Apa yang lebih hebat dari menjaga nurani dan iman? Begitulah mantra yang selalu dirapalkan Rarajati sebelum melangkah keluar kamar. Namun, sebelum langkahnya sampai di anak tangga terakhir, suara bel dari arah pintu mengagetkannya.
Hari ini ia berangkat ke kampus agak siang. Sebetulnya, jam kerja dosen Universitas Cakrawala Bangsa sudah dimulai sejak pagi. Namun, Rarajati sedang merasa malas menghadapi sikap kolega lain yang masih saja mempertanyakan statusnya sebagai dosen tetap. Kurang bagaimana lagi? Rarajati mengabdi di kampus itu sudah lima belas tahun lamanya, ditambah beragam jurnal penelitian yang rampung ia selesaikan dengan predikat memuaskan. Tetap saja, dosen yang diangkat selalu memiliki kedekatan dengan ketua yayasan atau kerabat pejabat Kementerian Pendidikan Tinggi.
“Ya, mau cari siapa, Mas?”
Dua lelaki tinggi tegap berdiri menghadap Rarajati begitu pintu terbuka. Satu di antaranya berwajah lebih ramah, memperlihatkan selembar berkas dengan foto di dalamnya. Sementara lelaki satunya berwajah lebih asam, menggerak-gerakkan otot lengannya yang dihiasi rajah.
“Halo, Kak. Mohon maaf mengganggu. Kami dari Prima Dana Konsultindo, perusahaan penagihan yang bekerja sama dengan beberapa lembaga pinjaman keuangan.”
Rarajati sontak tergagap—menyadari kalau dirinya sedang sendirian. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke luar agar bisa terlihat oleh tetangga. “Ada apa, ya?”
“Begini, Kak. Kalau Kakak tidak nyaman menerima kami di dalam rumah, bisakah kami duduk di kursi teras ini? Kami hendak memberikan informasi penagihan terhadap saudari Bianglala Asmarini.”
Dengan wajah memucat, Rarajati lekas menutup pintu dan duduk di kursi teras. Tak hentinya ia menoleh ke arah jalan—berharap tetangga yang biasa bergosip di warung masih berkumpul di sana. Sayangnya, jalanan kali ini sepi.
“Orangnya enggak ada di rumah. Mas-Mas ini, ada surat tugas dari perusahaan?”
Si lelaki berwajah asam pun terkekeh dengan bibir menipis. “Kalau kami enggak bawa surat, ngapain ke sini, Kak? Kami juga bukan tukang tagih sembarangan,” ucapnya dengan sebelah alis berkedut.
Ucapan sinis lelaki itu membuat Rarajati bungkam. Ia lalu membaca selembar kertas yang menginformasikan bahwa Bianglala memiliki sejumlah tagihan dari beberapa perusahaan layanan pendanaan. Tak main-main, ada lima tagihan dari perusahaan berbeda dengan jumlah yang membuat Rarajati terkesiap.
“Li—lima puluh enam juta?!”
“Betul, Kakak baik. Kalau boleh tahu, Kakak ini siapanya Kak Bianglala?”
Rarajati seketika teringat, ia meninggalkan ponselnya di meja makan. Rasa takut merayapi batinnya. Tengkuknya merinding. “Saya cuma kawan satu kos.”
“Bianglala Asmarini, namanya itu bagus sekali loh, puitis. Tapi sayang, catatan di sistem kami agak kurang baik soal dia, Kak. Total tagihan berjalan yang harus masuk hari ini itu pas lima puluh enam juta rupiah. Angka dari aplikasi pendanaan kemarin.”