Proyek Buku Besar

Foggy FF
Chapter #7

Sebuah Relung Bernama Mitleid

“Yang paling deket sama si Lala tuh cuma Dea,” ucap Ale cemetut, setelah kembali dengan tangan kosong—di dini hari yang luar biasa dingin.

Deanara menunduk sambil mengotak-atik ponselnya dengan jemari kedinginan. Di hadapannya, Rarajati melakukan hal yang sama—sibuk mengirim pesan.

“Ini aku lagi coba kontak kawan-kawan dosen, barangkali mereka punya jalan keluarnya. Aku yakin, persoalan keuangan ini bisa dikawal lewat jalur hukum,” tukas Rarajati dengan raut serius. Sinar dari ponselnya menerangi dahinya yang mengerut.

“Alah Mbak, sadar atau nggak yang si Lala lakukan itu ya salah. Secara sadar dia berhutang sekian banyak,” tukas Ale. “Lagian, paling temen lo juga masih pada tidur pagi buta begini. Bukannya, lo juga gak suka sama dosen-dosen yang nikung lo itu ya, Mbak?”

Deanara memelototkan matanya. “Ale! Udah sih, nggak usah ngajak ribut terus. Kita semua lagi capek!”

Ale langsung terdiam, ia sadar kalau frustrasinya sudah berlebihan. Ia menyindir Rarajati terlalu jauh, sementara yang disindir hanya duduk membeku, jemarinya yang tadi sibuk mengetik terlihat gemetar.

Udara dini hari terasa semakin kejam menusuk tulang, ketegangan di rumah kos mungil itu kian menguar membuat ketiga wajah perempuan itu makin tampak lelah. Kipas angin di sudut ruang memang tak dinyalakan, tapi dingin tetap berembus masuk dari celah-celah lubang kusen. Ketiganya diam dalam hening, menghadapi kekhawatiran yang membuat kepala mereka makin berat. Di luar, raung knalpot motor sesekali tetap melintas, membelah jalan raya Benhil.

Ale tiba-tiba berdiri dan mendekat ke jendela, menatap kegelapan di luar jendela. Sambil mengusap wajahnya yang terasa lengket, ia mulai mengerjapkan mata melawan kantuk. Sisa riasannya makin berantakan.

"Gue cuma... frustrasi, Dea, Mbak Ra," gumam Ale, nadanya terdengar lebih melunak. Ia menunduk menatap ujung jemari kakinya. "Gue sama Deanara udah muterin Dukuh Atas sampai Sarinah, nanya ke tukang ojek, ke penjaga minimarket... tapi nihil. Anak itu kayak ilang ditelan bumi, dari sejak ribut sama kita di ruangan ini kemarin."

Rarajati menghela napas. Ia lekas meletakkan lagi ponselnya ke meja. Layarnya menggelap. Alih-alih mendebat Ale seperti biasanya, perempuan yang usianya paling matang di antara mereka itu menatap kosong ke arah pintu kamar Bianglala yang tak tertutup rapat. Di sana, sebuah kemeja menggantung di atas kursi yang biasanya ia duduki sambil mengetik—entah apa, benda-benda itu jadi saksi bisu betapa pelik masalah yang dihadapi Bianglala.

"Mungkin... Ale selama ini benar soal aku," ucap Rarajati mengalahkan suara dengung neon.

Kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut dosen yang biasanya defensif itu, sontak membuat Ale dan Deanara menoleh.

“Benar apanya?” Ale mengangkat alis.

"Mungkin selama ini aku sibuk menasihati Bianglala supaya sabar, supaya tawakal. Aku sibuk menghakimi semua yang sedang dia hadapi..." Rarajati menelan ludah, susah payah ia bicara. "Tapi aku lupa untuk tanya, apa dia baik-baik aja selama ini."

"Mbak Rara… kita bertiga melakukan kesalahan yang sama. Bukan cuma dirimu," ucap Deanara pelan. “Aku pun merasakan hal yang sama, padahal aku paling dekat sama Bianglala.” Sambil menekan perutnya yang tiba-tiba mual, Deanara menyandarkan punggung ke kursi. 

Lihat selengkapnya