Dina belum tidur ketika Kiara dan Arya tiba di rumah aman yang telah disiapkan Arya, sebuah apartemen kosong di kawasan Kalibata yang, menurut penjelasan singkat Arya, disewa bertahun-tahun sebelumnya di bawah identitas yang tak pernah ia gunakan untuk keperluan lain.
Ia telah menunggu berita sejak pukul sembilan malam, ponselnya digenggam erat di tangannya. Ketika akhirnya pintu terbuka dan ia melihat wajah putrinya yang basah oleh air mata, tanpa Reza di sampingnya, ia tahu, bahkan sebelum sepatah kata pun diucapkan, bahwa malam itu telah berubah menjadi sesuatu yang tak akan pernah bisa mereka perbaiki sepenuhnya.
"Di mana ayahmu?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Ibu," Kiara berlari ke pelukannya, tubuhnya gemetar. "Mereka nangkep dia. Aku enggak tahu ke mana mereka bawa dia."
Dina memeluk putrinya erat, matanya menatap Arya di atas bahu Kiara. "Data yang kalian kirim," katanya, suaranya bergetar antara kemarahan dan keputusasaan, "itu sepadan sama harga yang kita bayar malam ini?"
Arya tak langsung menjawab. "Aku enggak tahu, Bu Dina," katanya jujur. "Tapi aku tahu kalau kita enggak lakuin apa-apa, 47.283 orang itu, dan mungkin Kiara sendiri suatu hari, bakal jadi cuma angka lagi yang enggak pernah ada yang tahu."
• • •
Malam itu berlangsung tanpa tidur bagi ketiganya, Dina menghabiskan jam demi jam menelepon setiap kontak yang mungkin bisa membantu, semuanya berujung pada jawaban yang sama: tak ada catatan penangkapan atas nama Reza Mahendra di mana pun, seolah malam itu sendiri tak pernah benar-benar ada.
"Ini persis kayak yang terjadi sama Rani," bisik Kiara, duduk di sudut ruangan dengan lutut ditekuk ke dadanya. "Enggak ada catatan. Enggak ada jejak. Kayak dia enggak pernah ada."
Arya duduk di sampingnya, tangannya kaku di atas laptopnya sendiri, mencoba, sia-sia, untuk menemukan celah lain menuju sistem yang kini telah menutup diri sepenuhnya.
"Kita enggak akan biarin itu terjadi," katanya, meski suaranya sendiri terdengar kurang yakin. "Data yang kita kirim udah sampai ke tangan orang-orang yang bisa bikin ini enggak mungkin lagi disembunyikan sepenuhnya. Kita cuma perlu tunggu."
• • •
Reza tak pernah mengetahui persis berapa lama ia telah berada di ruangan tanpa jendela itu, waktu telah kehilangan bentuknya sejak lampu neon di atas kepalanya menyala terus-menerus tanpa jeda, tanpa siang, tanpa malam, hanya cahaya putih yang datar dan tak berbelas kasihan.
Interogasi itu tidak berupa kekerasan fisik yang brutal seperti yang pernah ia bayangkan dari film-film, sebaliknya, jauh lebih dingin, lebih metodis, dirancang oleh seseorang yang jelas memahami bahwa keputusasaan psikologis jauh lebih efektif daripada rasa sakit semata. Mereka menginterogasinya bergiliran, tiga orang berbeda dengan pertanyaan yang sama, diulang berjam- jam, mencari inkonsistensi kecil, mencoba memaksanya mengungkap di mana Arya bersembunyi, siapa lagi yang terlibat, apakah ada salinan data lain yang belum terkirim.