Kipas angin butut berputar menderit, di langit-langit kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Melati Putih, yang berbau kertas apak dan kopi tubruk. Bianglala duduk di kursi besi dingin itu, menatap map merah di atas meja dengan perasaan membancuh. Di sebelahnya, Pak Haris duduk menemani, mencatat beberapa poin penting di buku saku kecilnya. Pak Haris memang tak datang hanya sekadar menemani Bianglala, insting pendidik dalam dirinya menggemuruh. Ia sadar, ini adalah cara sistem mengadukan pion dengan pion.
"Pinjaman online ilegal itu tidak memiliki legal standing, La. Sederhananya, secara hukum perdata, perjanjian kalian cacat sejak awal karena mereka tidak terdaftar di OJK," jelas pengacara muda berambut gondrong di hadapan mereka. Badannya tinggi besar, tapi matanya melembut menatap Bianglala. "Tapi ancaman, penyebaran data, dan teror psikologis yang mereka lakukan itu masuk ranah pidana. Kita akan bikin laporan ke kepolisian unit cyber dan mengirimkan somasi ke kantor mereka. Kamu nggak usah merasa sendirian lagi sekarang."
Bianglala mengangguk perlahan. Dadanya yang selama berhari-hari berasa dihimpit beban, kini mulai bisa meraup oksigen. Di ruangan sempit yang diisi orang-orang pembela masyarakat kecil—lewat kemampuan advokasi—itu, Bianglala akhirnya sadar, kalau teror mental yang diterimanya memang tak layak baginya. Ia cumalah sekrup kecil dalam sebuah mega sistem, namanya… kemiskinan struktural.
***
Jalan Pencucian yang serupa gang masuk satu mobil itu sunyi, karena matahari yang memanggang, bikin orang malas keliaran. Rumah Kos Ibu Haji, tampak lengang dari luar. Dua laki-laki berbadan gempal dengan jaket kulit kusam dan helm separuh wajah berdiri di teras. Salah satunya menggedor pintu dengan kepalan tangan, nyaris membuatnya jebol. Pagar besinya mereka tendang dengan brutal. Bunyi logam beradu membelah sepinya siang.
"Keluar lu, Bianglala! Utang tiga juta jadi enam juta, mau lu bawa kabur ke mana, hah?!" teriak laki-laki pertama, suaranya parau dan kasar.
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan sentakan keras. Memperlihatkan wajah Ale—yang meski bingung—ia tampak murka.
Ale berdiri tegak di ambang pintu, menyilangkan tangan di depan dada. Meski matanya masih sembap, sorot matanya kembali tajam. Ia tak pakai seragam banknya yang disetrika licin, cuma kaus oblong rumahan dan celana jeans robek di lutut. Di belakangnya, Deanara memegang gagang sapu erat-erat, wajahnya tegang, tapi staf TU itu tak memperlihatkan setitik pun niat mundur.
"Anaknya nggak ada. Kalau mau nagih, baca aturan!" bentak Ale tajam.
Preman itu meludah ke tanah, menatap Ale dengan remeh. "Halah, banyak bacot lu, Mbak! Bilangin ke temen lu, kalau hari ini nggak bayar, foto-foto telanjangnya bakal gue sebar ke semua kontak di HP-nya! Mau malu seumur hidup dia?!"
"Sebar aja kalau berani! Biar jejak digital kalian gampang dilacak sama Cyber Crime Mabes Polri," desis Ale bergeming. Pengalamannya bertahun-tahun di dunia perbankan membuatnya tahu persis kelemahan para penagih utang jalanan ini. "Kalian ini pinjol bodong, kan? Nggak ada surat tugas dari OJK, nggak ada legalitas. Kalian mau persekusi kita di sini? Silakan. Kita laporin pasal pemerasan dan ancaman penyebaran data pribadi. Pasal berlapis, Mas. Bos kalian yang duduk enak pake AC itu, nggak bakal mau bail out kalian dari penjara! Kalian tuh cuma kepajangan tangan tau gak, kalian bakal dikorbanin juga!"
Kedua penagih utang itu tertegun. Mereka terbiasa menghadapi korban yang menangis, memohon, atau lari ketakutan. Mereka tidak siap dihadapkan pada perempuan yang tahu celah hukum dan menatap mereka tanpa rasa takut. Apalagi raut Ale betulan terlihat paham dengan apa yang dibicarakannya.
"Kita ini sama-sama pion di kota ini, Mas," sambung Deanara dari belakang, suaranya gemetaran, tapi ia terdengar gemas. "Kalian itu disuruh meras orang miskin buat ngasih makan keluarga kalian. Kita juga di sini lagi mati-matian cari makan. Pion makan pion, buat nguntungin siapa? Mending kalian pergi sebelum warga sini bawa pentungan!"
Laki-laki itu mendecak kasar, mengumpat pelan menyadari gertakan mereka tidak mempan. "Awas lu semua. Urusan kita belum kelar," ancamnya setengah hati, lalu memutar balik motornya dan pergi menembus debu jalanan.