Proyek Buku Besar

Foggy FF
Chapter #10

Pendidikan Kaum Mendang Mending

Lalu lintas Benhil sedang macet-macetnya, sampai kelokan Jalan Pencucian yang sempit itu ikut kena imbasnya. Matahari Jakarta nyaris berada di titik terpanasnya, ketika Bianglala dan Pak Haris belok memasuki mulut gang. 

Bianglala sengaja meminta sang dosen mengantarnya pulang menjelang siang. Dalam hitungan logikanya, jam sepuluh pagi adalah waktu paling aman. Rumah petak itu pasti kosong melompong. Rarajati pasti sedang mengajar, Ale di bank, dan Deanara sibuk kerja, mengetik laporan di tata usaha sekolahnya. Bianglala hanya ingin menyelinap masuk, mengemas sisa barang-barangnya yang tak banyak ke dalam ransel, lalu pergi tanpa harus menghadapi pertanyaan atau pandangan menghakimi dari ketiga seniornya.

Namun, realitas sering kali punya cara sendiri untuk mematahkan rencana orang tak punya.

Baru saja Bianglala mendorong pagar besi—yang entah kenapa siang itu malah berderit lebih nyaring, pintu depan kontrakan lekas terbuka lebar. Langkah Bianglala terhenti di pekarangan, jantungnya nyaris melompat keluar.

Di ambang pintu, Ale, Deanara, dan Rarajati berdiri mematung. Penampilan ketiga perempuan itu berantakan, wajah mereka bengkak seperti habis menangis dan nyaris tanpa seoles bedak pun. Seragam bank Ale lecek dan matanya bengkak. Rarajati masih mengenakan gamis yang sama dengan yag terakhir ia lihat, ujung khimarnya kusut. Sementara wajah Deanara pucat seperti kertas, dengan kantung mata legam menggantung di wajahnya. Mereka bertiga baru saja pulang dengan tangan kosong setelah dua hari satu malam menyisir jalanan ibu kota bagai orang gila.

Hening melatari, ketiga perempuan yang kini menatap Bianglala bak makhluk asing yang baru saja mendarat. Sebelum mata tajam Ale menangkap siluet seorang laki-laki paruh baya berkemeja flanel pudar, berdiri belakang Bianglala.

Emosi Ale, yang sudah terkuras habis oleh lelah fisik dan mental, tiba-tiba meledak. Ketakutannya selama dua hari ini, membentuk asumsi yang ia pungut dengan sembarangan.

"La! Lo dari mana aja, hah?!" sergah Ale, suaranya serak, membelah panasnya pekarangan. Ia melangkah maju. Matanya menukik tajam, menelanjangi Bianglala dan Pak Haris secara bergantian. "Gila ya lo! Kita nyariin lo sampai mau mati rasanya, dan lo... lo pulang sama siapa ini?! Gadun?!"

"Le, astaghfirullah—" Rarajati mencoba memotong, namun Ale sudah kadung kalap.

"Mbak! Liat ini, apa bedanya sama gue?" potong Ale, jarinya menunjuk ke arah Pak Haris tanpa tedeng aling-aling. Ia lalu menatap Bianglala dengan raut wajah penuh kecewa. "Lo saking frustrasinya ditagih pinjol sampai nekat ngegadein diri lo buat laki-laki hidung belang?! Lo jual badan lo demi uang, La?! Apa bedanya sama gue??”

Tuduhan itu menghantam Bianglala bak godam. Matanya terbelalak, kedua tangannya jatuh lunglai menahan bahunya yang melorot. Baru kemarin ia dituduh sebagai perempuan nakal oleh satpam taman, dan kini, tuduhan yang sama—dengan kata-kata yang jauh lebih menyakitkan—dimuntahkan oleh orang yang tinggal seatap dengannya.

Namun, sebelum Bianglala sempat membuka mulut untuk membela diri, Pak Haris justru melangkah maju. Gurat tenang mewarnai rautnya, ia tak marah ditunjuk-tunjuk oleh perempuan yang tak ia kenal. Ia bahkan tak tersinggung. Lelaki lanjut usia itu itu cuma tersenyum, ia berusaha memaklumi—lewat jam terbangnya memahami keruwetan kelas sosial di sekitarnya.

Lihat selengkapnya