PROTOKOL PENGHAPUSAN

N. Y. YONS
Chapter #36

Nomor yang Dihafal

Panggilan itu datang pada hari keempat, dari sebuah rumah sakit umum di pinggiran Bekasi, seorang perawat yang menjelaskan bahwa mereka menemukan seorang lelaki tanpa identitas yang jelas, ditinggalkan di depan pintu unit gawat darurat malam sebelumnya, namun yang, ketika akhirnya sadar dari pingsannya, hanya mampu menyebutkan sebuah nomor telepon yang ia hafal di luar kepala, nomor Dina, yang telah ia hafal sejak hari pertama mereka berkencan dua puluh enam tahun sebelumnya.

Dina, Kiara, dan Arya tiba di rumah sakit itu kurang dari satu jam kemudian, berlari melewati koridor yang berbau antiseptik.

Reza terbaring di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat dan penuh memar, namun matanya terbuka, dan ketika ia melihat Dina dan Kiara memasuki ruangan, sesuatu yang menyerupai senyum, lemah namun nyata, muncul di wajahnya.

"Kalian aman," bisiknya, suaranya serak. "Data itu, "

"Udah tersebar ke seluruh dunia, Yah," kata Kiara, air mata mengalir deras saat ia menggenggam tangan ayahnya. "Semua orang tau sekarang."

• • •

Dokter yang merawatnya menjelaskan kemudian bahwa Reza mengalami dehidrasi parah dan beberapa luka akibat interogasi. Namun yang paling membingungkan dokter itu adalah sesuatu yang lain, ketika mereka mencoba memverifikasi identitas Reza melalui sistem kependudukan nasional, sistem itu tak menemukan catatan apa pun atas namanya.

"Menurut sistem, Bapak enggak pernah terdaftar," kata petugas administrasi, kebingungan jelas terlihat di wajahnya. "Enggak ada NIK, enggak ada riwayat kependudukan, enggak ada apa pun."

Reza mendengar penjelasan itu dan merasakan sebuah dingin yang familier merambat di dadanya, proses "penanganan tingkat tiga" yang diperintahkan Surya malam itu telah dimulai, mungkin telah menghapus sebagian besar jejak administratifnya sebelum, entah karena tekanan dari kebocoran data yang mengguncang dunia, proses itu terhenti di tengah jalan, meninggalkannya hidup namun dengan sebagian dari keberadaannya secara resmi telah lenyap.

"Aku bukan siapa-siapa lagi, secara resmi," katanya kepada Dina malam itu. "Enggak ada rekening bank yang bisa aku akses. Enggak ada riwayat kerja."

Dina menggenggam tangannya erat. "Kita bisa bangun ulang semuanya, Za. Bareng- bareng."

Reza menatap istrinya, lalu putrinya yang duduk di sisi lain ranjangnya. "Setidaknya," katanya, "aku masih di sini buat ngerasain kehilangan itu. Rani enggak pernah dapat kesempatan itu."

• • •

Orang tua Reza mengetahui apa yang terjadi kepada anak mereka bukan dari sebuah telepon yang penuh perhatian, melainkan dari sebuah tayangan berita yang secara tak sengaja mereka tonton pada sore hari ketika nama Reza Mahendra pertama kali disebutkan secara terbuka sebagai "korban penculikan yang diduga terkait skandal CNA Corp."

Ibunya, seorang perempuan berusia enam puluhan yang telah lama pensiun dari pekerjaannya sebagai guru sekolah dasar, duduk membeku di depan televisi mereka di rumah kecil di Jakarta Barat, tempat yang sama di mana Reza dibesarkan, tangannya gemetar begitu keras hingga cangkir tehnya nyaris terjatuh.

"Itu Reza?" katanya, suaranya nyaris tak terdengar, menatap suaminya yang duduk di sampingnya dengan wajah yang tiba-tiba tampak jauh lebih tua dari biasanya.

Mereka mencoba menghubungi Dina berkali-kali sepanjang malam itu, sebagian besar panggilan tak terjawab karena Dina sendiri sedang berjuang menghadapi kekacauannya sendiri, hingga akhirnya sebuah pesan singkat sampai menjelang tengah malam: Bu, Pak, Reza masih dicari. Saya janji kabarin begitu ada info. Tolong sabar.

Malam-malam berikutnya menjadi masa tersulit dalam hidup mereka sejak kehilangan anak sulung mereka bertahun-tahun sebelumnya karena kecelakaan lalu lintas, sebuah kehilangan lama yang, tanpa pernah dikatakan secara terbuka, telah membuat mereka berdua menaruh harapan yang begitu besar pada Reza, anak bungsu mereka, untuk hidup aman, stabil, jauh dari segala jenis bahaya yang telah merenggut kakaknya.

"Kita didik dia buat jadi orang yang hati-hati," kata ayah Reza suatu malam, duduk sendirian di teras rumah mereka yang sama tempat ia pernah menyampaikan kekhawatirannya kepada Arya bertahun-tahun sebelumnya. "Kita ajarin dia buat enggak ambil risiko, buat jaga jarak dari masalah. Terus sekarang dia ada di tengah-tengah skandal terbesar yang pernah ada."

Ibunya, yang bergabung dengannya di teras itu, menggenggam tangannya erat. "Mungkin kita salah ajarin dia, Pak. Mungkin yang seharusnya kita ajarin bukan cara menghindar dari bahaya, tapi cara tau kapan bahaya itu emang harus dihadapin."

Kata-kata itu, diucapkan oleh seorang perempuan yang telah menghabiskan separuh hidupnya berharap anaknya akan selalu memilih jalan yang paling aman, menjadi sebuah pengakuan yang mengejutkan bagi dirinya sendiri, sebuah pergeseran dalam pemahamannya tentang apa yang sebenarnya berarti menjadi orang tua yang baik, muncul terlalu terlambat untuk mengubah cara mereka membesarkan Reza, namun tepat waktu untuk mengubah cara mereka akan mendukungnya setelah semua ini berakhir.

Ketika Reza akhirnya ditemukan hidup, kedua orang tuanya adalah yang pertama datang ke rumah sakit setelah Dina dan Kiara, ibunya menangis begitu keras hingga seorang perawat harus menenangkannya sebelum mengizinkannya masuk ke ruang perawatan, dan ayahnya, lelaki yang jarang menunjukkan emosi secara terbuka sepanjang hidupnya, memeluk anaknya dengan sebuah keeratan yang belum pernah dirasakan Reza sejak masa kecilnya.

"Bapak bangga sama kamu," bisiknya, suara yang bergetar menahan tangis. "Bapak enggak pernah bilang ini sebelumnya, tapi Bapak bangga."

Surya Wijaya ditangkap oleh kepolisian tujuh hari setelah kebocoran data itu pertama kali dipublikasikan, difoto oleh puluhan wartawan saat digiring keluar dari kediamannya, wajahnya yang biasanya percaya diri kini tampak lelah dan tua dengan cara yang tak pernah ditunjukkannya di depan publik sebelumnya.

Lihat selengkapnya