PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #31

Akses Tak Sah

Di ruang komando lantai tujuh, seorang teknisi shift malam bernama Fikri menatap layarnya dengan kening berkerut, sebuah notifikasi anomali muncul di sudut monitornya, akses tak sah terdeteksi di terminal server sekunder.

Ia mengangkat telepon internal, menghubungi Bram Situmorang yang masih berada di kantornya sendiri di lantai yang sama.

"Pak, ada akses tak sah di ruang server," kata Fikri, suaranya tegang. "Terminal sekunder. Sedang mengunduh data dalam jumlah besar, dikirim ke alamat eksternal."

Bram berdiri seketika. "Kunci semua pintu keluar lantai tujuh. Sekarang. Dan panggil Pak Surya."

• • •

Surya tiba di ruang komando dalam waktu kurang dari sepuluh menit, meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

"Siapa itu?" tanyanya, menatap layar yang menampilkan feed kamera keamanan ruang server, sesosok figur yang membelakangi kamera.

"Kami belum konfirmasi identitasnya, Pak," kata Bram. "Tapi kartu akses yang digunakan terdaftar atas nama teknisi kebersihan, kemungkinan besar itu kartu kloning."

"Perbesar gambarnya."

Fikri mengetikkan perintah, kamera memperbesar sudut pandangnya sedikit, cukup untuk menampilkan sebagian profil wajah sosok itu saat ia menoleh sekilas ke arah pintu.

Reza Mahendra.

Bram menatap gambar yang diperbesar itu, dan sesuatu di dalam dadanya mengeras menjadi sebuah simpul dingin yang tak bisa ia jelaskan sepenuhnya kepada dirinya sendiri.

Ia mengenali wajah itu. Bukan dari file kasus mana pun, melainkan dari puluhan rapat anggaran tahunan yang pernah mereka hadiri bersama, dari tanda tangan yang berulang kali ia lihat di bagian bawah laporan-laporan pendanaan Divisi VII selama hampir satu dekade terakhir, laporan-laporan yang, ia sadari dengan sebuah ironi pahit, telah membiayai setiap operasi yang mengarah pada momen ini.

Reza Mahendra. Direktur keuangan korporat. Orang yang, tanpa pernah benar-benar tahu apa yang sesungguhnya ia biayai, telah menandatangani anggaran Bram sendiri selama bertahun- tahun, termasuk, jika Bram jujur pada dirinya sendiri, kenaikan gaji dan bonus yang telah memungkinkan Bram membeli rumah keduanya di pinggiran kota, menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta yang lebih baik.

Selama sepersekian detik yang terasa jauh lebih lama daripada yang seharusnya, Bram mempertimbangkan sesuatu yang belum pernah ia pertimbangkan secara serius sepanjang delapan tahun kariernya di Divisi VII: melambatkan responsnya. Membiarkan kamera "kehilangan" sosok itu sejenak. Memberi waktu tambahan yang mungkin cukup untuk seseorang melarikan diri.

Namun kebiasaan bertahun-tahun, mantra yang telah ia ulang begitu banyak kali hingga menjadi refleks yang lebih cepat daripada nurani mana pun, kembali muncul: aku cuma jalanin sistemnya. Aku enggak yang bikin keputusan.

Ia tak mengatakan apa pun tentang pengenalan itu, tak kepada Fikri yang berdiri di sampingnya, apalagi kepada Surya yang matanya sendiri telah membeku menatap layar yang sama. Ia hanya berdiri diam, tangannya sedikit gemetar di atas keyboard, menunggu perintah berikutnya dengan sebuah keheningan yang, bagi siapa pun yang cukup memperhatikan, mungkin akan tampak seperti sekadar kewaspadaan profesional biasa.

Ketika Surya memerintahkan penguncian penuh gedung, Bram menekan tombol yang diperlukan tanpa satu kata protes, namun untuk pertama kalinya sejak rapat tahun 2018 yang mengubah kariernya, ia merasakan sesuatu yang menyerupai keretakan di dalam fondasi pembenaran yang telah ia bangun begitu rapi selama bertahun-tahun, sebuah pertanyaan yang mulai merayap masuk meski ia berusaha keras mengusirnya: kalau aku bisa ragu buat orang yang namanya aku kenal, kenapa aku enggak pernah ragu buat 47.283 nama yang enggak aku kenal?

Ia tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu malam itu. Namun pertanyaan itu, sekali muncul, tak lagi bisa sepenuhnya ia benamkan kembali ke tempat gelap yang sama seperti sebelumnya.

Lihat selengkapnya