Malam ini, Jakarta tak mengembuskan angin damai, pun sama sekali tak sejuk. Jakarta cuma memindahkan udara panas bercampur debu, asap knalpot, dan aroma got dari satu gang ke gang lainnya.
Di ujung Jalan Pencucian, sepasang sepatu kets butut diseret paksa melangkah pulang. Kakinya terasa berat, bak jangkar kapal yang baru dilempar ke dasar kanal. Tumit belakangnya lecet; sepatu itu sudah kesempitan. Hari ini ia ditolak lagi di tiga tempat wawancara kerja paruh waktu, dan perutnya cuma diisi sepotong roti dua ribuan.
Namun, letih fisik itu tak seberapa dibanding kebingungan yang harus ditanggungnya ketika Ale dan Rarajati bergantian mengirimkan pesan pribadi via Instagram.
"Lo ke mana, sih, La? Nomor nggak ada yang aktif. Cepet balik, kita butuh lo sore ini. Kosan Bu Haji, ASAP!"
"La, kamu ndak bisa seenaknya begitu. Apa ndak kasihan sama kakak-kakakmu di kontrakan sini?"
Ia merasa seperti disiram air es satu galon ketika membuka pintu rumah kos Ibu Haji. Ruang tengah itu tidak temaram seperti biasanya. Padahal sudah pukul delapan lewat—waktu di mana para penghuni biasanya sudah masuk ke kamar masing-masing—kali ini lampu tengah menyala terang benderang. Di atas tiga kursi butut yang diletakkan memutar—peninggalan entah siapa—tiga perempuan duduk memutar. Di mata Bianglala, mereka seperti sudah siap menjatuhkan vonis mati buatnya.
Ale duduk di kursi paling kanan—masih mengenakan kemeja kerja sutra berwarna hitam. Kedua lengannya bersedekap di dada, rahangnya mengeras. Di tengah, Rarajati duduk tegak dengan kacamata baca bertengger di pangkal hidung, tangannya menggenggam sebuah buku tebal yang entah dibaca atau sekadar mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Sementara di sebelah kiri, Deanara tampak paling pucat; ia terus meremas ujung daster batiknya dengan jemari yang kentara gemetar.
Bianglala sempat mengangkat wajahnya menatap mereka satu per satu. Udara di ruangan sempit itu terasa mampat, seolah salah satu dari mereka baru saja menyedot seluruh oksigen di sana—mungkin Ale yang kelihatan paling garang.
"Selamat sore, Mbak semua... kok, tumben pada kumpul?" sapa Bianglala sambil mencoba peruntungannya merangkai senyum.
Ale mendengkus, tawa sinis lolos dari bibirnya yang kemilau. "Duduk lo."
Titahnya pendek dan tajam, tapi yang sanggup membuat Bianglala menurut seperti anak anjing, adalah delikan Ale yang bikin tak tahan. Bianglala lalu meletakkan tas kainnya di atas meja, ia perlahan menjatuhkan diri di kursi plastik seberang mereka. Bisa jadi, kursi itu memang sudah disiapkan oleh ketiganya untuk Bianglala. Jantungnya bergerak tak karuan, memukul-mukul rusuknya yang malam ini melilit seperti habis dipelintir angin.