
Bubur ayam di sini tak pernah seenak bubur ayam yang ada di kampung baginya. Apalagi buatan Ibu—yang meski dengan topping sederhana, bisa membuat dirinya nambah sampai dua mangkuk. Kampungnya di Bogor sebetulnya tidak kampung-kampung amat, tetapi juga tak seruwet rumah kosnya di Bendungan Hilir. Itulah kenapa Bianglala tiba-tiba rindu pada rumah.
“Mata lo makin hari tuh makin mirip panda, tahu, La.” Ale menyusut ujung bibirnya dengan tisu, lantas menambahkan pelembap bibir berwarna di sekujurnya.
Bianglala menunduk sambil memainkan ponselnya yang kehabisan paket data. Ia baru saja ganti nomor, cuma Ibu dan Bapak yang tahu nomornya yang baru. Bahkan penghuni rumah kos Ibu Haji tak ada yang ia beri tahu. Sebaiknya begitu, supaya hatinya lebih tenang dalam upaya mencari rezeki menutup utang orang tuanya yang menumpuk.
“Selain kuliah, jadi lo magang juga?”
“Iya, Mbak,” cicit Bianglala malas. Satu aplikasi lamaran sudah terkirim via surel ke sebuah perusahaan minuman keras. Kerja apa pun akan aku lakukan demi terbebas dari ancaman ini.
Sementara itu, perempuan cantik di hadapannya pun sibuk menekuri ponselnya. Ale selalu jadi simbol kemapanan di mata Bianglala; masih muda, pintar berdandan, selalu wangi, dan barang-barang yang ia pakai pun branded semua. Bianglala menunduk, mengamati celana SpongeBob-nya yang belum ia ganti sejak semalam, juga sandal jepit punya Bapak yang ia pinjam ke Jakarta.
“Magang di mana?” Ale masih mengejarnya, meski Bianglala kentara sudah tak nyaman menjawab.
“Perusahaan start-up, Mbak.”
“Jangan-jangan judol?”
Bianglala mengangkat wajah, alisnya terangkat. Bagaimana bisa mulut Ale yang indah mengilat itu, mengucapkan tuduhan yang selalu sinis padanya?
“Bercanda, La. Enggak usah dimasukin ke hati. Lagian, kalau kamu kerja enggak halal pun, kalau demi bantu ortu mah jatuhnya jadi halal enggak, sih, La?” Ale bicara cepat.
“Nggak begitu juga sih, Mbak. Mbak Ale kayaknya harus ngobrol sama Mbak Rara.”
Ale terbelalak. “Rarajati? Ogah banget! Bisa diceramahin 4 SKS gue!”
Bianglala sebetulnya sudah berusaha datang ke kedai bubur sepagi mungkin demi mendinginkan kepalanya sejak tadi malam. Pikirannya, jika ia datang lebih pagi, penghuni kos belum ada yang bangun. Namun, Bianglala salah; Ale yang biasanya bangun paling siang justru sudah duduk manis sambil memainkan ponsel.
“Lagi ada masalah di kantor, Mbak Ale?”
Ale mengalihkan pandangannya ke wajah Bianglala, menggeleng cepat, lalu kembali menatap layar ponselnya. “Bukan kantor, La. Ini lebih pelik dari kantor.”
“Lagi ribut sama pacar, ya, Mbak?”
Ale tak menjawab. Ia malah mengucek isi mangkuk buburnya yang belum tersentuh. Baju tidur yang Ale kenakan masih melekat sejak malam tadi. Bianglala tahu betul, karena semalam ia memergoki Ale masih bercakap di ponselnya sampai jam dua pagi. Ale yang biasa menasihatinya soal kantung mata dan kesegaran kulit, tak biasanya begadang sampai larut dan bangun sepagi ini—lanjut nongkrong di tukang bubur ayam.