"Transfer selesai," kata Kiara ke earpiece-nya, suaranya bergetar antara lega dan panik, matanya masih terpaku pada feed kamera yang kini menampilkan sosok Surya Wijaya, dan di belakangnya, tiga orang keamanan yang mulai bergerak mendekati ayahnya.
"Ar, mereka nangkep Ayah," katanya, suaranya pecah.
Arya, di dalam mobilnya, mengetikkan sesuatu dengan cepat, wajahnya pucat menatap sebuah notifikasi baru, sebuah permintaan pelacakan lokasi yang dikirim dari sistem keamanan internal CNA Corp, menargetkan sinyal ponsel yang terhubung dengan jaringan yang sama dengan yang digunakan Reza malam itu.
"Kiara, dengerin aku," katanya, suaranya mendadak tajam dan mendesak. "Mereka bakal lacak ponsel yang terhubung ke jaringan yang sama kayak punya ayahmu. Itu termasuk kamu. Matikan laptopmu, matikan ponselmu, dan keluar dari kafe itu sekarang. JANGAN pulang ke rumah."
"Aku enggak bisa ninggalin Ayah, "
"Kamu enggak bisa bantu dia kalau kamu ketangkep juga," potong Arya. "Data udah terkirim, Ki. Itu yang paling penting sekarang."
Kiara menatap layar laptopnya sekali lagi, gambar terakhir sebelum ia mematikannya paksa, ayahnya berdiri tegak menghadap Surya, tak menunjukkan tanda-tanda perlawanan fisik namun juga tak menunjukkan tanda-tanda penyesalan.
Ia menutup laptopnya, mencabut baterainya, memasukkannya ke dalam tasnya dengan tangan gemetar, dan berjalan keluar dari kafe secepat yang bisa ia lakukan tanpa menarik perhatian.