Blurb
Di Jakarta yang segala harga makin mahal untuk hidup, keempat perempuan ini berbagi ruang—sebuah kontrakan empat kamar yang tak semata tempat untuk tidur dan beristirahat, tapi juga sebuah medan tempur. Cerita ini tidak berfokus pada perubahan nasib instan, melainkan pada daya juang masing-masing menghadapi hari-hari yang makin menindas kewarasan mereka.
Bianglala adalah perempuan paling muda di antara semuanya, ia mulai didatangi debt collector pinjol ke kontrakan, ketenangan mereka langsung goyah. Masalah Bianglala memicu gesekan: Rarajati yang mulai menghakimi secara moral, Ale yang merasa privasinya terganggu karena ia sendiri sedang menyembunyikan selingkuhannya, dan Deanara yang terpaksa harus membagi sisa uang makannya yang tinggal sedikit untuk dikirimkan ke anak asuh dari kakaknya yang tak bertanggung jawab dan sang ibu di kampung.
Kisah ini menyorot, bagaimana kemiskinan di Jakarta bukan hanya soal tidak memiliki uang, tapi soal hilangnya hak atas waktu, kesehatan mental, dan martabat sebagai manusia. Mereka saling membenci, tetapi sekaligus saling menguatkan sebagai sesama perempuan yang pada akhirnya selalu jadi korban.