Proyek Buku Besar

Foggy FF
Chapter #1

Rumah Kos Ibu Haji


“Woy! Cuci piring berjam-jam, lo pikir lo Dokter Andreas Kurniawan?”

Bianglala lekas menoleh, ia tahu Ale sedang mencoba mengganggunya. “Siapa tuh, Mbak?”

Ale memutar bola mata lentiknya. “Katanya anak kuliahan, masa Dokter Andreas aja nggak tahu. Itu lho, yang kalau berduka sambil cuci piring.”

Bianglala memutuskan kembali pada cucian kotor—tak menggubris Ale, dengkusannya bahkan seperti bisikan. Angannya terbang ke Bapak dan Ibu di kampung.

Celoteh masih menghias rumah kos ibu Haji pagi ini, sebelum keempat penghuni berangkat beraktifitas. Bianglala yang kebagian cuci piring, sudah beberapa hari ia ambil peran mengerjakan urusan piring-piring kotor di dapur. Mungkin karena ia sadar diri, kalau tiga penghuni lain yang lebih tua darinya sangat sibuk.

Rarajati baru saja turun, ia menepuk bahu Bianglala. “Ndak usah digubris. Memang pegawai kantoran seperti dirinya selalu menganggap orang lain lebih bodoh.”

Bianglala makin bingung. Ia melongo menatap Rarajati yang sibuk menyematkan bros di hijab panjangnya. Warna hitam mendominasi pakaian serbapanjang yang dikenakan Rarajati pagi ini, dari ujung hijab hingga mata kaki.

Perjalanan pulang menembus lalu lintas Benhil yang pikuk membuat Deanara tidak punya pilihan selain tabah. Bekerja sebagai staf tata usaha berjilbab di sebuah sekolah Kristen kerap membuatnya bimbang; orang-orang di kampung halaman pasti akan bergunjing. Demi Amel dan Bunda, Deanara berusaha tak ambil pusing.

Sebuah sedan hitam mengilat berhenti persis di depan hidungnya.

“Bu Dea, mau pulang bareng? Masih jauh, lho, kalau jalan kaki.”

Lexy, seorang murid di sekolah tempat Deanara bekerja, menurunkan kaca penumpang. Ia tersenyum menyipit.

Deanara mengernyit. Meski tas selendang di bahunya amat berat untuk dipanggul, ia lekas menolak sambil mengibaskan tangan. “Kamu duluan aja, Lex. Ibu mau sekalian ke minimarket di depan.”

Lihat selengkapnya