Ibu Haji Dorojatun bukanlah tipe induk semang tak bernurani, ia punya banyak orang untuk dihidupi. Itulah kenapa, ia tak suka periuk nasinya terganggu. Hari ini, bukanlah Bianglala yang coba diusiknya, tapi karyawan bank yang tempo hari menguliahinya soal aturan perbankan. Kebetulan, orang pertama yag ia temui di jalan adalah Rarajati.
“Temennya Neng Rara yang satu ini sepertinya nggak punya moral. Modalnya itu cuma muka cakep sama dandan, dia itu mau-maunya jadi simpanan laki orang. Kalo kayak begitu terus, mending angkat kaki dari rumah ini. Bikin gak berkah hidup Ibu aja,” ucapnya yang pedas, disampaikan dengan rima tenang dan senyum keibuan.
Rarajati dua puluh menit lagi harus mengawasi mahasiswanya ujian, ia terjebak dan cuma bisa mengangguk-angguk setuju. Menanggapi Ibu Haji Atun mengobrol, cuma akan bikin perempuan paruh baya itu makin betah.
“Nanti saya sampaikan, Bu,” senyum di bibir Rarajati sudah dibikin semanis mungkin. “Kebetulan kalo sekarang, saya harus mengawasi mahasiswa ujian.”
Bu Haji ikut tersenyum. Tak berapa lama, ia menjatuhkan bom yang tak Rarajati suka. “Memangnya, Neng Rara ini sudah jadi dosen tetap, ya?”
Gelagapan, Rarajati lalu meremas ujung khimarnya. Ia sama sekali tak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulut Bu Haji.
“Belum, Bu, doakan saja.”
Ibu Haji Atun tersenyum tipis, kedut di bibirnya tak mencapai matanya. “Makanya, Neng. Hidup itu gak usah aneh-aneh. Kalau cuma honorer, ya gaya hidupnya disesuaikan. Jangan kayak temannya itu, bergelimang dosa.”
Wanita paruh baya itu lalu melenggang pergi, membiarkan Rarajati menelan kalimat bak beling itu dengan diam.
Sore itu, untuk mengusir pening di kepalanya dan sebagai bentuk permintaan maaf atas rentetan khotbahnya selama ini pada penghuni kos, Rarajati memutuskan berjalan ke depan gang. Ia memesan dua porsi martabak di gerobak Bang Kumis—satu martabak manis untuk Ale, dan satu martabak telur untuk Deanara. Mereka butuh asupan layak sebelum kembali melanjutkan pencarian Bianglala. Semoga mereka tak terlambat.
Sambil menunggu adonan martabak matang, Rarajati berdiri di pinggir trotoar sambil memainkan ponsel. Di sebelahnya, berdiri seorang remaja perempuan yang sejak tadi mencuri perhatiannya. Usianya mungkin baru belasan tahun, seumuran keponakannya di kampung, tapi penampilannya sangat kontras dengan kumuhnya lanskap Jalan Pencucian. Gadis itu mengenakan kardigan rajut bermerek, sepatu berceklis satu yang Rarajati yakin, harganya bisa setara dengan dua bulan sewa kamar kosnya. Ia juga menenteng tas mungil mencolok dengan huruf H di depan.
“Nunggu jemputan, Dek?” sapa Rarajati mencoba ramah, selain karena ia sendiri juga sedang celingukan—waspada akan orang-orang yang masih mencari Bianglala.
Remaja itu menoleh. Wajahnya terawat bersih, riasannya tipis dan mengilat. Yang mencolok dari wajahnya, adalah sorot kemarahan yang terlihat menyala-nyala dan tak sesuai di usia belianya.
“Nunggu orang, Tante,” jawabnya singkat. Ia balik memindai Rarajati, dari ujung khimar hingga kaki yang tertutup gamis panjang.
“Oh, temannya ada yang kos di sekitar sini?” pancing Rarajati lagi.
Gadis itu mendengkus pelan. “Bukan teman. Orang yang kos di daerah sini.”
Rarajati baru saja akan membuka mulut lagi ketika sebuah ojek online menepi pelan-pelan, tepat di depan gerobak martabak. Ale turun dari boncengan. Wajah perempuan itu terlihat luar biasa kuyu. Sisa riasannya sudah pudar dihajar keringat dan debu Sudirman, berikut seragam kerjanya yang ikutan kusut. Bahunya melorot, memikul lelah setelah seharian kerja dan semalaman suntuk mengitari Jakarta mencari Bianglala.
Ale baru saja mengulurkan helm ke arah driver ojek ketika remaja di sebelah Rarajati tiba-tiba menyerbu cepat.
Gadis itu menerjang Ale. Tangannya mengayun di udara dan—Plak!
Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Ale, suara nyaringnya seketika menghentikan aktivitas Bang Kumis yang sedang mengiris martabak.
Ale terhuyung, helm di tangannya lepas dan menggelinding ke selokan. Ia memegangi pipinya yang panas dan memerah, matanya membelalak kaget, masih belum bisa mencerna apa yang baru saja menghantamnya.
"Oh, jadi ini wujud aslinya kalau siang?!" sambar remaja putri itu. Suaranya melengking, membelah hiruk-pikuk sore di depan gang. Urat lehernya menonjol, menahan amarah yang meledak ruah. "Ini kan, perempuan yang tiap malam dikirimin duit sama Papa gue? Yang dibeliin tas mahal pakai kartu kredit keluarga gue?!"