Proyek Buku Besar

Foggy FF
Chapter #9

Tenda Kopi Bang Oskar

“Aku rindu Ibu sama Bapak,” ucapnya sambil menyeruput secangkir cokelat panas malam itu. Yang diajak bicara hanya manggut-manggut, seolah paham rasanya merindukan orang tua.

“Nggak pulang aja?”

Bianglala menggeleng. “Mau ngapain pulang?”

Pak Haris terkekeh, ia menyesap cangkir kopi miliknya sendiri. 

Tenda Kopi Bang Oskar, baru buka sehabis magrib. Meski Bang Oskar seorang non muslim, ia yakin pelanggan kopinya baru pada keluar setelah menjalankan solat magrib. Positif betul cara berpikir Bang Oskar, sama seperti positifnya kerumunan orang-orang yang biasa nongkrong di sana. Bang Oskar tak punya modal besar untuk menyewa tempat di ruko, ataupun pusat jajanan yang ramai pengunjung. Selain karena harga sewanya mahal, ia juga harus menyediakan anggaran untuk pungutan liar. Bang Oskar belum semerdeka itu, menyesuaikan anggaran modalnya. 

Tenda Kopi Bang Oskar di belakang Stasiun Gondangdia, kerap didatangi oleh kumpulan mahasiswa, karyawan toko, bahkan sekumpulan dosen honorer yang sekadar minum kopi pelepas penat. Menu yang disediakan pun cukup sederhana, kopi panas, teh panas, cokelat panas, mie instant berbagai rasa, pisang goreng serta roti bakar. Bekal cukup mampat untuk mengisi perut semalaman.

Pak Haris mengamen di sana setiap Rabu malam, dan nyaris setiap malam pelantang suara di sana diisi berbagai talenta. Mulai dari baca puisi dadakan, bedah buku, sampai panggung curhat politik.

Malam itu, di bawah terpal biru yang gemeletar kalau ditiup angin malam Jakarta, Bianglala menemukan tempat aman pertamanya setelah dua hari menjadi buronan dari rasa takutnya sendiri.

Pak Haris meletakkan cangkir kopinya yang mulai tandas. Kacamata tebalnya sedikit berembun terkena uap panas. Ia menatap mahasiswinya itu lamat-lamat. Di ruang kelas, Bianglala adalah mahasiswi yang selalu duduk di barisan tengah, mencatat dengan tekun, meski sering kali matanya merah menahan kantuk akibat kerja shift malam. Di sini, di bawah temaram lampu jalanan, anak itu terlihat tak lebih dari sekadar pejalan kaki yang kelelahan dihantam kerasnya ibu kota.

"Bapak... nggak malu ngamen di sini? Kalau ada mahasiswa yang lihat gimana?" tanya Bianglala tiba-tiba. Suaranya sudah tidak secanggung tadi, meski matanya masih bengkak. Rasa hangat dari susu cokelat dan pisang goreng perlahan mengembalikan sedikit warasnya.

Pak Haris terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat membumi. Ia mengusap badan gitarnya yang sudah lecet sana-sini.

"Malu itu kalau Bapak korupsi uang kencleng di masjid, La. Atau kalau Bapak ngasih nilai A buat anak dekan yang cabut melulu," jawab Pak Haris santai. "Gaji dosen honorer itu kayak kuntilanak.” 

Bianglala mengangkat alisnya, mulutnya penuh dengan pisang goreng yang sedang ia kunyah. “Kok, kuntilanak?”

“Kedengeran, tapi gak pernah keliatan,” tukas dosen lanjut usia itu lanjut tertawa.

“Ih, jangan sompral, Pak. Serem amat.”

“Gaji dosen honorer itu, nyatanya nggak cukup buat beli beras sekarung dan bayar cicilan motor. Di ruang kelas, Bapak ngajarin teori soal kemiskinan. Di jalanan ini... Bapak malah praktikin sekalian."

Lihat selengkapnya