Suara perut kemrucuk, dan betis yang pegal setelah berjalan sekian kilometer membuatnya memutuskan untuk duduk sejenak. Berada di luar malam-malam, meski udara Jakarta begitu gerah, tetap saja membuat perutnya rawan masuk angin. Taman Menteng adalah lokasi yang tak pernah tebersit dalam pikirannya. Entah kenapa, ia melarikan diri ke sini. Setelah menyadari kedai Mat Soleh tutup, Bianglala lekas angkat kaki dan berjalan tanpa tujuan.
Ia memutar kepalanya, menengok ke kanan dan ke kiri. Ia khawatir kalau ada yang mengikutinya. Utang yang menggunung membuatnya merasa seperti buronan paling dicari saat ini. Padahal, usianya belum genap dua puluh dua tahun.
Entah berapa banyak polusi dan debu Jakarta yang sudah ia isap, sampai tenggorokannya terasa kerontang. Berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya membuat ia harus menelan setiap gram partikel kotor sekaligus angin malam. Bianglala merapatkan jaket tipis seadanya yang ia sambar dari cantolan pintu, sambil beringsut mencari kenyamanan di atas kerasnya bangku semen.
Di seberang taman, seorang pedagang nasi gila sibuk menggesekkan spatula ke wajan. Aroma gurih kecap dan bawang putih yang menguar terbawa angin membuat perutnya kembali perih, mengingatkan bahwa terakhir kali ia makan dengan layak adalah kemarin sore.
Ia merogoh saku celananya. Ia lupa membawa ponsel. Kain katun di dalam saku celana jinsnya terasa kosong. Jari-jarinya hanya menyentuh serat kasar dan selembar struk minimarket yang sudah lecek. Rasa panik sempat merayap, menyumbat tenggorokannya yang sudah seret sejak tadi. Tanpa alat itu, ia terputus dari segalanya. Ia tak tahu pukul berapa sekarang, dan ia tak punya cara untuk menghubungi siapa pun—kalau memang masih ada yang cukup peduli untuk dihubungi.
Namun, seiring embusan angin yang menyapu rambut lepeknya, kepanikan itu perlahan berubah menjadi kantuk. Ia menguap berkali-kali. Dengan kelopak mata yang memberat, Bianglala bersandar di kursi semen berdebu sambil terkantuk-kantuk.
Ia membayangkan ponselnya tergeletak di atas kasur kamarnya di Benhil. Biarlah. Biar saja benda itu bergetar semalaman, menampung puluhan panggilan nomor tak dikenal, makian kotor, ancaman kasar, dan foto-foto editan yang membikinnya nyaris tak waras dua hari ini. Di Taman Menteng, di bawah kerlip kuning lampu jalan, ia tak terjangkau oleh teror mana pun. Termasuk kuliah moral yang dimuntahkan oleh tiga seniornya di kosan Ibu Haji.
Bianglala menatap kendaraan yang berlalu-lalang di Jalan HOS Cokroaminoto dengan mata sembap. Sorot lampu mobil dan motor melintas cepat, menyapu dedaunan taman, mencetak siluet memanjang di atas aspal, lalu lenyap bersama raungan mesin yang berkejaran menempuh jalan menuju pulang. Pulang. Rasanya ia makin jauh dari kata pulang dan rumah. Ke mana ia harus mencari damai, jika rumah yang ia butuhkan tak kunjung memberinya perlindungan?
Keriuhan ibu kota menggeliat bak monster raksasa yang tak punya peduli. Bianglala merasa ada jarak ribuan kilometer yang membentang antara dirinya dan hiruk-pikuk di hadapannya ini. Mereka begitu angkuh, begitu jauh.
Hawa dingin makin menyusup ke tulang belulangnya yang memohon-mohon untuk direbahkan di kasur empuk. Ia bergidik kemasukan angin. Perutnya kembali kemrucuk, melilit perih, menuntut sisa energi dalam tubuhnya yang nyaris tandas.
Sambil menekuk kedua kakinya ke atas bangku, lengan kurusnya melingkar memeluk lutut erat-erat. Ia simpan kepalanya di antara dengkul, sambil membaca ayat-ayat yang ia sempat ingat di kepalanya. Memohon tolong pada Ia Yang Maha Mendengar.
Di tengah pusaran Jakarta yang tak pernah tidur, baru kali ini Bianglala merasakan sepi yang begitu menyayat jiwa. Di kota berpenduduk jutaan nyawa ini, ia harus menelan sembilu itu mentah-mentah, bersama pedihnya lapar dan rasa malu yang menggerogoti.
Isak Bianglala perlahan mereda. Rasa lelah mengambil alih kesadarannya, ia pun tertidur meringkuk. Deru kendaraan lambat laun terdengar seperti dengung lebah, mengaburkan perih di lambung untuk sementara.
Namun, damai itu tak berlangsung lama.