantai tujuh."
Hening sejenak di earpiece, lalu suara Arya kembali, tegang namun terkendali. "Coba pintu darurat kebakaran di sisi selatan ruangan. Setiap ruang server wajib punya jalur keluar kedua sesuai regulasi bangunan. Itu biasanya cuma pakai kunci mekanis biasa."
Reza bergerak cepat menyusuri dinding kaca, menemukan pintu kecil yang hampir tersembunyi di balik sebuah rak arsip, tanpa pemindai apa pun, hanya kunci konvensional yang, untungnya, termasuk dalam salinan kunci master yang telah dikumpulkan Arya dari kontak lamanya di divisi fasilitas gedung bertahun-tahun sebelumnya.
Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang lega. Pintu terbuka.
• • •
Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh ke dalam lorong server, sebuah suara membuatnya membeku, langkah kaki, berat dan berirama, mendekat dari arah koridor utama yang baru saja ia lewati.
"Ar, ada orang di koridor," bisik Reza, tubuhnya menempel ke dinding rak server terdekat, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia yakin bisa mendengarnya sendiri.
"Sial, pergantian shift," kata Arya, suaranya tegang. "Harusnya masih empat puluh menit lagi. Za, mereka pasti nuker jadwal lagi."
Melalui celah sempit di antara dua rak server, Reza melihat bayangan seorang petugas keamanan melintas di koridor kaca di luar, senter kecil di tangannya menyapu setiap sudut ruangan dengan gerakan rutin yang telah dilatih bertahun-tahun. Reza menahan napasnya, merunduk lebih rendah di balik rak, merasakan dinginnya lantai keramik menembus lututnya.
Petugas itu berhenti tepat di depan pintu kaca ruang server utama, mencoba gagangnya, terkunci, seperti seharusnya, lalu memeriksa layar kecil di dinding yang menampilkan status sistem, sebuah rutinitas yang tampak begitu otomatis hingga hampir tanpa pikir.
Untuk sesaat, sorot senternya bergerak ke arah pintu darurat kecil yang telah digunakan Reza untuk masuk, dan Reza merasakan setiap otot di tubuhnya menegang, bersiap untuk sebuah kemungkinan yang tak sanggup ia bayangkan sepenuhnya.
Namun radio di pinggang petugas itu berderak, sebuah suara memanggilnya untuk urusan lain di lantai yang berbeda. Ia menjawab singkat, lalu berbalik, langkahnya menjauh dengan kecepatan yang sama seperti saat ia datang.
Reza menunggu hingga suara langkah kaki itu benar-benar tak terdengar lagi sebelum berani bergerak, tubuhnya gemetar oleh adrenalin yang membanjiri setiap sarafnya.
"Dia udah pergi," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Syukurlah," kata Arya, helaan napas lega terdengar jelas melalui earpiece. "Za, kamu punya berapa banyak waktu tersisa sebelum ronda berikutnya?"
Reza melirik arlojinya. "Sekitar tiga puluh lima menit, kalau perkiraan kamu benar."
"Cukup, tapi enggak banyak sisa," kata Arya. "Masuk sekarang. Cepat, tapi jangan panik."
Reza menarik napas panjang, mencoba menenangkan tangannya yang masih gemetar, dan melangkah menuju pintu darurat kecil yang telah ia buka sebelumnya, mendorongnya perlahan, memastikan tak ada suara berlebih yang bisa menarik perhatian siapa pun yang mungkin masih berada di dekat sana.
Di dalam, deretan rak server menjulang di kedua sisi lorong sempit, udara terasa dingin dan kering dari sistem pendingin yang bekerja tanpa henti, dengungan konstan yang mengisi keheningan seperti napas mekanis raksasa. Reza menemukan terminal akses di ujung lorong, persis seperti yang digambarkan Arya dari cetak biru yang berhasil ia kumpulkan.
Ia menyambungkan laptop kecilnya ke port yang tersedia, jari-jarinya gemetar saat mengetikkan urutan perintah yang telah dilatih Arya kepadanya berulang kali di apartemen.