Jakarta, 2052
Museum Arsip Kemanusiaan berdiri di lokasi yang dulunya adalah kantor pusat CNA Corp, lantai tujuh, yang dulu menjadi jantung dari mesin penghapusan manusia, kini menjadi ruang pameran utama, dindingnya dipenuhi nama-nama dari 47.283 orang yang pernah "ditangani," diukir dalam marmer putih yang membentang dari lantai hingga langit-langit.
Seorang gadis berusia enam belas tahun bernama Aiko berdiri di depan salah satu dinding itu, jarinya berhenti pada satu nama yang, entah bagaimana, terasa berbeda dari yang lain, sebuah plakat kecil di bawahnya menandainya sebagai "Kasus Pertama."
Rani Kusuma, 1978, ?, SMA Negeri Satya Negara, 1994.
"Kamu tertarik sama dia?"
Di lantai dasar museum, sebelum pengunjung mencapai dinding nama-nama di lantai tujuh, mereka terlebih dahulu melewati sebuah lorong panjang yang disebut staf museum sebagai "Lorong Suara", dinding-dindingnya dilapisi layar-layar kecil yang memutar, secara bergiliran, potongan-potongan kesaksian video dari keluarga korban yang telah dikumpulkan sepanjang tahun-tahun rekonstruksi.
Aiko telah melewati lorong itu sebelum bertemu Kiara di lantai tujuh, berhenti sejenak di depan sebuah layar yang menampilkan seorang perempuan tua bercerita tentang anaknya, seorang mahasiswa yang menghilang tahun 2019 setelah mengorganisir diskusi kampus tentang kebebasan pers. Di layar sebelahnya, seorang lelaki paruh baya menunjukkan sebuah baju yang telah menguning, satu-satunya barang yang tersisa dari istrinya yang tak pernah ditemukan.
Ia juga sempat singgah di sebuah ruangan kecil bertajuk "Mereka yang Kembali," berisi kisah-kisah seperti Pak Hasan dan istrinya, foto-foto reuni yang menampilkan air mata dan pelukan, sebuah ruangan yang, meski penuh kebahagiaan, tak pernah bisa sepenuhnya mengalahkan berat dari ruangan-ruangan lain di sekitarnya yang berisi jauh lebih banyak nama tanpa akhir bahagia.
• • •
Di sudut lain museum, pada sore yang sama ketika Aiko bertemu Kiara, seorang lelaki paruh baya berdiri lama di depan sebuah panel interaktif yang memungkinkan pengunjung mencari nama dalam basis data yang telah direkonstruksi. Ia mengetikkan sebuah nama, menunggu dengan napas tertahan, dan ketika hasilnya muncul, konfirmasi bahwa neneknya, yang hilang sebelum ia lahir, pernah tercatat menjalani "penanganan tingkat satu" sebelum catatannya terhenti pada tahun 2003, ia berdiri diam untuk waktu yang lama, air mata mengalir tanpa suara.
Seorang staf museum, yang telah dilatih khusus untuk momen-momen seperti ini, mendekatinya dengan lembut, menawarkan sebuah kursi dan segelas air, serta sebuah formulir jika ia ingin mengajukan permohonan pencarian lebih lanjut melalui tim investigasi yang masih aktif bekerja hingga hari itu, delapan belas tahun setelah museum pertama kali dibuka.
Momen-momen semacam ini terjadi hampir setiap hari di museum itu, kecil, senyap, jarang diliput media, namun masing-masing merupakan sebuah babak penutup atau babak baru dalam kisah panjang tentang bagaimana sebuah negeri belajar, dengan susah payah dan tak pernah sepenuhnya tuntas, untuk mengingat apa yang pernah ia coba lupakan.
Aiko menoleh, mendapati seorang perempuan berusia pertengahan empat puluhan berdiri di sampingnya, rambutnya sudah memutih di banyak bagian, terlalu banyak untuk usianya, seolah waktu telah mempercepat dirinya sendiri sejak satu malam di tahun 2026.
"Saya baru belajar soal ini di sekolah," kata Aiko. "Ibu tau soal dia?"
Kiara Mahendra, kini empat puluh enam tahun, salah satu pendiri museum ini, tersenyum, sebuah senyum yang membawa berat dari puluhan tahun kenangan.
"Dia teman ayah saya waktu SMA," katanya. "Dia yang pertama kali menunjukkan keberanian, jauh sebelum siapa pun tahu apa yang akan terjadi karena keberanian itu."
"Apa yang terjadi sama dia?"
Kiara menatap nama itu lama. "Kami enggak pernah nemuin dia," katanya jujur. "Dari 47.283 nama di dinding ini, sebagian besar akhirnya bisa dilacak, direkonstruksi catatannya. Tapi Rani, dia dihapus terlalu awal, terlalu bersih, sebelum sistem apa pun sempat mendokumentasikan ke mana dia dibawa."