Ibu Haji Dorojatun, dikenal paling sugih dan dermawan sepanjang Kelurahan Pencucian. Rumah kontrakannya berjajar dari ujung Benhil sampai ke Mintohardjo. Dia, yang kemudian dikenal sebagai Ibu Haji Atun, punya dua orang anak yang juga juragan kontrakan di daerah Kemayoran dan Johar Baru.
Rarajati bilang, berkah berangkat haji salah satunya adalah rezeki moncer dan doa baik dari tetangga-tetangga. Itu kenapa induk semang mereka seolah tak henti-hentinya, didera rezeki baik dan kekayaan.
“Aku sih, ya, percaya banget dengan do’a orang baik. Makanya bergaul dengan sesama orang baik itu penting, biar bisa saling mendoakan,” ucap Rarajati malam itu, pada Deanara yang baru saja pulang lembur. “Mbak Dea, memangnya ndak kepingin apa kerja di sekolahan muslim aja, daripada kerja di sana?”
Deanara lekas menoleh, ia tak menyangka orang pertama yang disasar Rarajati adalah dirinya. “Ya, kalau ada pilihan yang jauh lebih baik dan melebihi standar gaji di sana, masa aku tolak, Mbak?”
Rarajati tersenyum mendengar tanggapan Deanara. “Mbak Dea, uang bukan segalanya…”
Deanara lekas terbatuk. Ia menyeruput teh hangat miliknya yang ada di meja. “Sampai ketika telpon datang dari kampung, Mbak,” potongnya. “Memangnya, Mbak Rara nggak kepingin punya status dosen tetap di kampus? Aku pikir kita semua pasti kepingin punya profesi ideal yang kita cita-citakan, Mbak.”
Rarajati merasa, pukulan telak telah disampaikan Deanara—tak ia sangka akan mengarah ke status dosennya yang sampai kini belum jelas. Ia pun mengangguk-angguk.
Ale yang sedari tadi sudah jengah dengan pembicaraan kedua orang tetangga kamarnya, lekas mengibaskan tangan. “Ini kita pada ngumpul di sini, mau bahas soal si Lala, kan? Sebelum Ibu Haji nyatronin rumah ini, dan komplen.”
Bertepatan dengan ucapan Ale, pintu ruang tamu diketuk seseorang dengan cepat.
Ibu Haji Atun sudah berdiri di depan pintu, ketika Deanara membukakan.
Wajah wanita paruh baya itu tampak tenang, tanpa ekspresi. Namun, seperti semua orang sudah kenal dirinya, itu adalah wajah tenang sebelum badai datang. Ia melangkah masuk tanpa dipersilakan. Bu Haji mengambil tempat duduk di kursi plastik ruang tengah, menatap ketiga perempuan itu bergantian.
Suasana langsung sunyi dan sibuk sendiri-sendiri.
"Duduk, Neng. Ibu mau ngobrol bentar," ucap Ibu Haji Atun lamat-lamat. Nada suaranya memang tidak meninggi, bahkan terkesan keibuan dengan artikulasi tajam.
Ia membetulkan letak cincin emas di jari manisnya, membiarkan gemerincing dari gelang keroncongnya terdengar, sebelum mulai bicara dengan logat khas miliknya. "Ibu perhatiin dari kemaren-kemaren... ini kontrakan yang biasanya adem ayem, tentram, kok jadi bawa hawa panas, ya? Tadi pagi, Mpok warung nasi depan gang udah nanya-nanya sama Ibu. Katanya ada preman gedor pager. Neng... ketenangan kontrakan Ibu pan jadi kecoreng begini, ya. Kalo udah jadi gunjingan orang sekampung, repot urusannya. Mulut tetangga itu lebih tajam dari pisau dapur."
Rarajati, yang merasa mendapat momentum langsung memajukan tubuh. Wajahnya menampilkan simpati bercampur keinginan untuk berpihak pada sang induk semang.
"Astaghfirullah, Ibu... Saya paham betul maksud Ibu Haji," timpal Rarajati cepat. "Itu makanya saya tuh udah bilang sama temen-temen ini. Kalau berurusan sama pinjaman yang ndak jelas begitu, apalagi berbunga tinggi, itu kan sudah masuk dosa riba. Riba itu merusak keberkahan. Ya, pasti mengundang bala. Wajar kalau sekarang seisi rumah jadi ikut kena getahnya."
Cetek!